Anang Filya

Sunday, August 12, 2018

Pergulatan Batin, Pasang Iklan atau Nggak Pasang Iklan?



Di awal memulai blog ini pada tahun 2011, saya berpikir bisa mendapatkan penghasilan dari penayangan iklan Google Adsense –impian mainstream bloger awal-awal. Hingga akhirnya saya membuat beberapa artikel yang meraup cukup banyak viewers.

Sayangnya, berkat ketidakkonsistenan saya membuat konten, pengajuan Adsense pun selalu ditolak oleh Google. 

Mulailah saya merubah pola pikir, "udahlah nggak usah iklan-iklanan, bikin blog yang penting berfaedah, kalo berfaedah dan ngebantu orang lain, rejeki bisa dateng dari tempat lain kok".

Di sisi lain, saya melihat blog-blog yang Adsense-oriented itu nggak mempedulikan kenyamanan pembaca. Iklan sliweran di mana-mana, mau klik ini/itu malah muncul pop-up, kan ngeganggu gitu.

Padahal pembaca mengunjungi blog karena apa? Karena pengin nyari informasi, bukan nyari iklan. Mulailah saya nulis tanpa memikirkah tetek bengek periklan-iklanan.


"Namun, jiwa dalam diri ini ingin mengatakan sesuatu "apakah blog ini sudah layak untuk dilirik pengiklan, apakah sudah layak"

Dari situ, saya mulai rajin nulis blog, seminggu satu artikel. Artikelnya pun bebas, semau saya. Mau #CERPAEDAH, #TIDAKBERFAEDAH, atau #REVIEWBERFAEDAH, yang penting seminggu konsisten satu tulisan.

Hampir 9 minggu berlalu, saya akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar Adsense lagi. Tujuannya satu, pengin tau apakah blog ini sudah pantas dilirik pengiklan dan masuk ke standar Google.

Dan ternyata setelah menunggu 24 jam dari waktu pengajuan, terengtengteng berhasil!1!1!1!1!

Pengajuan Adsense untuk blog tercinta anangfilya.com berhasil. Sehingga semalam, saya mencoba mengutak-atik blog agar walaupun terdapat iklan di dalamnya, nggak sedikitpun mengganggu kenyamanan pembaca.Saya kekeuh, iklan jadi mengganggu kenyamanan kalau tidak di-organize dengan baik.

Intinya, walaupun blog ini sekarang sudah ada iklannya. Saya nggak bakalan bikin blog ini jadi seperti pager-pager di masa kampanye, banyak banget tempelan iklan dan promosinya. Bagi saya, inti dari blog ini adalah agar tetap berfaedah, yha tapi kalau ada teman-teman yang bersedia klik iklannya juga, saya nggak nolak, hehe.

Wednesday, August 8, 2018

Hidup Itu Mengalir atau Direncanain? #TIDAKBERFAEDAH


Sejak awal saya mulai berpikir tentang masa depan –kira-kira saat masa-masa memasuki SMK, saya terdoktrinasi oleh petuah-petuah motivator bahwa hidup dan masa depan itu harus terencana dengan baik atau istilah kerennya well-planned future.

Namun di sisi lain, I'm not the one who set the ambition to the highest level. Rencana yang saya susun, kalau kesampaian alhamdulillah, kalo nggak, ya paling sedih sebentar abis itu mikir lagi.

Mengapa saya jadi seseorang yang berprinsip seperti itu?

Mungkin ini penyebabnya...

Saya lahir di keluarga yang kadang ada duit, kadang nggak (keseringan nggaknya) nggak mau dibilang misqueen. Mulai dari masuk sekolah mana, TK-SD-SMP, saya cuma punya satu sekolah pilihan; sekolah-sekolah yang letaknya dekat dari rumah. Padahal dulu, guru-guru SD merekomendasikan saya untuk masuk SMP favorit berkat nilai rapor dan ujian nasional yang cukup oke dikala itu  tertinggi nomor 2 se-sekolahan, sombong nggak aqu?

Selain itu, saya nggak punya power yang cukup untuk membela diri. Toh, saya sadar kalau saya nggak mau memberatkan orang tua. Biaya sekolah dekat rumah yang nggak bagus-bagus amat aja sudah cukup berat, kok ini mau sok daftar di sekolah favorit, bergengsi, dan sebagian besar diisi anak-anak orang kaya.

Akhirnya, pola pikir saya mengikuti orang tua "sekolah di mana aja, kalo pinter mah pinter aja. Pilih yang deket biar nggak ngabisin ongkos, bisa naik sepedah". Hal tersebut membuat saya ogah untuk mengikuti teman-teman pintar dan cukup berduit yang berlomba-lomba masuk ke sekolah favorit.

Tapi saya bingung...

Pemikiran saya yang anti ambisius tingkat tinggi kadang membuat saya agak ciut. Hal tersebut berkat seringnya saya mendengar kalimat-kalimat dari motivator, 

"Orang sukses itu merencanakan masa depannya dengan baik dan melakukan yang terbaik" menghantui saya.

Lah tapi, saya orangnya kan nggak ambisius, jadi nggak mau juga terlalu merencanakan masa depan yang begini-begitu. Apa intinya saya nggak bakal sukses?


Amit-amit ya Allah...


Saat saya menginjak usia belasan, orang tua saya sudah mulai mengerti bahwa anaknya ini sudah mampu berpikir sendiri dan di sisi lain mereka sadar bahwa mereka bukan orang yang berpendidikan tinggi, nggak ngerti jurusan mana yang bagus buat anak. Sehingga saat saya lulus dari SMP, saya dibebaskan untuk memilih SMA/SMK semaunya. Memang sih mereka masih saja merekomendasikan SMA Negeri dekat rumah –yang cukup bagus– tapi saya kan cowok, pengen dong sekolah agak jauh biar punya pengalaman lebih.

Ketika saya memilih jurusan Teknik Komputer dan Jaringan pun, orang tua nggak komentar banyak. Saya senang mereka mulai percaya sama saya. Bahkan saya lumayan terharu saat Mamak mengorbankan duit warisan dari Nenek untuk membelikan saya laptop guna keperluan sekolah. Nangis~

Orang tua sudah memberikan kebebasan saya berpikir, saya juga sudah mulai bisa berencana saya mau kemana, namun anehnya saya nggak punya ambisi yang menggebu-gebu terhadap apa yang saya suka dan saya bisa. Contohnya momen sesaat setelah ujian nasional.

Saya melihat teman-teman se-SMK sibuk mengurusi pendaftaran perguruan tinggi favorit  sebagian besar Universitas Negeri. Sedangkan saya, setelah tahu lolos beasiswa di Universitas swasta di Jakarta Barat yang infonya dari kakak tingkat, saya udah nggak minat untuk ikut SBMPTN. Sudah daftar, dapat nomor ujian, namun di hari-H nggak jadi berangkat. Males~

Bahkan beberapa teman saya yang juga ikutan daftar beasiswa yang sama dan keterima, masih ngeyel untuk ikutan SBMPTN, karena katanya "yang penting negeri". Saya balik lagi, ah yang penting orangnya hehe.

Tapiiiii sebenernya, mahalnya ini itu di Jakarta itu bikin  saya dan orang tua parno plus ragu buat ambil beasiswa.  Penghasilan ortu yang nggak seberapa dan nggak jelas, bikin orang tua saya kepalang pusing bukan main –ini anak gue mo makan apaan di Jakarta.

Sekali lagi, saya nggak mau bikin orang tua kesulitan gegara saya ngeyel kuliah di Jakarta. Tapi, saya juga ogah nggak kuliah –kalo mau kerja, mo kerja apaan gue, nyisirin pala berbie?


Realita oh realita

Jadinya, saya tetep ambil beasiswa di Jakarta –kapan lagi coy ngerasain idup di kota gede– walaupun dengan rasa ketar-ketir. Harapnya, saya harus bisa kuliah nyambi kerja, terus di Jakarta bisa ikut audisi Indonesian Idol dkk. Terus terkenal.

What Indonesian Idol?

He'em... Selama bertahun-tahun sejak SD hanya bisa melihat Indonesian Idol dkk di layar televisi, berpikir bahwa mungkin ajang pencarian bakat tersebut kemungkinan adalah jalan saya menjadi seorang musisi. Ikut audisi idol-idolan adalah cita-cita saya sedari kecil.

Sayangnya, harapan yang sudah saya rencanakan bertahun-tahun; menunggu waktu memberi kesempatan, dan ketika kesempatan datang, ternyata keberhasilan bukan punya saya.

Ketika saya punya rencana yang sejak lama diimpikan, bertahun-tahun mikirin, eh mental dalam kurun waktu sehari audisi.

Emang nggak punya rencana lain? Satu rencana gagal aja udah kecewa, cemen!

Jadi musisi adalah cita-cita terfokus saya pada awalnya. Bisa dibilang selain jadi musisi dulu saya bingung mau jadi apa. Tapi saya juga nggak usaha abis-abisan buat menggapainya, pemikirannya cuma ikut idol itu doang. Ya hasilnya begitu.

Sekarang gimana?

Saat ini saya masih jadi orang yang sama. Bukan berarti karena saya gagal terkenal ikut Indonesian Idol, terus saya merasa kalau berencana itu sia-sia, bukan. Tapi lebih kepada satu prinsip yang rasa-rasanya memang sudah pas untuk diri ini.

Banyak hal baik datang tanpa terduga dan terencana. Saya nggak pernah kepikiran dan merencanakan untuk bisa kuliah, apalagi hidup di Jakarta, ditambah dapet beasiswa. Nggak, saya nggak pernah nyangka.

Saya nggak pernah nyangka dan merencanakan bisa jadi salah satu bagian dibalik iklan-iklan TV yang dulu saya benci setengah mati itu–ngeganggu nonton sinetron . Nggak kepikiran untuk bakalan seneng ngeblog. Nggak, saya nggak kepikiran.

Tapi, saya juga nggak akan berhenti untuk berencana. Walau untuk kali ini, orientasinya adalah masa sekarang. Tidak akan ngoyo untuk sesuatu yang belum pasti di depan. Sebab saya percaya, apa yang saya perbuat saat ini, baik atau buruk, akan berdampak di masa yang akan datang. Hidup adalah sebuah sistem sirkuler.



Thursday, August 2, 2018

The Complexity of Human Default


Sumber: Instagram @anangfilya

Semalam, setelah menonton satu episode Breaking Bad di situs layanan video streaming 'Netflix', saya bersama satu-satunya sahabat gendut sejak SMK –sebut saja namanya Aziz, ngobrolin banyak hal tentang hidup. Mulai dari skala prioritas, uang, kebahagiaan, dan yang paling ngena adalah ketika ngobrolin tentang kerumitan settingan default emosi manusia. Yup, We were little bit philosophical that night.

Aziz (dan juga saya) berpikir bahwa ada orang-orang yang lahir dimuka bumi cuma buat ngeramein doang, dan itu banyak. Mereka yang lahir hanya untuk memikirkan diri sendiri, tidak menghargai orang lain, dan berpikir bahwa eksistensinya dalam hidup adalah yang paling penting dibandingkan yang lain adalah orang-orang yang kami maksud.

Sedangkan kami? Kami hanya berharap –serta mengklaim secara sepihak–  nggak masuk ke dalam golongan orang-orang tersebut.

Saya pribadi, sebenarnya selalu bertanya-tanya akan hal tersebut. Apakah saya lebih baik daripada orang-orang yang saya tidak suka tersebut? Atau malah sebenarnya, saya adalah salah satu bagian dari golongan tim hore bumi?

Ya, bahkan saya nggak tahu di mana letak diri saya sendiri dari golongan yang saya buat, miris!

Namun, cerita Aziz yang saat ini sedang sibuk menjadi driver ojol menyadarkan saya akan satu hal. Simak dulu ceritanya.


Cerita dimulai...

Saat itu, Aziz sedang beroperasi di sekitaran Taman Anggrek –salah satu mall gede di Jakarta Barat– mendapati notifikasi di ponselnya bahwa ada order masuk. Ia terima orderan tersebut dan dengan sigap berhenti sejenak untuk memencet template pesan "I'll be there in few minutes"  di layar aplikasi.

Nah, karena si Aziz ini sering kurang teliti, tanpa membaca lokasi penjemputan secara seksama, ia langsung bertanya ke penumpang yang saat itu wanita via fitur chat.

Aziz: "Halo mbak, lokasi penjemputan, di mana ya?"
Cust: "Hah?" (agak jutek)
Aziz: "Maksud saya, titik pasnya mbak, pintu sebelah mana?"
Cust: "Kan itu ada mas di detail lokasi, saya di Metro Taman Anggrek"
Aziz: "Oh iya mbak, siap saya menuju ke sana"
Cust: "Kamu pake jaket kan? Nomor plat sesuai kan?"
Aziz: "Iya mbak"

Kemudian sampailah Aziz di titik penjemputan. Dengan rona wajah tersenyum khas dirinya, Aziz menyapa penumpangnya "Maaf Mbak kalau tadi saya nggak teliti", namun yang ia dapat hanya balasan berupa pandangan mata yang seakan memberikan arti "halah bodo amat".

Di sini Aziz mulai berpikir bahwa penumpangnya yang satu ini adalah salah satu golongan orang-orang tukang ngeramein bumi karena kejutekannya. Namun dikarenakan Aziz merupakan anak kuliahan jurusan Public Relation, ia tertantang untuk mencairkan suasana dengan memberikan beberapa pertanyaan dengan nada suara ramah khas dirinya.


"Weekend-nya gimana Mbak seru kah?", saat itu hari Sabtu.
"Ini jalan ke rumah atau kost mbak?"
"bla-bla-bla-bla"

Di pertanyaan-pertanyaan awal, si Mbaknya masih jutek; jawab seadanya. Namun berkat kegigihan Aziz yang tetap ramah sampai pertanyaan-pertanyaan ketiga dan keempat, si Mbaknya mungkin berpikir "Ini Abang Grab udah dijutekin kok masih aja ramah banget sih, keknya gue salah deh jutekin dia tadi".

Obrolan ringan mengakrabkan pun terjadi. Aziz merasa dirinya berhasil meluluhkan hati si Mbak tukang ngeramein bumi ini. Setidaknya dia tahu, dia nggak akan dapat bintang kecil di rating aplikasi ojolnya.

Hingga saat mereka sampai di tempat tujuan, Aziz kembali meminta maaf dan mengucapkan terimakasih.

Aziz: "Terimakasih ya Mbak, maaf tadi saya kurang teliti baca tujuannya"

Cust"Oh Mas nggak apa-apa kok, oh ya ini mas ada lebihan buat mas", si Mbak membalas

Aziz: "Tapi kan Mbak udah pake Grabpay"

Cust: "Udah nggak apa-apa, saya masuk dulu ya mas, terimakasih"

Saya Sadar...

Dari cerita sederhana dari Aziz di atas saya sadar bahwa saya terlalu sering menggeneralisasi sesuatu; menarik kesimpulan secara umum dari gabungan pengalaman pribadi. Apa yang saya pikirkan tentang manusia-manusia tukang ngeramein bumi; golongan yang saya pikir ada tersebut sebenarnya hanya pengklasifikasian otak akan sesuatu yang saya nggak suka.

Saya memang nggak suka sama manusia-manusia yang nggak bisa menempatkan diri, jutek setiap saat sama orang lain, karena saya selalu berpikir "Apa susahnya sih berlaku baik". Saya berpendapat, orang lain harusnya juga berpikiran seperti halnya saya punya pemikiran. Namun kembali lagi, itu adalah kesalahan logika karena saya nggak bisa memaksakan orang lain untuk jadi seperti saya.

Sekarang, saya hanya perlu berperilaku seperti apa yang saya inginkan dan saya ingin membiarkan orang lain berperilaku sesuai diri mereka, sesuai pemikirannya. Saya nggak bisa menetapkan mana yang paling baik dan mana yang paling benar, bias antara dua hal tersebut menetapkan diri saya untuk teguh dengan apa yang saya yakini, dan harapnya orang lain bisa mencontoh tanpa keharusan.







Sunday, July 29, 2018

Ya Tuhan Mengapa Ngeblog di Wordpress Rasanya Nyaman #TIDAKBERFAEDAH



Masih kuat di ingatan ketika di masa SMP, Pak Guru mata pelajaran TIK (Teknik Informatika) memberikan tugas untuk membuat blog; Blogger adalah platform yang saya pilih karena saya pikir punya Google pasti yang terbaik. Mencari cara dan tutorial di warnet –warung internet masih jadi primadona kala itu– saya akhirnya membuat blog ini –dulu alamatnya grupceriwis.blogspot.com.

Jangan ditanya apa isi blognya, bisa dibayangin anak SMP bisa apa coba, intinya dulu yang penting seneng aja bisa eksis di internet. Yahud~

Nah, akhir-akhir ini –dua semester kuliah– saya seringkali mendapatkan tugas yang mengharuskan saya menggunakan platform Wordpress. Sebel dong, sudah punya blog yang kadang diurus kadang nggak ini bertahun-tahun, tapi sekalinya ada tugas, saya harus ngurusin blog dari awal, 'kan ribet.

Saya pikir, Blogger jelas lebih bagus dan gampang masuk dalam jelajah mesin telusur karena Blogger milik Google. Pemikiran tersebut yang membuat saya males pakai Wordpress. Tapi eh tapi, semakin ke sini, Wordpress kok bikin saya nyaman yah? Kenapatu?

Interface bikin nyaman

Contoh nyata yang pertama adalah interface blog post yang nyamaan banget; white, clean, simple dan WYSWYG (What You See is What You Get). Bandingin sama Blogger yang dari awal saya bikin di tahun 2010 sampai sekarang, gitu-gitu aja. Blogger nggak jelek sih, hanya saja Wordpress ini menawarkan tampilan yang jauh lebih oke dan kekinian menurut saya. 


Template blog yang bikin ngiler

Saya sadar template Blogger bawaan beberapa tahun ini telah dimodifikasi dan hasilnya cukup bagus, namun apabila dibandingkan dengan Wordpress, yha masih jauh. Seringkali template-template minimalis nan bagus yang tersedia secara gratis itu hanya tersedia untuk Wordpress.

Untung saja ada web designer asal Arab yang memberikan template minimalis –yang saya gunakan saat ini– secara cuma-cuma. Walaupun yha gitu, saya masih harus utak-atik untuk menyesuaikan dengan preferensi pribadi. Kalau Wordpress tuh udah bagus by default gitu.



Atur sana-sini lebih gampang

Untuk memodifikasi beberapa tampilan di blog, saya harus berurusan dengan kode-kode html yang saya nggak paham. Di Wordpress, hampir semua menu untuk kustomisasi tampilan dan beberapa pengaturan esensial tersedia. Contohnya saya nggak perlu berurusan dengan kode-kode html kalau mau menambahkan widget medsos, sudah ada pengaturannya dan hasilnya bagus.

Sayangnya...

Memang nggak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Fitur-fitur yang oke, tampilan yang nyaman, dan fleksibilitas dari Wordpress itu ada harganya; dan cukup mahal untuk ditebus. Misalnya, untuk berganti-ganti template pihak ketiga yang tidak disediakan Wordpress, saya harus berlangganan paket Premium Account. Begitu juga apabila saya mau pasang iklan, harus berlangganan paket akun yang sama. 

Bukan apa-apa, walaupun saat ini saya belum memasang iklan di blog ini, namun sape tau khan blog ini makin banyak pengunjung, saya bisa pasang iklan, dapet penghasilan; makin semangat ngeblog. 

Intinya, mungkin dalam waktu dekat saya belum akan pindah platform blog. Walaupun Wordpress menawarkan banyak hal yang saya inginkan. Apalagi Blogger juga sudah bertahun-tahun, walau kadang bikin nggak nyaman. Mungkin, karena sudah terlalu lama bersama, agak sulit jadinya untuk ninggalin. Jadi, harapan selanjutnya, semoga pengembang Blogger bisa membuat platform blog Google ini sebagus Wordpress. Itu aja~

Friday, July 20, 2018

Seminggu Bareng Chromebook, Nyaman? #REVIEWBERFAEDAH





Berkat laptop saya satu-satunya -Surface Pro 2- nggak bisa di-charge; muncul tulisan "Plugged in, not charging". Padahal saya udah beli charger 2 kali, pertama kw seharga Rp350 ribu dan yang kedua ori Rp500 ribu; semuanya rusak!

Padahal skripsi dan kerjaan banyak banget, pusing dong. Akhirnya nekat nyari laptop murah di Tokopedia dan nemu Chromebook besutan Acer, seri Chromebook 11 CB-131 seharga Rp1,8 juta. Pesen, kirim pake Grab Send, sore sampe indekos.

Nah, hari ini adalah tepat seminggu saya menggunakan Acer Chromebook 11 CB-131 sebagai daily driver. Lalu, apa enaknya sih pake laptop yang isinya cuma peramban Google Chrome? Emang bisa produktif? Emang nyaman? Enakan mana sama pake laptop berbasis Windows?

Untuk menjawab pertanyaan tadi, yuks mari kita bahas...

Laptop Isinya Cuma Google Chrome, Bisa Apa?


Keputusan saya beli Chromebook nggak lain dan nggak bukan karena kesadaran saya yang makin hari makin melekat dengan ekosistem Google. Yang dibuka pertama setelah laptop nyala apa? Ya Google Chrome. Intinya, saya hidup di ekosistem Google yang super fleksibel. 

Contohnya, mau ngerjain tugas, lebih enak di Google Docs karena nggak perlu was-was kalau lupa simpen hasil revisi ada fitur auto-save to cloud storage shay. Nyimpen catetan di Google Keep, unggah file di Google Drive, kebutuhan kirim-kirim e-mail, nge-blog, pokoknya semuanya sudah bisa dilakukan lewat peramban Google Chrome. Asyiknya, apapun yang saya kerjakan di laptop, akan tersinkronisasi secara otomatis ke aplikasi Google yang ada di ponsel, praktis banget kan?

Jadi bagi saya, Chromebook ini udah cukup oke untuk mengerjakan 90% kebutuhan akan kerjaan iseng saya.


Terus 10%-nya gimana dong?

Bagi saya, 10% pekerjaan saya itu mencakup perangkat lunak pengolah foto dan grafis Adobe Photoshop dan kadang Adobe Premiere juga perlu untuk edit video. Adobe Photoshop menjadi tempat ternyaman saya untuk edit-edit foto dan keperluan desain grafis untuk dipajang di blog dan mengerjakan tugas-tugas kampus.

Sayangnya, Chromebook nggak bakal bisa ngejalanin software sekompleks Adobe Photoshop dan Premiere, karena Chromebook diciptakan untuk web-based apps yang ditujukan bagi pekerjaan-pekerjaan komputasi ringan. Tapi di luar kebutuhan edit foto dan video tersebut, Chromebook tetep reliable untuk banyak kebutuhan masa kini buat saya.



Emang Bisa Produktif?



Gimane caranye bisa produktif pake Google Chrome doang?


Produktif soal apa nih? Saya sendiri, sebagai mahasiswa dan barusan jadi freelance copywriter, kebutuhannya sebagian besar emang ngetik-ngetik. Pemikiran saya dulu "There's no word processing software better than Microsoft Office Word" dan sampe sekarang saya juga masih berpikir hal yang sama kok. 

Lah kan Chromebook nggak bisa pasang MS Word? Adanya Google Docs? Emang Google Docs udah bisa nyaingin MS Word?

Google Docs menurut saya juga belum bisa sebagus Microsoft Office Word dalam berbagai hal, mulai dari interface-nya MS Word jelas lebih familiar dipandangan serta lebih intuitif, fitur-fitur yang lebih komplit dan kompatibilitasnya komputer mana coba yang nggak ada MS Word. Intinya, MS Word tuh udah jadi top of mind sebagai perangkat lunak buat ngetik-ngetik.

Awal-awal emang kerasa nggak nyaman dan perlu adaptasi dengan fitur-fitur di Google Docs, bahkan kadang ngerasa kalo Google Docs ini terasa terlalu simple. Namun semakin lama saya pake Google Doc, saya juga ngerasa bahwa sebenarnya saya nggak terlalu perlu fitur MS Word yang bejibun, bahkan bisa dibilang mubazir. Akhirnya, Google Docs bikin saya belajar hidup minimalis dan makin belajar hal baru, nyari tips trik ngakalin keterbatasan fiturnya.


Di sisi lain, Google Docs itu totally free, jadi nggak perlu repot-repot cari activator macem mau ngebajak aktivasi MS Office. Ih dosa tau~

Loh kan ada Microsoft Office versi online? Gratis juga kok?

Nggak tau deh, mungkin karena ini laptopnya Google, jadi rasa-rasanya pakai Google Docs lebih nyaman dibanding Microsoft Office Online. Terkadang saya merasa kalau mengakses Microsoft Office Online di Chromebook agak lemot dan berat. Hmm... aneh.


Baca Juga:

Sudah Halalkah Komputermu? #TIDAKBERFAEDAH

Hidup Tanpa Bajakan Bisa? #CERPAEDAH

REVIEW SURFACE PRO 2 #REVIEWBERFAEDAH



Emang Nyaman? Nyaman Mana Sama Laptop Windows?


Windows itu kayak rumah orang tua, sedangkan Google Chrome itu kayak kamar pribadi kita. Rumah itu nyaman karena ada banyak hal yang sangat akrab dengan diri kita. Sedangkan kamar pribadi adalah bagian dari rumah yang paling sering kita tempatin. Nah masalahnya, ketika Google Chrome dijadikan sistem operasi, berarti secara nggak langsung kayak kamar pribadi yang pisah dari rumah; jadi kamar indekos. Sempit sih, nggak seluas rumah ortu tapi kalau kita pinter ngakalin space-nya, pasti juga bisa bikin betah dan nyaman. 

Chromebook, memang nggak bakal bisa nyaingin fleksibilitas yang ditawarkan oleh laptop berbasis Windows. Mau bakal ada Play Store, saya masih pesimis kalau mobile apps berbasis Android bisa nyaingin fitur-fitur software tulen untuk computer operating system. Kayak butuh waktu yang panjaaaaang banget untuk Adobe Photoshop versi Android untuk bisa menyaingi versi penuh Adobe Photoshop Windows or Mac. Contohnya gitu.

Di lain sisi, saya suka pakai Chromebook karena beberapa hal, yang bisa dibilang cukup teknis. Misalnya...

Baterai awet

Acer Chromebook CB-131 milik saya ini dibekali baterai berjenis Li-Ion 3220 mAh. Ukuran yang standar banget, bahkan kalau dilihat-lihat lebih kecil dibandingkan baterai hape Xiaomi yang beberapa tipe kapasitasnya mencapai 4000 mAh.

Walaupun begitu, saya cukup terkesan dengan daya tahan baterai laptop ini. Untuk pemakaian yang cukup intens (ngetik, yutuban, buka tab lebih dari 5), baterari Acer Chromebook CB-131 berhasil bertahan hingga 8 jam lebih. Mantul kan?

Performa lumayan oke

Apa coba yang bisa diharapkan dari laptop Windows dengan prosesor Intel Celeron N2840 Dual-Core Processor plus RAM 2GB? Kalo nggak banyak lag, paling malah bikin stress. Tapi lain halnya dengan Chromebook CB-131 ini. Dengan spesifikasi yang cupu, saya ngerasa performanya cukup oke walaupun nggak sempurna. Jarang lag, hanya saja kalau untuk nonton video YouTube resolusi 1080p, Chromebook ini agak ngos-ngosan. Seenggaknya, masih nyaman untuk keperluan casual, itu udah lebih dari cukup. Inget shay, ini leppy harganya cuma 1,8 jutaan.

Booting super cepat

Menurut saya, Windows 10 cukup oke dalam hal kecepatan booting. Dari kondisi mati hingga masuk ke sistem operasi, saya kira laptop berbasis Windows 10 plus SSD mampu menempuh waktu kurang dari 1 menit. Itu udah cepet banget dibandingkan dulu saat saya masih memakai Windows 7 lamaa banget dah bisa kali buat nyambi naek haji.

Gimana dengan Chromebook?

Huih, lebih cepat lagi. Dari kondisi mati hingga masuk ke layar log in, Acer Chromebook CB-131 hanya memerlukan waktu kurang dari 30 detik dah kek pake Macbook khan? Mantul dah.

Hmmm...

Intinya, saya nyaman dengan kesederhanaan dari Chromebook. I never thought Chromebook would be this powerful for my needs. Dulu saya berpikir bahwa mubazir banget beli laptop cuma buat internetan. Namun sekarang kondisinya lain, hampir semua kebutuhan kerja kita bisa dilakukan di internet.

Saya yakin, Chromebook ini nggak buat semua orang, desainer grafis contohnya mau desain pake ape doi?. Namun bagi orang-orang yang kebutuhannya mirip-mirip saya; ngetik-ngetik, internetan, atau yutuban, Chromebook is more than enough

Oh ya, untuk ulasan lebih detail dan teknis dari Acer Chromebook CB-131 mungkin akan saya buatkan artikel terpisah. So, jangan bosan-bosan, hehe.


Wednesday, July 11, 2018

Ngebutnya Bikin X-Card Jenius! #REVIEWBERFAEDAH


Sudah setahun sejak saya membuat akun Jenius di booth ITC Roxy Mas –yang nggak sempet diulas di blog, saya merasa kalau Jenius ini bikin hidup saya makin mudah. Lha gimana, bisa tarik tunai gratis di ATM bank manapun, transfer apa-apa gratis  –top up go-pay dan belanja online makin asyique, ditambah saya bisa ngapain aja lewat aplikasi di smartphone. Pokoknya Jenius bikin saya lupa sejenak terhadap akun-akun bank saya yang lain.

Lagi-lagi berkat kegabutan tiada tara dan iseng yang merajalela, saya mencoba membuat x-card atau kartu debit tambahan selain debit utama Jenius (m-card). Fungsi x-card ini kalau dilihat dari penjelasan laman web jenius.co.id "dapat dimanfaatkan untuk mengatur kebutuhan istimewa yang bebas kamu tentukan sendiri. Kamu bisa menggunakan x-Card untuk hangout, belanja bulanan, biaya tranportasi, dll. Selain dipakai sendiri, kamu dapat memberikan x-Card ke sosok yang dipercaya."

Misalnya, kita udah punya satu kartu utama (m-card) Jenius yang isinya uang gajian dan pundi-pundi rupiah lainnya. Nah tapi pengin punya kartu debit lain untuk kebutuhan jajan, belanja harian atau malah untuk diberikan ke orang tua atau anak. X-card ini jadi solusinya. Oh ya, kita bisa bikin maksimal 3 x-card buat keperluan yang beda-beda loh.

Bikin x-Card

Back to the topic, saya mencoba request x-card lewat aplikasi Jenius di Jumat malam (29/08). Prosesnya gampang banget! Tinggal buka app > masuk ke menu Card Center > pilih Kartu Baru > pilih warna kartu (saya pilih warna ungu biar unyu), nama kartu dan jumlah setoran awal > masukkan alamat pengiriman > buat kartu baru. Simple kan?

Proses membuat x-Card Jenius



Saya pikir, karena request x-card di hari Jumat, malem pula. Mungkin permintaan saya bakal dilayani di hari Senin, dan karena di laman web tercantum estimasi waktu proses pembuatan x-Card adalah 2 s/d 3 hari. Mungkin saya baru bisa terima kartu x-Card warna ungu unyu saya di hari Rabu atau Kamis.

Ternyata Eh Ternyata...

Senin, 2 Juli 2018 sehabis jam makan siang, saya dapat notifikasi panggilan tak terjawab dari nomor asing "wah syapa nich, jangan-jangan mo nipu aqu dengan modus kode kupon Torabika lagi," pikir saya. Tetiba nomor asing tersebut nelpon lagi, sontak jiwa baik dan tidak sombong saya lantas mengangkat telepon agar mengetahui siapakah gerangan asing yang menelpon ini.

"Halo dengan Pak Anang?" (Waw, aqu dipanggil Pak)
"Iya, ini siapa ya?" balas saya,
"Saya Mas (lupa namanya) dari Jenius mau nganterin paket, kosannya yang pager ijo kan?" 

Woowww, katanya 2 s/d 3 hari kerja, tapi ini kok Senin udah sampe. Apakah Sabtu dan Minggu adalah hari kerja bagi Jenius? Hmm... membingungkan. Tapi berkat saya yang masih di kantor –that was the first day I went to office as a freelancer– akhirnya saya bilang ke Mas Jenius untuk menitipkannya di salah satu teman saya yang pintu kamarnya terbuka.

"Tapi nggak ada yang kebuka kamarnya mas, saya selipin di pintu kamar yang samping kamar mandi ya" Masnya mengabari via Whatsapp sembari mengirimkan foto.

"Oh, iya mas nggak apa-apa, taruh situ aja," balas saya

Di taruh di selipan pintu dong... asyique



Saya sih nggak masalah, soalnya indekos tempat saya tinggal nggak ada yang kleptomania dan ketika saya sampai di kamar indekos pukul 8 malam, saya cek di selipan pintu kamar, eh masih aman sentosa di tempatnya.

Langsung buka dan waww... ungu memang nice, anti-mainstream banget. Walaupun ini bukan kartu utama, tapi nggak tau saya seneng aja bisa dapet kartu debit unyu. Walaupun nggak tahu fungsinya buat apa. Tapi saya tetep coba aktifkan kartu via aplikasi dengan memasukkan nomor kartu dan cvv-nya. Langsung aktif.




Overall, saya puas banget dengan pelayanan Jenius. Harap-harapnya sih, kalaupun nanti Jenius ini sudah semakin banyak pengguna, pelayanannya semoga tetap jos dan cepat tanggap seperti saat ini. Semua fitur esensial yang ada di aplikasi Jenius pun nggak ada yang mubazir. Intinya memudahkan hidup yang sulit ini lah hehe. Satu lagi harapan saya, semoga top up saldo Jenius bisa via cash lewat booth atau merchant kerjasama yang lebih banyak lagi. Uhuy~




Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.