Anang Filya: Go-Pay: Harapan Indonesia Menuju Cashless Society #TidakBerfaedah

Senin, 26 Maret 2018

Go-Pay: Harapan Indonesia Menuju Cashless Society #TidakBerfaedah

Go-Pay Cashless
Source: freepik.com

Saya ini adalah salah satu orang yang mendambakan Indonesia bisa jadi negara yang mengimplementasikan pembayaran non-tunai secara masal. Melihat negara-negara maju sudah bisa menggunakan ponsel sebagai alat pembayaran, tinggal tap-tip-tup,  saya cuma bisa ngiri dan ngebatin “kapan Indonesia bisa begitu, nggak repot-repot sama recehan”.

Tapi beberapa tahun belakangan ini, saya bisa agak senyum-senyum melihat beberapa provider uang elektronik sudah mulai muncul di pasaran. Mulai dari bank (BCA Sakuku, Mandiri E-cash, BNI Yap! dll), operator telekomunikasi (Telkomsel dengan T-Cash, Indosat dengan Dompetku (yang sekarang berubah nama menjadi PayPro), XL Tunai), sampai dengan provider lain seperti OVO, DOKU, Go-Pay dari Go-Jek, Uangku, dan masih banyak lagi.

Sayangnya sampai sekarang, saya belum merasakan aplikasi-aplikasi dompet/uang elektronik tersebut belum dapat dimanfaatkan fungsinya secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Karena sebagian besar aplikasi e-money masih berkutat dengan ekosistemnya masing-masing dan masih menjangkau merchant yang berskala besar, kalau mau ke warung, yah harus pake recehan lagi.

E-money favorit saya saat ini sih masih Go-Pay. Selain sebagai salah satu e-money yang paling populer (berkat Go-Jek tentunya), saya merasa melakukan transaksi dengan Go-Pay terasa lebih natural gitu, dan implementasinya dalam ekosistem Go-Jek rasanya sudah cukup baik. Namun itu sebenarnya juga kekurangan menurut saya, karena ya sekali lagi, Go-Pay saat ini hanya dapat digunakan untuk transaksi dengan layanan-layanan Go-Jek. Andai saja, kalau Go-Pay ini fungsinya diperluas, contohnya bisa untuk bayar belanjaan di Indomaret atau Alfamart, ah saya sih yakin, Go-Pay bisa memimpin pasar uang elektronik.

Kok Kamu Mikir Kayak Gitu Nang?


Go-Jek Udah Populer Duluan

Nama besar Go-Jek otomatis membuat Go-Pay sebagai salah satu fitur didalamnya juga menjadi populer. Dan dengan kepopuleran Go-Jek tersebut, membuat Go-Pay selangkah lebih maju dibanding e-money lain dari segi awareness. Sebut saja OVO, DOKU, dan T-Cash, Sakuku, contoh brand e-money terbesar saat ini, bukankah masih lebih familiar Go-Pay-nya Go-Jek dibanding mereka?

Strategi Go-Jek untuk menggaet penggunanya menggunakan metode pembayaran cashless yang mereka luncurkan pada 2016 ini juga bukan perkara mudah. Di awal-awal, saya sendiri merasa kalau lebih enak bayar cash, “ngapain coba ribet-ribet top up”, tapi berkat iming-iming harga yang lebih murah dan promo dimana-mana, toh akhirnya saya tergoda untuk mencoba. Dan setelah mencoba akhirnya saya tahu, “ini toh rasanya hidup cashless, praktis ya”. Go-Pay membuat saya setia dengan Go-Jek dan ogah pindah kelain ojol, dan saya rasa teman-teman juga merasa seperti itu. Walaupun mau bayar via tunai atau Go-Pay, sekarang nggak beda-beda amat, pokoknya Go-Jek is lyfe.

Go-Pay Bukan Bank, Bukan Pula Operator Seluler

Go-Pay ya punyanya Go-Jek. Nggak ribet, nggak perlu ke bank buat daftar. Go-Pay tidak punya sekat-sekat harus pakai bank ini, harus pake kartu seluler itu. Toh walaupun Go-Jek sedang bekerja sama dengan Bank BCA untuk memperluas jangkauan Go-Pay, Go-Pay tetap punyanya Go-Jek.

Sedangkan e-money lain seringkali terikat dengan sekat-sekat brand besar yang menaungi mereka. Contohnya, ketika kamu mendengar nama BCA Sakuku dan Mandiri E-cash, bisa jadi yang terlintas di pikiran adalah “yah, nggak punya rekening BCA dan Mandiri, daftarnya pasti harus di bank kan”. Atau mendengar T-Cash, “yah, kartu gue Indosat, nggak bisa pake T-Cash dong”. Bahkan PayPro sekalipun yang walaupun bisa digunakan lintas operator, berkat branding yang dilakukan oleh Indosat, seakan-akan PayPro ini eksklusif hanya untuk pengguna kartu seluler yang identik dengan warna kuning tersebut.

Loh, OVO, DOKU, UANGKU, kagak ada embel-embel Bank atau Operatornya, apa bedanya?

Seperti yang tadi sudah saya bilang, awareness Go-Pay yang lebih tinggi di masyarakat awam.


Hmm…

Kabak baiknya, Februari lalu Nadien Makarim mengkonfirmasi telah bekerja sama dengan Bank BCA untuk memperluas jangkauan Go-Pay dengan mitra pihak ketiga. Go-Jek sudah berhasil rebranding ojek yang tadinya merupakan mode transportasi kelas bawah yang dipandang sebelah mata menjadi salah satu mode transportasi kekinian yang praktis dan tech-savvy. Go-Jek juga berhasil mengalihkan opang-opang menjadi bagian dari armada mereka. Lalu, akankan Go-Jek  dengan Go-Pay-nya mampu mengubah sistem pembayaran kita yang kolot ini, akankah Go-Jek dengan Go-Pay-nya mampu membawa warung-warung samping rumah menjadi go digital, akankan mereka mampu membawa kita menuju cashless society? We’ll see, not for a long time.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

My Instagram

Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.