Anang Filya

Friday, July 20, 2018

Seminggu Bareng Chromebook, Nyaman? #REVIEWBERFAEDAH





Berkat laptop saya satu-satunya -Surface Pro 2- nggak bisa di-charge; muncul tulisan "Plugged in, not charging". Padahal saya udah beli charger 2 kali, pertama kw seharga Rp350 ribu dan yang kedua ori Rp500 ribu; semuanya rusak!

Padahal skripsi dan kerjaan banyak banget, pusing dong. Akhirnya nekat nyari laptop murah di Tokopedia dan nemu Chromebook besutan Acer, seri Chromebook 11 CB-131 seharga Rp1,8 juta. Pesen, kirim pake Grab Send, sore sampe indekos.

Nah, hari ini adalah tepat seminggu saya menggunakan Acer Chromebook 11 CB-131 sebagai daily driver. Lalu, apa enaknya sih pake laptop yang isinya cuma peramban Google Chrome? Emang bisa produktif? Emang nyaman? Enakan mana sama pake laptop berbasis Windows?

Untuk menjawab pertanyaan tadi, yuks mari kita bahas...

Laptop Isinya Cuma Google Chrome, Bisa Apa?


Keputusan saya beli Chromebook nggak lain dan nggak bukan karena kesadaran saya yang makin hari makin melekat dengan ekosistem Google. Yang dibuka pertama setelah laptop nyala apa? Ya Google Chrome. Intinya, saya hidup di ekosistem Google yang super fleksibel. 

Contohnya, mau ngerjain tugas, lebih enak di Google Docs karena nggak perlu was-was kalau lupa simpen hasil revisi udah auto-save to cloud storage shay. Nyimpen catetan di Google Keep, unggah file di Google Drive, kebutuhan kirim-kirim e-mail, nge-blog, pokoknya semuanya sudah bisa dilakukan lewat peramban Google Chrome. Asyiknya, apapun yang saya kerjakan di laptop, akan tersinkronisasi secara otomatis ke aplikasi Google yang ada di ponsel, praktis banget kan?

Jadi bagi saya, Chromebook ini sudah cukup oke untuk mengerjakan 90% kebutuhan akan kerjaan iseng saya.


Terus 10%-nya gimana dong?

Bagi saya, 10% pekerjaan saya itu mencakup perangkat lunak pengolah foto dan grafis Adobe Photoshop dan kadang Adobe Premiere juga perlu untuk edit video. Adobe Photoshop menjadi tempat ternyaman saya untuk edit-edit foto dan keperluan desain grafis untuk dipajang di blog dan mengerjakan tugas-tugas kampus.

Sayangnya, Chromebook nggak bakal bisa ngejalanin software sekompleks Adobe Photoshop dan Premiere, karena Chromebook diciptakan untuk web-based apps yang ditujukan untuk aplikasi-aplikasi berbasis web yang ditujukan bagi pekerjaan-pekerjaan komputasi ringan. Tapi di luar kebutuhan edit foto dan video tersebut, Chromebook tetep reliable untuk banyak kebutuhan masa kini buat saya.



Emang Bisa Produktif?



Gimane caranye bisa produktif pake Google Chrome doang?


Produktif soal apa nih? Saya sendiri, sebagai mahasiswa dan barusan jadi freelance copywriter, kebutuhannya sebagian besar emang ngetik-ngetik. Dan dulu bagi saya "There's no word processing software better than Microsoft Office Word" dan sampe sekarang saya juga masih berpikir hal yang sama kok. 

Lah kan Chromebook nggak bisa pasang MS Word? Adanya Google Docs? Emang Google Docs udah bisa nyaingin MS Word?

Google Docs menurut saya juga belum bisa sebagus Microsoft Office Word dalam berbagai hal, mulai dari interface-nya MS Word jelas lebih familiar dipandangan serta lebih intuitif, fitur-fitur yang lebih komplit dan kompatibilitasnya komputer mana coba yang nggak ada MS Word. Intinya, MS Word tuh udah jadi top of mind sebagai perangkat lunak buat ngetik-ngetik.

Awal-awal emang kerasa nggak nyaman dan perlu adaptasi dengan fitur-fitur di Google Docs, bahkan kadang ngerasa kalo Google Docs ini terasa terlalu simple. Namun semakin lama saya pake Google Doc, saya juga ngerasa bahwa sebenrnya saya nggak terlalu perlu fitur MS Word yang bejibun, bahkan bisa dibilang mubazir. Akhirnya, Google Docs bikin saya belajar hidup minimalis dan makin belajar hal baru, nyari tips trik ngakalin keterbatasan fiturnya.


Di sisi lain, Google Docs itu totally free, jadi nggak perlu repot-repot cari activator macem mau ngebajak aktivasi MS Office. Ih dosa tau~


Baca Juga:

Sudah Halalkah Komputermu? #TIDAKBERFAEDAH

Hidup Tanpa Bajakan Bisa? #CERPAEDAH

REVIEW SURFACE PRO 2 #REVIEWBERFAEDAH



Emang Nyaman? Nyaman Mana Sama Laptop Windows?


Windows itu udah kayak rumah orang tua, sedangkan Google Chrome itu kayak kamar pribadi kita. Rumah itu nyaman karena ada banyak hal yang sudah sangat akrab dengan diri kita. Sedangkan kamar pribadi adalah bagian dari rumah yang paling sering kita tempatin. Nah masalahnya, ketika Google Chrome dijadikan sistem operasi, berarti secara nggak langsung kayak kamar pribadi yang pisah dari rumah; jadi kamar indekos. Sempit sih, nggak seluas rumah ortu tapi kalau kita pinter ngakalin space-nya, pasti juga bisa bikin betah dan nyaman. 

Chromebook, memang nggak bakal bisa nyaingin fleksibilitas yang ditawarkan oleh laptop berbasis Windows. Mau bakal ada Play Store, saya masih pesimis kalau mobile apps berbasis Android bisa nyaingin fitur-fitur software tulen untuk computer operating system. Kayak butuh waktu yang panjaaaaang banget untuk Adobe Photoshop versi Android untuk bisa menyaingi versi penuh Adobe Photoshop Windows or Mac. Contohnya gitu.

Di lain sisi, saya suka pakai Chromebook karena beberapa hal, yang bisa dibilang cukup teknis. Misalnya...

Baterai awet

Acer Chromebook CB-131 milik saya ini dibekali baterai berjenis Li-Ion 3220 mAh. Ukuran yang standar banget, bahkan kalau dilihat-lihat lebih kecil dibandingkan baterai hape Xiaomi yang beberapa tipe sudah mencapai 4000 mAh.

Walaupun begitu, saya cukup terkesan dengan daya tahan baterai laptop ini. Untuk pemakaian yang cukup intens (ngetik, yutuban, buka tab lebih dari 5), Acer Chromebook CB-131 berhasil bertahan hingga 8 jam lebih.

Performa lumayan oke

Apa coba yang bisa diharapkan dari laptop Windows dengan prosesor Intel Celeron N2840 Dual-Core Processor plus RAM 2GB? Kalo nggak banyak lag, paling malah bikin stress. Tapi lain halnya dengan Chromebook CB-131 ini. Dengan spesifikasi yang cupu, saya ngerasa performanya cukup oke walaupun nggak sempurna. Jarang lag, hanya saja kalau untuk nonton video YouTube resolusi 1080p, Chromebook ini agak ngos-ngosan. Seenggaknya, masih nyaman untuk keperluan casual, itu udah lebih dari cukup. Inget shay, ini leppy harganya cuma 1,8 jutaan.

Booting super cepat

Menurut saya, Windows 10 sudah cukup oke dalam hal kecepatan booting. Dari kondisi mati hingga masuk ke sistem operasi, saya kira laptop berbasis Windows 10 plus SSD mampu menempuh waktu kurang dari 1 menit. Itu udah cepet banget dibandingkan dulu saat saya masih memakai Windows 7 lamaa banget dah bisa kali buat nyambi naek haji.

Gimana dengan Chromebook?

Huih, lebih cepat lagi. Dari kondisi mati hingga masuk ke layar log in, Acer Chromebook CB-131 hanya memerlukan waktu kurang dari 30 detik dah kek pake Macbook khan? Mantul dah.

Hmmm...

Intinya, saya nyaman dengan kesederhanaan dari Chromebook. I never thought Chromebook will be this powerfull for my needs. Dulu saya berpikir bahwa mubazir banget beli laptop cuma buat interne. Namun sekarang kondisinya lain, hampir semua kebutuhan kerja kita bisa dilakukan di internet.

Saya yakin, Chromebook ini nggak buat semua orang, desainer grafis contohnya mau desain pake ape doi?. Namun bagi orang-orang yang kebutuhannya mirip-mirip saya; ngetik-ngetik, internetan, atau yutuban, Chromebook is more than enough

Oh ya, untuk ulasan lebih detail dan teknis dari Acer Chromebook CB-131 mungkin akan saya buatkan artikel terpisah. So, jangan bosan-bosan, hehe.


Wednesday, July 11, 2018

Ngebutnya Bikin X-Card Jenius! #REVIEWBERFAEDAH


Sudah setahun sejak saya membuat akun Jenius di booth ITC Roxy Mas –yang nggak sempet diulas di blog, saya merasa kalau Jenius ini bikin hidup saya makin mudah. Lha gimana, bisa tarik tunai gratis di ATM bank manapun, transfer apa-apa gratis  –top up go-pay dan belanja online makin asyique, ditambah saya bisa ngapain aja lewat aplikasi di smartphone. Pokoknya Jenius bikin saya lupa sejenak terhadap akun-akun bank saya yang lain.

Lagi-lagi berkat kegabutan tiada tara dan iseng yang merajalela, saya mencoba membuat x-card atau kartu debit tambahan selain debit utama Jenius (m-card). Fungsi x-card ini kalau dilihat dari penjelasan laman web jenius.co.id "dapat dimanfaatkan untuk mengatur kebutuhan istimewa yang bebas kamu tentukan sendiri. Kamu bisa menggunakan x-Card untuk hangout, belanja bulanan, biaya tranportasi, dll. Selain dipakai sendiri, kamu dapat memberikan x-Card ke sosok yang dipercaya."

Misalnya, kita udah punya satu kartu utama (m-card) Jenius yang isinya uang gajian dan pundi-pundi rupiah lainnya. Nah tapi pengin punya kartu debit lain untuk kebutuhan jajan, belanja harian atau malah untuk diberikan ke orang tua atau anak. X-card ini jadi solusinya. Oh ya, kita bisa bikin maksimal 3 x-card buat keperluan yang beda-beda loh.

Bikin x-Card

Back to the topic, saya mencoba request x-card lewat aplikasi Jenius di Jumat malam (29/08). Prosesnya gampang banget! Tinggal buka app > masuk ke menu Card Center > pilih Kartu Baru > pilih warna kartu (saya pilih warna ungu biar unyu), nama kartu dan jumlah setoran awal > masukkan alamat pengiriman > buat kartu baru. Simple kan?

Proses membuat x-Card Jenius



Saya pikir, karena request x-card di hari Jumat, malem pula. Mungkin permintaan saya bakal dilayani di hari Senin, dan karena di laman web tercantum estimasi waktu proses pembuatan x-Card adalah 2 s/d 3 hari. Mungkin saya baru bisa terima kartu x-Card warna ungu unyu saya di hari Rabu atau Kamis.

Ternyata Eh Ternyata...

Senin, 2 Juli 2018 sehabis jam makan siang, saya dapat notifikasi panggilan tak terjawab dari nomor asing "wah syapa nich, jangan-jangan mo nipu aqu dengan modus kode kupon Torabika lagi," pikir saya. Tetiba nomor asing tersebut nelpon lagi, sontak jiwa baik dan tidak sombong saya lantas mengangkat telepon agar mengetahui siapakah gerangan asing yang menelpon ini.

"Halo dengan Pak Anang?" (Waw, aqu dipanggil Pak)
"Iya, ini siapa ya?" balas saya,
"Saya Mas (lupa namanya) dari Jenius mau nganterin paket, kosannya yang pager ijo kan?" 

Woowww, katanya 2 s/d 3 hari kerja, tapi ini kok Senin udah sampe. Apakah Sabtu dan Minggu adalah hari kerja bagi Jenius? Hmm... membingungkan. Tapi berkat saya yang masih di kantor –that was the first day I went to office as a freelancer– akhirnya saya bilang ke Mas Jenius untuk menitipkannya di salah satu teman saya yang pintu kamarnya terbuka.

"Tapi nggak ada yang kebuka kamarnya mas, saya selipin di pintu kamar yang samping kamar mandi ya" Masnya mengabari via Whatsapp sembari mengirimkan foto.

"Oh, iya mas nggak apa-apa, taruh situ aja," balas saya

Di taruh di selipan pintu dong... asyique



Saya sih nggak masalah, soalnya indekos tempat saya tinggal nggak ada yang kleptomania dan ketika saya sampai di kamar indekos pukul 8 malam, saya cek di selipan pintu kamar, eh masih aman sentosa di tempatnya.

Langsung buka dan waww... ungu memang nice, anti-mainstream banget. Walaupun ini bukan kartu utama, tapi nggak tau saya seneng aja bisa dapet kartu debit unyu. Walaupun nggak tahu fungsinya buat apa. Tapi saya tetep coba aktifkan kartu via aplikasi dengan memasukkan nomor kartu dan cvv-nya. Langsung aktif.




Overall, saya puas banget dengan pelayanan Jenius. Harap-harapnya sih, kalaupun nanti Jenius ini sudah semakin banyak pengguna, pelayanannya semoga tetap jos dan cepat tanggap seperti saat ini. Semua fitur esensial yang ada di aplikasi Jenius pun nggak ada yang mubazir. Intinya memudahkan hidup yang sulit ini lah hehe. Satu lagi harapan saya, semoga top up saldo Jenius bisa via cash lewat booth atau merchant kerjasama yang lebih banyak lagi. Uhuy~




Sunday, July 8, 2018

Asyique-nya Jadi Asisten Museum MACAN #CERPAEDAH


Lebih kurang dua bulan ini, weekend saya isi dengan menjadi part-time asisten Museum MACAN. Berawal dari iseng cari-cari kerja tambahan dan buka website www.museummacan.org/career; eh ternyata ada lowongan, apply dan alhamdulillah keterima. Walaupun motif utama saya pada awalnya hanya sekadar cari duit tambahan, ternyata terdapat banyak ke-asyique-an dalam dua bulan terakhir ini. Apa saja?


Ketemu Banyak Orang yang Beda-Beda

Pameran kedua dari Museum MACAN yang bertajuk “Yayoi Kusama: Life is The Heart of a Rainbow” merekrut kurang lebih 140 orang sebagai asisten museum (selanjutnya bakal saya tulis asmus). Tugas asmus itu nggak sulit-sulit banget kok. Kita hanya harus menjaga karya seni dari tangan-tangan usil biar nggak rusak, melayani pertanyaan pengunjung, intinya membuat pengunjung nyaman menjelajah museum.

Bayangan saya, program ini bakal seperti program relawan-relawan yang lain; merekrut orang-orang dengan  latar belakang yang sama –yang emang suka dengan art, manusia-manusia estetik, ya pokoknya yang begitulah. Contohnya program volunteer  Java Jazz yang sepenglihatan saya kebanyakan beranggotakan anak-anak kekinian pecinta musik.

Tapi eh tapi ternyata nggak gitu. Seratus empat puluh orang yang saya temui sebagai asmus, semuanya beda-beda. Ada yang background-nya ekonomi, ada yang komunikasi, ada yang masih SMA, ada yang anak kuliah, bahkan ada yang sudah S2; Bhinneka Tunggal Ika joss. Hal ini ternyata emang dikonfirmasi oleh Geraldine Shoko (HRD Museum MACAN), kata kakak cantik ini dia sengaja memilih orang-orang dengan latar belakang yang beda karena dia yakin, orang yang berbeda dari dirinya bisa melakukan sesuatu yang nggak bisa dia lakukan. Gitude~

Seni Itu Dinikmati

Sebelum saya jadi asmus, pikiran saya Museum MACAN itu cuma tempat foto estetik. Sebagai manusia biasa, normal, dan tampan tanpa cela, saya nggak kepikiran gimana caranya menikmati sebuah karya seni;  intinya foto.

Dan di sini saya ngerti, menikmati karya seni itu nggak harus dilakukan dengan unggah instastory. Dengan nggak nyentuh (yang artinya nggak ngerusak), memandangnya dari jauh, percaya deh karya seni bakal puluhan kali lebih asyique kecantikannya. 

Tapi kan bebas yak, mau ada yang menikmati seni dengan liat-liat doang oke; mau yang foto-foto juga, okelah; intinya tergantung preferensi pribadi. Yang penting jangan sentuh, ngerusak, dan mengganggu kenyamanan –plis shay, itu harga karya seni bisa buat naek haji sekecamatan, jan macem-macem.

Belajar Sabar Tingkat Tinggi

Sebagai manusia yang emosian, bekerja sebagai asmus membuat saya untuk belajar jadi manusia baik. Murah senyum, bicara sopan dan halus, serta ganteng. Sebagai museum yang sering jadi ’spot foto asyique’ dan tempat untuk menikmati karya seni kontemporer seniman kelas dunia, jumlah pengunjung Museum MACAN nggak bisa dibilang sedikit –kalo weekend masyaAllah deh ramenya. Dari ratusan sampai ribuan pengunjung, jelas dong karakternya juga ratusan dan ribuan jenisnya. Ada yang sabar dan ramah, ada yang sewot plus jutek, ada yang jutek tapi sabar, ada yang sewot tapi ramah, ~eh.

Intinya attitude pengunjung nggak bisa digeneralisasi lewat tampilan, status sosial, dan hape apa yang dia pegang. Mau merek Evercoss kalau emang penyabar dan penyayang, ya tetap bakal begitu. Mau pakai iPhone X pake case bling-bling kalau sewot ya sewot aja. Intinya, karena karakter ribuan pengunjung nggak bisa diprediksi dan nggak mungkin juga cepat beradaptasi dengan peraturan MACAN, ya para asmus-lah yang menyesuaikan diri. Inget, harus senyum, ramah, dan baique.

Benefit Lumayan

Last but not least, pasti teman-teman penasaran dengan benefit apa saja yang diberikan oleh Museum MACAN sebagai ‘bayaran’ bagi tenaga asmus.

Pertama, uang saku. Jelas dong, alih-alih memberi nama volunteer atau relawan yang berbau-bau gratisan, Museum MACAN lebih suka menamai karyawan tidak tetapnya dengan nama “Asisten Museum” yang artinya pasti ada benefit berupa duit – I love duit.

Rinciannya sendiri, benefit duit ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu berupa uang makan dan uang transportasi –untuk yang pengin tau nominalnya, bisa hubungi saya hehe (nggak enak ngomongin duit di sini). Sistem pembayarannya untuk saat ini, dihitung berdasarkan shift kerja –1 hari kerja terdapat 2 shift— yang diambil hingga tanggal 24 setiap bulan, serta pembayaran gaji akan dilakukan di awal bulan selanjutnya. Kalau rajin dan banyak waktu luang, benefit yang diberikan Museum MACAN worth it kok.

Selain itu, terdapat benefit lain yang menjadi amunisi kerja, yaitu seragam berupa kaos bertuliskan “Ask Me”, pin, dan nametag.

Itu pin sama nametag penting banget emang yak?”

Pin dan nametag akan berfungsi sebagai tiket gratis bagi teman-teman asmus saat tidak sedang mengambil shift kerja. Contohnya, jadwal kerja saya adalah hari Sabtu dan Minggu. Apabila saya ingin mengunjungi Museum MACAN sebagai visitor di hari-hari biasa (weekdays), tinggal bawa pin dan nametag, urusan selesai; masuk Museum gratis.. tis.. tis.


Kaos dan pin Asisten Museum MACAN



Hmmm...

Intinya, saya senang bisa berada di bagian orang-orang yang mengapresiasi karya orang lain. Misi Museum MACAN untuk memberikan edukasi seni kepada masyarakat luas itu cucok banget. Contohnya, dateng ke museum nggak sekedar foto tapi juga belajar menghargai karya lewat mata; tahu aturan-aturan yang ada dan nggak ngeyel kalau diingetin; pokoknya hal-hal baik yang masih asing dari perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Though it might take a long time to make it happen, saya tetep percaya misi itu bisa kecapai, dan saya bisa berbangga karena menjadi salah satu bagian dari perubahan baik tersebut. Cie~

Dibuang sayang 1

Dibuang sayang 2



Saturday, June 30, 2018

Betah Nggak Betah Pake iPhone #TIDAKBERFAEDAH




Sebagai pengguna ponsel pintar berbasis Android sejak 2013, saya menganggap memiliki produk-produk besutan Apple adalah sebuah kemewahan. Pokoknya ngelihat orang pake iPhone mau versi jadul juga tetep… ah keren , mahal, mewah, fancy, pokoknya suka banget lah sama kemevvahan.

Apalagi dulu zaman masih SMK, boro-boro beli iPhone; mau beli Nutrisari aja duitnya sayang; mending Marimas, lebih murah –Nutrisari 2 rebu, Marimas 500— sisanya  nggak jauh beda cuma bikin tenggorokan seret doang.

Dasar misqueen.

Namun setelah kuliah, ikut lomba, kerja dan bosan berkutat dengan ponsel-ponsel keluaran Tiongkok (padahal iPhone juga diproduksi di sana), untuk memenuhi rasa penasaran; akhir 2017 lalu saya coba-coba beli iPhone 5S garansi iBox –second masih sisa garansi tentunya.

Belum genap setahun, tepatnya April 2018, ponsel saya raib dicopet preman Pelabuhan Merak dan saat ini senior magang saya alhamdulillah juga baiknya nggak ketulungan meminjami saya iPhone 6 lama miliknya –hape barunye udah iPhone X mau gimana dong?

Sehingga kira-kira sudah hampir  6 bulan atau setengah tahun saya sudah menggunakan iDevice yang terkenal buat kalangan horang kayah tersebut –walaupun sekarang mau misqueen juga banyak aja pake iPhone dapet dari Batam. Lalu kira-kira nyaman nggak sih pakai iPhone bagi saya sobat misqueen dan is it true that iPhone is better than Android? Mana yang bikin saya paling betah?


Apa sih yang bisa bikin saya betah sama ponsel pintar?

Syarat sebuah ponsel yang bisa bikin saya betah itu nggak susah.

Pertama, kamera harus bagus. Saya nggak punya kamera digital, jadi satu-satunya alat menangkap gambar untuk kebutuhan ke-estetique-an Instagram dan foto-foto di blog ya cuma hape.

Kedua, performanya oke. Saya bukan gamer, hape dipake tiap hari cuma buat browsing, media sosial (Instagram dan Twitter), dan foto-foto. Jadi performa  yang saya maksud nggak harus didefinisikan dengan spesifikasi yang tinggi. Pokoknya yang penting pada daily usage, nggak ada lag yang parah gitu.

Ketiga, desain nggak norak plus nggak ribet. Desain yang dimaksud di sini nggak cuma sekadar desain body ponselnya, tapi juga desain user interface. Intinya, simple dan minimalis plus dalam pemakaian nggak perlu utak-atik berlebihan, nggak ribet, karena saya adalah orang yang lebih suka settingan defaultintinya males.



Yang bikin betah di iPhone

Dari tiga standard ponsel yang bikin betah, apakah iPhone ini memenuhi 3 kriteria? Hmm… jawabannya hampir shay hampir.

Oke, di bagian pertama, kamera. Siapalah yang nggak tahu kualitas kamera dari ponsel pinter besutan Apple ini. Hampir tiap tahun rilis, kamera iPhone selalu jadi jawara. Nggak cuma buat ambil gambar, rekam video juga kualitasnya eghmm.. poll kualitasnya. Standar Apple akan kualitas kameranya emang nggak main-main. Nggak perlu gembar-gembor spesifikasi secara teknis, pamer resolusi gede; intinya kalo kamera iPhone, yaudahlah jelas kualitasnya mahal.


Emang Android nggak ada yang kameranya bagus? Hah!

Ada dong, banyak. Namun dengan banyaknya produsen ponsel  beserta tipe-tipenya –mulai dari pabrikan Amerika, Cina, sampai lokal yang juga masih diproduksi di Cina—akan sulit untuk membuat standar ‘bagusnya’ kamera di Android.

Kedua, performa iPhone ini saya rasa joss. Bayangin, saya sekarang pake iPhone 6 yang dirilis tahun 2014, berarti saya pake ponsel yang umurnya sudah 4 tahun. Walaupun memang nggak sengebut di saat pertama rilis, performa iPhone 6 masih dapat saya katakan oke. Namun beda versi jelas beda kondisi dong. Empat bulan pakai iPhone 5s yang dikombinasikan dengan iOS 11, saya stress. Itu hape jadi luemoottt. Tapi ya itungannya hengpon jadul, ya jangan protes; heh, ini ipon loh.


Emang Android nggak ngebut?

Wih jelas ngebut banget, saya dulu pake Xiaomi Mi Note generasi pertama yang tergolong mantan flagship juga ngebut, padahal ponsel tersebut dirilis pada tahun 2014 barengan sama iPhone 6. Hanya saja, ketika ingin membeli sebuah ponsel Android, artinya kita harus memikirkan “eh RAM-nya berapa?, Prosesornya qualcomm snapdragon kan? layarnya gimana?”; orientasi terhadap spesifikasi jadi salah satu fokus utama. Sedangkan iPhone? Mana penggunanya peduli kalau iPhone 6 RAM yang tersemat di mainboard-nya hanya 1 GB.



Ketiga, desainnya. Pastinya kita tau ponsel antek-antek aseng itu sering banget nyontek desain iPhone. Mulai dari desain body sampe ke user interface –Lihat aja Oppo, Vivo, Xiaomi; niru semua. Dengan menjunjung tinggi keminimalisan, ponsel yang di desain di California ini emang cantiknya nggak bisa dibantah. Untuk user interface ala iOS, saya jatuh cinta. Bagi saya, tampilan yang disajikan di layar iPhone memang udah oke banget dari segi estetika. Teratur, rapih, dan yang paling penting… saya nggak perlu ribet utak-atik sana-sini, emang dari orok udah bagus.


Emang Android Kenapa?

Ya nggak kenapa-kenapa. Masalah estetika memang subyektif banget. Tapi bagi saya, user interface di ponsel Android yang bikin nyaman cuma dua. Google Launcher yang ada di Android One dan MIUI-nya Xiaomi. Saya pilih dua itu karena simple, nggak perlu utak-atik, karena bagi saya setting-an default juga udah oke.


Lho, kok semuanya keknya oke-oke aja di iPon? Bagian nggak betahnya mana??!!


Sabar dong ihh.



Nggak betahnya pakai iPhone


Tiga standard ponsel yang bikin betah tadi belum sepenuhnya dipenuhi oleh iPhone. Karena satu hal, iPhone ini relatif nggak fleksibel, alias ribet.

Gimana ya, perangkat komputer jinjing yang saya gunakan itu berbasis Windows, dan saya juga pengguna lama Android. Sudah dipastikan saya hidup dalam ekosistem Google yang super fleksibel. Pernah pengin pindah ke ekosistem Microsoft tetep nggak bisa. Udah deh, Google dengan Drive, Gmail, Keep, dan lain-lain itu udah mantep banget.

Sedangkan iPhone, nggak apa-apa juga sih kalau kita mau pake ekosistem Google. Toh semua aplikasi Google tersedia di Appstore. Cuman eh cuman, make fitur Google di produk Apple itu kayak bikin es Milo tapi aernya kebanyakan; nggak mantips. Contohnya nih, ketika kita pakai Android, sekali log in pake akun GMail, yaudah semuanya bakal tersinkronisasi otomatis.  Kalau di iOS, ya ampun, mengunduh satu aplikasi Google, berarti ya tetep harus log in satu-satu. Google udah baik-baik ngasih semua fitur ke Apple, tapi lha kok masih ribet yak?


Keknya Google sama Apple kurang akrab deh, ngobrol napa ngobrol, biar ini pengguna-pengguna lu pada nyaman?



Dan lagi, saya juga agak kesulitan ketika ingin transfer file dari ponsel ke laptop. Kalau di Android, yaudah sih pake bluetooth bisa; pake kabel USB juga bisa; mau pake aplikasi pihak ketiga semacam ShareIt juga oke; intinya fleksibel.

Kalau di iOS, jangan harap bisa pake bluetooth –ini fitur cuma buat koneksi ke peripheral semacan bluetooth earphone atau wireless keyboard di iOS—pake aplikasi third party kayak ShareIt aja kadang bisa kadang nggak. Pakai kabel data bawaan juga harus install iTunes, lagi nggak semua file bisa ditransfer ke laptop dan sebaliknya.

Intinya, paham minimalis dan ekslusifnya Apple memang terimplementasi dengan amat nyata. Saking nyatanya sampe bikin ribet.

Tapi mau sampai kapan pun juga, Google itu empunya Android. Kalau mau optimal berada di ekosistem Google, ya pakai Android. Sedangkan Apple, selama masih kekeh dengan paham eksklusifitasnya, yaudah produk Apple akan tetap optimal dengan ekosistem Apple; artinya kita harus punya produk Apple yang lain, misal Macbook. Mahal cyin.


Intinya…


Ketidakbetahan saya menggunakan iPhone bukan karena iPhone jelek, bukan! Melainkan itu adalah kekurangan dari diri saya yang belum mampu masuk lebih dalam ke ekosistem Apple. Bagi saya analoginya begini, iPhone itu seperti fancy hotel; oke saya nyaman dengan semua fasilitas yang terstandardisasi dengan baik, serta kemewahan yang ditawarkan. Hanya saja, hotel ya hotel, saya bakal pergi cepat atau lambat berkat itu bukan punya saya. Saya juga nggak bisa seenaknya jumpalitan atau obrak-abrik sesuka hati, sekali lagi hotelnya bukan punya saya.

Sedangkan Android, itu kayak kamar indekos. Iya sempit, kadang kelihatan murah, nggak mewah. Tapi di dalamnya, saya bisa bebas ngapain aja. Jumpalitan, ngobrak-abrik lemari, buang apa aja sana-sini. Ya karena ini rumah saya, punya saya. Kamar indekos saya mungkin nggak akan menawarkan standard yang sama kayak hotel, mau dikasih spring bed yang puluhan juta juga. Hanya saja, di sini saya bebas mengeksplorasi. Gitu….



Wednesday, June 13, 2018

Cerita Mudik Asyique 2018 #CERPAEDAH





Apabila mudik lebaran tahun-tahun sebelumnya DAMRI jurusan Gambir – Metro adalah transportasi pilihan untuk mengarungi daratan dan lautan. Sekarang lain cerita. Saya nggak kedapetan tiket, lagi mau gaya-gayaan naik pesawat tapi budget sekarat. Alhasil, mudik via 'ngeteng' jadi pilihan.


Ngeteng atau mutus-mutus atau ngecer atau apalah sebutan lainnya itu berarti mengendarai transportasi umum yang berbeda secara sambung menyambung (bus – kapal laut – bus – sampe).


Bagi saya, ngeteng ini jadi metode pulang kampung paling murah dan paling fleksibel. Mau berangkat jam berape aje juga oke. Tapi itu di hari-hari normal.


Kalau di momen mepet lebaran begini, aduh imajinasi saya akan mudik lebaran ngeteng kok agak serem ya. Maklum, terakhir kali saya ngeteng (April 2018), saya kecopetan; ponsel saya raib oleh orang-orang yang sering maksa nawarin ojek di Pelabuhan Merak. Di seret-seret, dipaksa jawab pertanyaan dia "Weh, mau kemanaa!!!", dan jawab pertanyaan nggak penting lain; ternyata, mereka modus untuk mencyopet say. Terdzolimi aqu.


Saya emang lengah, tapi mereka-mereka yang maksa nanya "Mo kemana" ini bikin saya berpikir.


"Bus segede gaban itu kan ada tulisannye mo kemane. Jurusannye kemane. Kenapa coba orang-orang ini maksa nanya saya kemana, kalo kaga dijawab nyolot, kadang malah marah. Mungkin mereka kira ay kaga bisa baca kali ye".


Kalau di hari biasa saja sudah cukup mengganggu, lah apalagi pas masa ribet mudik lebaran begini, pikir saya. Belum lagi, kalau ngeteng, saya nggak bisa milih bus, yang ada aja pokoknya. Kalau bagus ya alhamdulillah, kalau jelek kayak kaleng kerupuk dikasih mesin juga, yaudahlah terima aja daripada lama. Beda lah kalau dibandingin dengan bus DAMRI yang terstandarisasi.


Ya tapi apa mau dikata, tiket habis daripada nggak bisa pulang ya mending ngeteng dong. Berangkat sehabis solat subuh dari tol Kebon Jeruk ke arah Merak dengan bus Asli Prima yang harganya tiba-tiba naik menjadi Rp 50 ribu (harga normal Rp 35 ribu), ternyata jalanan nggak macet loh. Perjalanan hanya memakan waktu dua jam, langsung sampe di Pelabuhan Merak pukul 07.30 WIB.

Pas turun dari bus, saya sudah siap-siap. "Pokoknya jangan sampe hape gue ilang lagi", gumam saya. Saya amanin itu hape, nggak mau tahu pokoknya saya nggak bakal ngerespon orang-orang nyolot itu.


Namun anehnya, sesaat setelah kaki saya benar-benar nempel di tanah Banten. "Loh kok, nggak ada orang-orang aneh itu? Hmm.. mencurigakan. Oh mungkin mereka masih tidur, kan ini masih pagi, capek kali semalem abis nyopet dapet banyak, sekarang udah kaya", saya suudzon.


Sampai di loket pembelian tiket, kok ini Pelabuhan lebih tenang ya daripada hari biasa? padahal lumayan rame loh. Hingga saya menaiki kapal dan turun di Pelabuhan Bakauheni – yang biasanya tingkat keresehan manusia-manusianya lebih parah dari Pelabuhan Merak – ini kok masih nggak ada yang reseh-reseh ngegeret saya kesana-kemari ya?


Jangan-jangan mereka udah insyaf?


Ternyata Eh Ternyata…

Terdapat bapak-bapak polisi ganteng yang mengamankan titik rawan mudik lebaran toh. Jadi mereka-mereka yang hobby nanya-nanya maksa ini cuma bisa nawarin jasa travel atau ojek dari kejauhan. Takut kali ye sama bapak polisi yang bawa senapan gitu, aw. Alih-alih nanya maksa seperti hari normal, mereka hanya membawa kertas bertuliskan jurusan bus atau travel atau ojek. Nah kalau begini, saya ngelihatnya kok lebih elegan ya.


Andaikan Oh Andaikan…

Andaikan oh andaikan ngeteng bisa senyaman ini di hari biasa, saya nggak bakal mau lagi kayaknya naik DAMRI. Bayangin nih, dengan estimasi biaya dari Kebon Jeruk ke Metro, Lampung Rp 100 ribu – Rp 125 ribu berbanding DAMRI yang harga tiketnya Rp 175 ribu (hari normal) dan Rp 215 ribu (mudik lebaran), saya sih mending ngeteng. Nggak apa-apa deh jalan kaki dikit dari terminal ke Pelabuhan atau dapet bus agak jelek, yang penting nggak ada para penanya paksa itu, saya ngerasa nyaman dan lebih aman.


Semoga saja, pihak pelabuhan bisa memberikan regulasi tambahan terkait hal ini. Para penjaja jasa transportasi ini nggak boleh menawarkan jasanya secara memaksa, ada tempatnya tersendiri, dan selalu ada pihak berwajib yang mengawasi, nggak pas mau lebaran aja. Kalau gitu, pasti para pemudik ngetengan ini bakal lebih merasa nyaman dan aman. Yah ini sih andai-andai aja.


Oh ya, by the way saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H bagi teman-teman pembaca. Semoga puasa sebulan ini bisa diterima pahalanya oleh Allah SWT, dosya-dosya kita diampuni -padahal teraweh aja jarang lo nang, dan yang penting rezeki nambah lagi hehe. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Friday, June 8, 2018

Sudah Halalkah Komputermu? #TIDAKBERFAEDAH




Gincu udah halal, jilbab udah halal, sampai kulkas pun halal, pokoknya masalah kehalalan kini bukan cuma sekadar urusan syariat agama, tapi juga bahan jualan buat beberapa merek.

Sisi bagusnya, kita bisa semakin aware terhadap produk yang kita konsumsi. Dan lagi, nambah pengetahuan kalau yang harus halal itu bukan cuma produk kategori F&B, tapi juga semua produk yang melekat pada diri.

Sisi jeleknya, berkat persepsi kita sedari awal tentang halal hanya milik produk makanan, membuat produk-produk bersertifikasi halal diluar kategori itu dicap sebagai embel-embel jualan semata, akhirnya jadi guyonan.

Tapi saya juga nggak bisa menyalahkan hal tersebut, karena ya saya termasuk orang-orang yang bikin guyonan terkait halal-halalan hehe. Alasannya, karena saya merasa kalau embel-embel halal ini diletakkan pada sesuatu yang terkesan nggak masuk akal.

Kalau produk hijab atau kosmetik masih dirasa cukup masuk akal dengan embel-embel halalnya,       --walaupun masih sering jadi guyonan juga-- lain halnya dengan kulkas. Coba deh pikir, apa arti dan faedah kehalalan dari sebuah kulkas.

Apakah uang haram hasil begal jika dibelanjakan kulkas bersertifikasi halal akan mengkonversinya jadi uang halal?

Atau kulkas halal ini bisa bikin daging babi beku mati kemaren dapet nyolong di pasar --uh dobel keharaman-- jadi auto halal?

Kan masih nggak masuk di akal saya yang minim pengetahuan ini --yang tahu soal penjelasan kulkas halal monggo jabarin ke saya yah. Jadi saya juga nggak mau nyalahin orang-orang yang bikin guyonan tentang hal tersebut. Wong logo halal rasa-rasanya nggak di-drive ke hal-hal yang lebih rasional.

Padahal, simbol ijo pamungkas dengan teken MUI ini bisa jadi senjata powerful untuk mengkomunikasikan hal-hal yang cukup penting loh. Misalnya anti-pembajakan, dalam hal ini saya pengin fokus terkait pembajakan piranti lunak atau software.



Emang software kenapa?


Dilansir dari Kompas Tekno, pada tahun 2015, 84 persen software yang beredar di Indonesia itu bajakan. Miris kan?

Baca Juga: Hidup Tanpa Bajakan, Bisa?

Di saat kita sekarang sibuk ngurusin artis pake mukena tapi full make up, kita jadi polisi syariat, eh produk yang kita pake dan mendukung kegiatan seperti laptop atau komputer ternyata mengandung keharaman.

Siapa coba yang nggak pake Microsoft Office Suite buat ngerjain laporan atau kerjaan kantor? Apakah itu asli? Hmm.. saya tidak yakin.

Siapa coba yang pake sistem operasi Windows original ting-ting? Hmm.. bisa dihitung jari.

Jadi, siapa yang salah?

Kita yang salah, membiarkan masyarakat tutup mata akan hal-hal yang sebenernya urgent banget buat mereka tahu. Bayangin aja, kita kerja pake MS Word bajakan, eh dapet duit dari situ, terus duit dari kerja pake software bajakan itu halal atau haram? Hmm.. saya nggak tahu...

Kan yang penting niatnya tong, lagipula pake windows bajakan kan buat belajar! AH LU SOTOY!

Saya masih inget rangkaian kalimat dari bukunya Tere Liye berjudul Eliana, salah satu penulis yang saya nggak terlalu suka tapi dalam hal ini, kalimat buatannya relevan. Begini bunyinya:

"Hal-hal yang baik, tidak pernah dilakukan dengan cara yang buruk" - Eliana, Serial Anak-Anak Mamak.

MUI berfatwa...


Sebagian besar dari kita jelas tahu, kalau membajak itu sama saja dengan mencuri. Mencuri itu hukumnya apa? Haram alias tidak halal kakak, yup itu benar sekali. MUI juga udah membuat fatwa terkait hal ini kok.

"Setiap bentuk pelanggaran terhadap HKI, termasuk namun tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan, menyerahkan, menyediakan, mengumumkan, memperbanyak, menjiplak, memalsu,membajak HKI milik orang lain secara tanpa hak merupakan kezaliman dan hukumnya adalah haram". Sumber: AOSI

 Bayangkan saja kalau campaign dari anti pembajakan inti mengikuti tren halal-halalan.

"Mau berkah? Jangan Pakai Bajakan Lah!"

"Makin syar'i dengan beli software ori"

Jadi tren ini bukan sekadar dimanfaatkan untuk jualan doang, melainkan juga bisa dipake ke hal-hal lebih rasional dan menjadi solusi dari masalah yang nggak pernah ada habisnya, pembajakan.  Dengan kata lain, membuat logo halal jadi lebih berfaedah dan membuat manusia (khususnya muslim) untuk lebih peduli.

Saya suka keberfaedahan.


Belajar halal itu lumayan gampang


Sok-sok an lu tong, emang lu udah pake semuanya halal? Ori? Hah!

Hmm... gimana ya? Kalau dikata semuanya halal, ya jelas belum. --Fyi aja nih, ay belum kerja bang, bisa bangkrut nanti--

Tapi soal awareness, saya sudah sadar akan hal itu dan karenanya mencoba mencari alternatif. Misalnya dari sistem operasi yang saya pakai, alhamdulillah Windows 10 original karena laptop saya emang besutan si empunya Windows, siapa lagi kalau bukan Microsoft. Sayangnya, saya belum kesampean beli lisensi MS Word dan Adobe Suite. Harganya cyin mahal sekalee.

Tapi untuk itu, saya ngakalinnya dengan mulai membiasakan diri dengan Google Doc yang gratis -tis -tis, apalagi sekarang Google Doc juga udah mendukung kerja offline. Untuk Adobe, harapnya sih bisa dapet alternatif as soon as possible.

Menariknya lagi, salah satu sahabat saya, Septi --pemilik blog senjaandbooks.com--  secara tidak kebetulan Windows 10 bajakan yang saya install kira-kira setahun lalu, tiba-tiba hang. Dan dengan kekuatan menghasut yang amat mantap, saya berhasil membujuk dia untuk memasang sistem operasi Elementary OS berbasis Linux yang open source (bisa cari di Google) dan gratis, serta tidak membajak yang artinya halal.


Di awal memang agak sulit membiasakan diri dari Windows 10 yang seolah sudah melekat dalam nadi ke sistem operasi baru yang tampilannya ala-ala Mac OS cuma agak ribet. Serta Google Doc memang nggak sefleksibel MS Word. Tapi berkat tekad buat konsisten akan kesadaran terhadap anti-pembajakan, rasa-rasanya ini bisa jadi hal yang setimpal, itung-itung belajar hal baru. Dan lagi, selama belum mampu untuk membeli, sepertinya lebih bijak bagi kita untuk mencari alternatif, yang "halal" dan tentunya, gratis.


Oh ya, bagi teman-teman yang tertarik mencoba Elementary OS untuk gantiin Windows bajakan, saya bisa bantu untuk memasangnya di laptop. Dan gratis kok! hehe. Itung-itung nularin virus anti-bajakan.


Thursday, June 7, 2018

Spotify VS Apple Music, Mana yang Lebih Murah? #REVIEWBERFAEDAH


Zamannya ponsel pinter kayak sekarang, lebih enak dengerin musik lewat aplikasi music streaming dibandingkan nyari-nyari file mp3 bajakan yang ujung-ujungnya iklannya kebangetan. Akhirnya, situs kayak gratismp3mantap.wapka jadi kurang diminati.


Yaiyalah, gue gitu anti bajakan.

#SokKeren-KerenClub



Dari beberapa platform musik digital, saya cuma sayang sama dua nama, Spotify dan Apple Music.

Kenapa cuma mereka berdua, padahal kan ada banyak aplikasi laen?

Pertama, koleksi musik di Spotify dan Apple Music sama-sama banyaknya atau kalau bisa saya bilang setara lah. Walau terkadang emang ada beberapa musisi yang lagu-lagunya eksklusif diunggah di iTunes, yang otomatis jadi tersedia di Apple Music.

Kedua, fitur-fiturnya mantep dan esensial.

Saya unduh aplikasi musik digital ya buat dengerin musik, bukan buat karaoke. Sorry to say Joox, no offense. Fitur esensial berbasis kecerdasan buatan atau artificial itelligence milik Spotify yang sering disebut Discovery Weekly bikin saya betah buat dengerin musik. Rasa-rasanya, playlist-nya Spotify ini ngertiin saya banget.

Apple Music juga punya fitur yang serupa walau nggak secanggih Spotify. Enaknya pake Apple Music karena saya pake iPhone yang udah lemot dan jadul, jadi nggak perlu lagi unduh aplikasi lain karena udah include sama iOS. Tapi jangan salah, Apple Music juga tersedia di Google Play Store kok.


Masalah Harga


Lupakan alasan-alasan di atas. Pada dasarnya, alasan utama saya pake Apple Music dan didampingi Spotify karena tarif berlangganan yang lebih murah. Jadi, saya menghasut 5 orang teman saya yang sama-sama pake iDevice buat join family sharing. Metode pembayaran yang saya gunakan adalah e-card atau debit online besutan Jenius.

Jadi tarif berlangganan senilai Rp 75.000,- per bulan, dibagi 6 orang, total yang harus dibayarkan setiap anggota family sharing hanya Rp 12.500,- per bulan. Hmm... lebih murah dari semangkuk es kepal milo bahkan.




Lho Bukannya Spotify Juga Nggak Kalah Murah?


Apabila mengacu pada tarif berlangganan Spotify saat ini (Rp 79.000,- per bulan) yang juga bisa dibagi untuk 6 anggota keluarga, maka tarif yang dipatok untuk satu orang sekitar Rp 13 ribuan. Walaupun nggak lebih mahal dari Es Kepal Milo, tetap saja Apple Music lebih murah. Yaelah, beda serebu doang.






Tapi eh tapi, saat saya mulai berlangganan Apple Music pada akhir Desember 2017 lalu. Ketentuan jumlah member maksimal yang dapat bergabung dalam family for premium-nya Spotify hanya 5 orang. Yang artinya harga langganannya lebih mahal sedikit dari Apple Music Rp 15.600,-

Maka dari itu, dengan prinsip ekonomi untuk pengorbanan sesedikit mungkin dengan hasil yang maksimal, saya memutuskan untuk memilih Apple Music sebagai platform music streaming utama saya di ponsel, dan Spotify sebagai pendamping di laptop maupun PC.

Kenapa nggak pake Apple Music sih di laptop?

Serah gue dong! 

Nggak ding hehe. Alasan utamanya adalah kalau mau pakai Apple Music di laptop, berarti iTunes juga harus terinstal di laptop. Anehnya lagi, karena saya pake laptop berbasis Windows 10, output suara dari Apple Music ini kok juelek minta ampun ya? Cempreng gitu.

Makanya saya pakai Spotify, selain nggak perlu instal aplikasi karena bisa diakses melalui peramban Chrome, kualitas suaranya juga lebih oke. Ditambah fitur discovery weekly yang kece, jadi kalau saya denger musik bagus di Spotify, nanti bisa saya cari di Apple Music. Gitu...

Hmmm... Jadi Mana yang Lebih Murah?


Masalah mana yang lebih murah, apabila dilihat dari segi harga, jelas Apple Music menang telak. Tapi kalau yang dimaksud murah adalah bayar tarif berlangganan yang nggak terlalu mahal tapi dapet fitur yang setimpal, Spotify adalah juaranya.

Bukan apa-apa, dengan berbagai fitur, dukungan multi-platform yang lebih oke dari Spotify, bikin saya nggak bisa menangin Apple Music hanya karena harganya yang lebih murah. Tapi kalau memang beda seribu dua ribu adalah hal yang amat penting dan tidak bisa dihiraukan, mengingat dengan seribu dua ribu, kita bisa beli tahu gejrot setan yang nggak bikin kesurupan. Maka Apple Music adalah jawaban terbaik untuk aplikasi music streaming. Apalagi, fiturnya juga nggak jelek-jelek amat kok dan rasa-rasanya saya juga nggak mau pindah-pindah lagi. Udah nyaman. 
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.