Anang Filya

Minggu, 22 April 2018

Every Little Thing That Precious #Portfolio 1.0



Ngomongin hal yang klise, hidup ini memang sering kali ada naik turunnya. Kadang enak, kadang susah; kadang juga enak dan susah gabung jadi satu. Rasa-rasanya semua hal ini tuh kayak sistem sirkuler di mana kita bisa balik ke satu titik yang sebenernya kita nggak pengin, dan nanti akan melalui titik di mana bisa bikin kita seneng lagi. Untungnya, kita diajarin untuk bersyukur sama apa aja yang kita dapet. Mau senang atau susahnya, Tuhan udah atur yang terbaiklah.

Dan di posting blog yang berbau-bau portfolio yang membangga-banggakan diri ini, saya pengin berbagi hal-hal yang akan selalu saya syukuri bisa saya alami di kehidupan saya yang rasa-rasanya belum terlalu lama ini.


Belajar Jadi Copywriter

Kewajiban untuk menjalankan program magang di perusahaan ketika sudah semester 5, membuat saya dengan agak brutal mengirim inbox ke creative director dan copywriter agensi-agensi iklan incaran saya untuk menyelesaikan program magang tersebut.

"Selamat Siang, Saya Anang, Apakah di xxxx sedang ada lowongan magang untuk jadi copywriter?"

Kira-kira, itu adalah template pesan saya ketika bertanya internship vacancy. Beruntungnya, ada beberapa creative director membalas pesan saya dengan cepat. Setelah proses kirim-kirim CV dan portfolio selesai, alhamdulillah ada satu agensi iklan asal Jepang, Dentsu Impact (sekarang Dentsu MainAd); mau menerima saya menjadi copywriter intern mereka. Ah, senangnya.

Belajar dari dasar banget tentang copywriting. How to make good and catchy headline for print and media sosial ads; storyline; and creative concept for some brands adalah hal-hal yang saya pelajari di perusahaan iklan dengan logo warna merah tersebut.

Di sana, saya membantu tim yang menangani klien Bank BRI. Agak riweh memang bagi saya di awal sebagai anak baru di dunia ahensi. Tiap hari ada aja kerjaan dan rasa-rasanya nggak ada habisnya. Tapi, setelah beberapa saat; kok saya menikmati ya kerja kayak gini.

Senior copywriter magang saya saat itu sepertinya tahu saya ini orangnya receh banget dan nggak terbiasa dengan kemewahan, kerjaan yang diberikan ke saya seringkali dari kategori BRI Mass; kategori produk-produk Bank BRI yang menyasar segmen masyarakat umum. Dan dari ketak-ketik selama tiga bulan tersebut, sepertinya ada beberapa hasil kerja yang bisa merepresentasikan saya ini bisa apa hehe. Ya, memang tiga bulan rasa-rasanya cepat sekali dan ketika di akhir saya jadi mikir "lah udah tiga bulan aja, ini belum ngapa-ngapain, yang dikerjain dikit banget, coba kemaren lebih gesit"


Project yang saya cintai

Nah, kalau ngomongin soal  project mana yang paling berkesan, sederhana dan klisenya semuanya berkesan. Namun kalau ngebahas soal mana yang paling bikin senang, ada beberapa project yang bikin saya selalu senyum-senyum sendiri kalau ngebayangin proses kerjanya.

Hari Pelanggan Nasional Bank BRI 2017

Siang hari bolong di akhir bulan Agustus 2017, tepatnya hampir dua bulan di masa magang. Saya mendapati notifikasi email masuk via ponsel. Subjeknya tertulis "Brief Print Ad and Online Hari Pelanggan Nasional Bank BRI 2017".

"Wah, kerjaan yang kemaren aja belom juga di acc, udah ada baru aja. What? Deadline besok!" Saya shock.

Karena kerjaan yang lagi banyak-banyaknya, senior magang saya melimpahkan beberapa kerjaan (yang jumlahnya juga banyak) ke saya. Dengan agak asal-asalan dan cekikikan, saya dan senior magang saya membuat beberapa headline yang bisa dibilang aduhai noraknya dan sangat amat biasa.


Alt 1 Senyum Anda, Kebahagiaan Kami
Alt 2 Indonesia Ceria Saat Anda Tersenyum
Alt 3 Pelanggan Senang Hati, Hati Kami Senang
Alt 4 Senyum Pelanggan, Bukti Kesuksesan Kami


Ya, headline alternatif ke-3 memang ngasalnya luar biasa. Saya ingat dosen mata kuliah copywriting pernah menjelaskan kalau headline atau tagline yang baik itu kaya punyanya Philips LED "Terang Terus, Terus Terang" yang intinya kebolak-balik dan on point.

Dan dengan sangat harfiah, saya mengimplementasikannya di alternatif ke-3. Lihat saja, sangat kebolak-balik kan, udah kayak filmnya Christopher Nolan, "Pelanggan Senang Hati, Hati Kami Senang"

Eh, alhamdulillah-nya, headline alternatif ke-3 tersebut malah terpilih dan jadinya dipajang di hampir seluruh cabang unit kerja Bank BRI di Indonesia pada tanggal 4 September 2017. Ah, ngasal yang bikin bangga.



Bikin Storyboard untuk DPLK BRI

Jadi ceritanya, DPLK BRI yang merupakan produk investasi masa tua milik Bank Rakyat Indonesia ini pengin bikin konten short movie yang basisnya di YouTube seperti iklan-iklan Thailand atau Ramayana (yang ibu-ibu kena alzheimer) yang udah duluan viral.

Niatnya, DPLK BRI ini juga pengin punya konten soft selling dengan target audience eksekutif muda usia 25 - 35 tahun yang berupa video drama pendek yang siapa tahu bisa ikutan viral gitu. Dan karena itulah, tim kreatif Dentsu Impact; termasuk saya, membuat konsep kreatif tentang penyampaian komunikasi melalui video agar produk DPLK ini awareness-nya meningkat di masyarakat. 

Melalui proses yang cukup panjang dan revisi berulang-ulang, alhamdulillah cerita saya menjadi satu dari tiga cerita (dua ceritanya punya senior magang dan creative director) yang diajukan ke klien. Dan berikut ini bentuk storyboardnya.



Jadi Content Writer

Sebagai mahasiswa yang ingin terlihat sibuk dan nggak gabut-gabut amat, saya mencoba peruntungan untuk jadi content writer di beberapa tempat. Zetizen Jawapos dan Futureloka.com adalah dua perusahaan yang lagi-lagi dengan sangat baik mau-maunya menerima saya.

Zetizen merupakan divisi dari Jawapos yang menangani rubrik dan website dengan topik lifestyle dan hiburan yang menyasar segmen anak muda. Sebulan saya menjadi reporter dan content writer, sayangnya saya harus menyudahinya karena jadwal kerja yang nggak sesuai dengan jadwal kuliah.

Sedangkan Futureloka.com adalah website teknologi yang membahas seputar gadget dan teknologi. Mulai dari buyers guide, review, hingga spesifikasi detail sebuah gadget. Kira-kira hampir satu tahun saya menjadi freelance content writer di Futureloka.com dan rasanya juga menyenangkan. Apalagi, dunia per-gadget-an merupakan salah satu hal yang sangat saya gemari.



Nyobain Graphic Design

Sebenernya, saya nggak pernah ada niat untuk jadi graphic designer. Wong bikin garis lurus aja saya nggak bisa, padahal udah pakai penggaris mahal yang bahannya dari stainless steel. Selama ini saya kagum aja dengan kemampuan mereka yang bisa menyampaikan pesan dalam bentuk visual yang gampang menarik perhatian dan dipahami orang. Namun karena basic saya yang dulu anak komputer dan multimedia serta keseringan jadi tim kreatif acara kampus, seringkali teman-teman saya memaksa saya untuk membuat desain poster. Jadi bagian tentang graphic designer ini, emang nggak jauh-jauh dari tugas dan  event kampus. 


Senin, 26 Maret 2018

Go-Pay: Harapan Indonesia Menuju Cashless Society #TidakBerfaedah

Go-Pay Cashless
Source: freepik.com

Saya ini adalah salah satu orang yang mendambakan Indonesia bisa jadi negara yang mengimplementasikan pembayaran non-tunai secara massal. Melihat negara-negara maju sudah bisa menggunakan ponsel sebagai alat pembayaran, tinggal tap-tip-tup,  saya cuma bisa ngiri dan ngebatin “kapan Indonesia bisa begitu, nggak repot-repot sama recehan”.

Tapi beberapa tahun belakangan ini, saya bisa agak senyum-senyum melihat beberapa provider uang elektronik sudah mulai muncul di pasaran. Mulai dari bank (BCA Sakuku, Mandiri E-cash, BNI Yap! dll), operator telekomunikasi (Telkomsel dengan T-Cash, Indosat dengan Dompetku (yang sekarang berubah nama menjadi PayPro), XL Tunai), sampai dengan provider lain seperti OVO, DOKU, Go-Pay dari Go-Jek, Uangku, dan masih banyak lagi.

Sayangnya sampai sekarang, saya belum merasakan aplikasi-aplikasi dompet/uang elektronik tersebut belum dapat dimanfaatkan fungsinya secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Karena sebagian besar aplikasi e-money masih berkutat dengan ekosistemnya masing-masing dan masih menjangkau merchant yang berskala besar, kalau mau ke warung, yah harus pake recehan lagi.

E-money favorit saya saat ini sih masih Go-Pay. Selain sebagai salah satu e-money yang paling populer (berkat Go-Jek tentunya), saya merasa melakukan transaksi dengan Go-Pay terasa lebih natural gitu, dan implementasinya dalam ekosistem Go-Jek rasanya sudah cukup baik. Namun itu sebenarnya juga kekurangan menurut saya, karena ya sekali lagi, Go-Pay saat ini hanya dapat digunakan untuk transaksi dengan layanan-layanan Go-Jek. Andai saja, kalau Go-Pay ini fungsinya diperluas, contohnya bisa untuk bayar belanjaan di Indomaret atau Alfamart, ah saya sih yakin, Go-Pay bisa memimpin pasar uang elektronik.

Kok Kamu Mikir Kayak Gitu Nang?


Go-Jek Udah Populer Duluan

Nama besar Go-Jek otomatis membuat Go-Pay sebagai salah satu fitur didalamnya juga menjadi populer. Dan dengan kepopuleran Go-Jek tersebut, membuat Go-Pay selangkah lebih maju dibanding e-money lain dari segi awareness. Sebut saja OVO, DOKU, dan T-Cash, Sakuku, contoh brand e-money terbesar saat ini, bukankah masih lebih familiar Go-Pay-nya Go-Jek dibanding mereka?

Strategi Go-Jek untuk menggaet penggunanya menggunakan metode pembayaran cashless yang mereka luncurkan pada 2016 ini juga bukan perkara mudah. Di awal-awal, saya sendiri merasa kalau lebih enak bayar cash, “ngapain coba ribet-ribet top up”, tapi berkat iming-iming harga yang lebih murah dan promo dimana-mana, toh akhirnya saya tergoda untuk mencoba. Dan setelah mencoba akhirnya saya tahu, “ini toh rasanya hidup cashless, praktis ya”. Go-Pay membuat saya setia dengan Go-Jek dan ogah pindah kelain ojol, dan saya rasa teman-teman juga merasa seperti itu. Walaupun mau bayar via tunai atau Go-Pay, sekarang nggak beda-beda amat, pokoknya Go-Jek is lyfe.

Go-Pay Bukan Bank, Bukan Pula Operator Seluler

Go-Pay ya punyanya Go-Jek. Nggak ribet, nggak perlu ke bank buat daftar. Go-Pay tidak punya sekat-sekat harus pakai bank ini, harus pake kartu seluler itu. Toh walaupun Go-Jek sedang bekerja sama dengan Bank BCA untuk memperluas jangkauan Go-Pay, Go-Pay tetap punyanya Go-Jek.

Sedangkan e-money lain seringkali terikat dengan sekat-sekat brand besar yang menaungi mereka. Contohnya, ketika kamu mendengar nama BCA Sakuku dan Mandiri E-cash, bisa jadi yang terlintas di pikiran adalah “yah, nggak punya rekening BCA dan Mandiri, daftarnya pasti harus di bank kan”. Atau mendengar T-Cash, “yah, kartu gue Indosat, nggak bisa pake T-Cash dong”. Bahkan PayPro sekalipun yang walaupun bisa digunakan lintas operator, berkat branding yang dilakukan oleh Indosat, seakan-akan PayPro ini eksklusif hanya untuk pengguna kartu seluler yang identik dengan warna kuning tersebut.

Loh, OVO, DOKU, UANGKU, kagak ada embel-embel Bank atau Operatornya, apa bedanya?

Seperti yang tadi sudah saya bilang, awareness Go-Pay yang lebih tinggi di masyarakat awam.


Hmm…

Kabak baiknya, Februari lalu Nadien Makarim mengkonfirmasi telah bekerja sama dengan Bank BCA untuk memperluas jangkauan Go-Pay dengan mitra pihak ketiga. Go-Jek sudah berhasil rebranding ojek yang tadinya merupakan mode transportasi kelas bawah yang dipandang sebelah mata menjadi salah satu mode transportasi kekinian yang praktis dan tech-savvy. Go-Jek juga berhasil mengalihkan opang-opang menjadi bagian dari armada mereka. Lalu, akankan Go-Jek  dengan Go-Pay-nya mampu mengubah sistem pembayaran kita yang kolot ini, akankah Go-Jek dengan Go-Pay-nya mampu membawa warung-warung samping rumah menjadi go digital, akankan mereka mampu membawa kita menuju cashless society? We’ll see, not for a long time.

Sabtu, 24 Maret 2018

My Earpod Accidentally Washed! #CERPAEDAH


Pagi hari yang cerah saat itu, saya merasa jadi manusia paling semangat di dunia. Tumpukan pakaian selama seminggu merasa senang hati karena akhirnya mereka akan merasakan segarnya air dan wanginya deterjen. Proses merendam pakaian selama 30 menit pun saya lakukan.

“Sambil nunggu rendeman, asyik nih dengerin lagu”, gumam saya.

“Loh.. eh.. loh.. eh, ini earphone kemana yak”, serabutan mencari earphone kesayangan.

Teringat, saya cuma punya dua kebiasaan menyimpan earphone, kalau nggak di celana, ya di jaket. Saya mulai ubek-ubek kantung jaket “ah, nggak ada”, kemudian saya ingat-ingat lagi, semalam pakai celana apa. Ah, jangan-jangan!

Yup, nggak lain dan nggak bukan, earphone kesayangan saya secara sangat tidak disengaja terendam bersama pakaian-pakaian kotor saya, berkat saya lalai merogoh-rogoh isi celana sebelum merendam.

Ya Tuhaaan, mengapa kebahagiaan kecil saya harus Engkau renggut, huhuhu”, menangis sembari mengadahkan tangan dengan earpod basah diatasnya.

6 Jam Pertama

Setelah tragedi menyedihkan tersebut, saya mencoba mendiamkan earpod dengan harapan air yang berada di bagian dalam bisa kering dan earpod saya bisa kembali berfungsi. Enam jam setelah kecemplung, saya mencoba mencolokkan earpod ke lubang jack 3.5 mm ponsel, dan ternyata hanya ada suara kresek-kresek nggak jelas.

Apadaya, sehari terasa hampa hambar tak bermakna tanpa musik yang mendengung manja di telinga. Mau beli yang baru, mahal. Mau beli yang merek lain, nanti nggak bagus. Intinya mah sayang buat saya yang mahasiswa kalau Rp 500 ribu dibuat beli earphone doang (harga resmi iBox). Tuhan, aku sedih.

Keesokan Harinya

Hampir 24 jam berlalu, saya sebagai orang yang kadar optimisnya tingkat tinggi, masih berharap kalau earpod kesayangan saya masih bisa berfungsi. Dan ternyata, wah ternyata orang sabar itu ada ganjarannya, setelah saya ngambek nggak pake earpod sehari-semalam, ajaibnya tiba-tiba bisa berfungsi seperti semula. Amazing!

Iya, inti post ini saya cuma mau cerita, kalau earpod kamu kecuci, atau kerendem air, nggak usah panik. I got info from internet if earpod is waterproof, tapi jelas untung-untungan ya. Tapi, di sini Apple emang menunjukkan kalau produk mereka nggak sekedar mahal ya. Tapi juga kualitasnya yang emang top-notch. Walaupun mahal atau murah itu relatif, tapi jelas saya nggak perlu worry soal kualitas dari produk dari perusahaan asal Cupertino tersebut.

So, here’s the guideline if your earpod (possibly to others brand) accidentally washed or dropped into water:
1.     Looking for the dry spot to drain the water inside of earpod;
2.     Don’t use it, at least for 24 hours to make sure if water has totally dried.

3.     Pray hard for it, LOL.

Sabtu, 24 Februari 2018

Hidup Tanpa Bajakan, Bisa? #CERPAEDAH


Sore itu, saya bersama beberapa kakak tingkat sedang duduk di kantin kampus. Mereka yang bisa dibilang senior saat itu sedang mendiskusikan event yang akan diselenggarakan BEM Universitas. Saya sih nggak terlalu “ngeh” begituan, ikutan nimbrung cuma karena nggak ada teman makan di kantin dan ada seorang kaka tingkat yang saya kenal disitu.

Di sela-sela diskusi yang sambil ketawa-ketiwi, seorang kakak tingkat perempuan yang saya nggak tahu namanya nyeletuk “Eh, bioskop Trans TV hari ini filmnya apa ya?”, bertanya kepada teman duduk disampingnya. “Coba gue cek dulu, kalo di RCTI nanti malem ada Narnia sih”, jawab teman wanitanya.

Mendengar percakapan mereka, saya langsung nyaut “Ha? Bioskop Trans TV? Bukannya filmnya Cuma itu-itu aja ya?”.

Iya sih, tapi kan lumayan nonton film gratis, nggak buang-buang duit ke bioskop”, sahutnya kembali.

Lah kenapa nggak download aja di situs elkaduasyatu? Gratis, banyak film-film terbaru lagi, nggak kayak di Trans TV filmnya itu-itu aja, dah kayak menu di warteg

“Ah… kuota lagi-kuota lagi, males lah download dulu, mending langsung nonton di tipi, lagipula gue kan nggak mau nonton yang bajakan, apalai gue mau bikin grup pesbuk anti pembajakan pecinta bioskop Trans TV”, jawabnya sambil cekikikan.

Kemudian kakak tingkat yang saya kenal, Rully, membalas “Halah, lu mah emang kagak punya kuota, sok-sok an anti pembajakan”.

“Hehe, iya sih” sahut si wanita itu kembali.

Mikir.

Kalau dipikir-pikir, iya juga sih. Saking sudah majunya teknologi, internet makin cepat, Wi-Fi di indekos tersedia, saya nggak perlu kerepotan kalau cuma buat streaming atau download film di internet. Nggak perlu menunggu jadwal siaran TV, pokoknya mah gas terus.

Tapi gara-gara itu, saya sering lupa, kalau film-film tersebut saya nikmati secara ilegal. Dengan tanpa rasa bersalah dan menimbang halal atau nggaknya, saya sering berpikir “Ngapain nonton di bioskop, kalo ujung-ujungnya nanti juga ada di elkaduasyatu”.

Walaupun kakak tingkat saya tersebut guyon soal alasannya setia menonton bioskop Trans TV karena anti pembajakan, toh dia lebih bijak mengambil keputusan untuk menikmati sebuah konten film dari keterbatasannya (dalam hal ini pelit kuota). Yang berarti dia juga nggak melakukan pembajakan dan menikmati konten ilegal.

Dilema Ngebajak

Tapi jujur, saya sendiri berkeinginan untuk menjadi manusia yang bisa menghargai karya manusia lain. Karena bikin suatu karya itu nggak mudah. Nggak ada salahnya mengeluarkan sedikit uang untuk menikmati karya orang lain, lagipula diri sendiri juga yang akan terhibur dan akan mendapatkan kepuasan batin.

Musik

Saya sih, sebenarnya sudah mulai mengurangi pembajakan-pembajakan dalam hidup di dunia yang hanya sementara ini dengan tidak mengunduh file musik ilegal. Namun dengan memutar musik secara streaming melalui Spotify dan Apple Music. Yah, nggak apa-apa lah bayar sedikit (family sharing) plus boros kuota, yang penting halal (ngomong dengan perasaan bangga dan sombong). Lagipula kalau mau gratis, ada Spotify yang gratisan, JOOX, dan YouTube. Ah, hidup ini indah.

Buku

Juga dengan buku. Walaupun saya ini bukan pembaca buku kelas berat, tapi kadang-kadang ada hasrat untuk jadi anak rajin dan pintar. Nah, karena harga buku kadang-kadang mahal, apalagi saya sering nggak menuntaskan membaca sampai habis dan saya nggak mau jadi umat-umat yang mubazir, saya akali dengan meminjam buku elektronik melalui aplikasi iJak dan iPusnas. Koleksi bukunya cukup bervariasi, walaupun untuk pinjam harus antri. Yang penting dan paling penting, gratis -tis -tis.

Film

Nah, Film ini bagi saya masih jadi dilema. Di sisi satu pengin menikmati film dengan cara yang legal, tapi di sisi lain film resmi kalau nggak ditonton lewat bioskop, paling-paling sewa atau beli lewat Google Play Movie (dulu Play Film), iTunes, atau streaming via Netflix dan sejenisnya.

Terus apa masalahnya?

Apabila menikmati musik legal itu bisa diakali pakai Spotify dkk (selain Apple Music) yang menyediakan layanan gratis, lain halnya dengan film. Hingga saat ini, belum ada provider yang menyediakan konten film secara gratis dan legal. Minimal harus sewa (seperti Google Play Movie & iTunes) atau berlangganan (Netflix, Iflix, Hoox, VIU, dll). Dan biayanya itu kebanyakan nggak murah. Okelah, murah atau nggaknya mungkin relatif. Namun, Google Play Movie, Netflix dkk kebanyakan masih menggunakan metode pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit, kita sendiri tahu, penetrasi kartu kredit dan debit di Indonesia itu lambatnya masya Allah.

Lagi, update katalog film populer di situs-situs tersebut seringkali kalah cepat dibanding situs ilegal Elkaduasyatu dan Gyanul. Jadi pilihan terbaik saat ini untuk menikmati konten film secara legal secara cepat masih dipegang oleh bioskop konvensional. Masalahnya lagi, bioskop semacam XXI dan CGV seringkali hanya tersedia di kota-kota besar. Maka dari itu, kali pertama saya di bioskop baru pada saat saya kuliah di Jakarta. Saat masih di kampung, lah boro-boro, kalau mau nonton harus menempuh perjalanan hampir 2 jam, kan jadi males.

Hmm…


Goals saya sih, saya bisa hidup tanpa bajakan. Nggak sekedar dari sisi konten multimedia, tapi juga aspek-aspek lain seperti halnya perangkat lunak yang resmi (sistem operasi -baca: Windows, Office, Adobe suite, dll). Dan saya tahu, untuk mencapai goals tersebut, pasti perlu biaya yang nggak sedikit. Apalagi saya juga belum bisa menghasilkan pundi-pundi Rupiah sendiri, namun yang namanya kebaikan emang kadang harus ditebus mahal -aseek. Bukan apa-apa, kalau mindset membajak itu selalu ada, lama-lama rasa salah akan mencuri secara nggak langsung bisa jadi memudar dari hati. Karena jelas dalam Agama saya, membajak berarti mencuri hak cipta yang berarti barang berharga. Dan saya juga yakin, nggak ada agama yang melegalkan pencurian. Intinya pertanyaan "Hidup tanpa bajakan, bisa?" jawabannya "insyaallah hehe"

Senin, 05 Februari 2018

Baik Tidak Untuk Semua #TidakBerfaedah




Tuhan memberi kita otak, untuk berpikir dan menghasilkan pemikiran.
Tuhan memberi hati, untuk merasa dan menyeimbangkan logika.
Namun, kedua hal tersebut intinya untuk kita, dan sebagian kecil untuk manusia lainnya.

Dua hal itu tidak pernah cukup untuk dibagi dengan diri sendiri dan manusia lain secara merata.
Manusia satu yang istimewa saja tak bisa mengubah seluruhnya, apalagi kita yang cuma dilahirkan biasa.
Manusia satu yang istimewa saja tidak bisa mengubah keyakinan orang dekatnya, apalagi kita yang cuma numpang eksis di dunia.


Lalu, intinya, kenapa kita harus ngotot dan adu argumen dimana-mana untuk mencoba membenarkan sesuatu? Padahal kadar benar saja bisa berubah-ubah dalam pandangan manusia.

Hal baik tidak pernah cukup untuk dibagi, hal buruk tidak akan pernah berhenti menutupi.

Kita memang tidak akan bisa berpengaruh bagi semua, selalu saja ada yang tidak suka. Namun manusia istimewa mengajarkan kita untuk tidak menyerah, jangan menyerah, kebaikan tidak bisa dibiarkan berhamburan. Kita bertugas mengaturnya, agar sesuai jalan.

Jangan berhenti berusaha jadi baik, jangan berhenti sebarkan hal yang baik. Tidak harus kesemuanya kita arungi, cukup siapa yang kita ingin agar ia peduli.

Kamis, 02 November 2017

Senangnya Bisa Magang di Dentsu #CerPaeDah

Illustration Source: freepik.com

Ada rasa sedih saat saya harus tahu masa magang saya sudah akan berakhir. Tiga bulan merasakan keseruan bekerja di salah satu agensi iklan besar di Indonesia, membuat saya jadi agak lupa bahwa status saya masih mahasiswa semester lima - udah tau cari duit, sampe lupa sama kuliah.

Berbekal CV dan portfolio yang agak terburu-buru dibuat (bisa dilihat disini), saya beranikan apply ke beberapa agensi iklan melalui koneksi LinkedIn yang caranya sudah saya tulis di artikel "Tips Cari Magang yang Lebih Gampang".

Alhamdulillah selang dua minggu, saya mendapatkan kabar baik, ponsel saya berdering mendapatkan panggilan dari Mbak Uci, senior traffic Dentsu Impact yang tugasnya mengurusi alur pekerjaan dan juga karyawan baru yang akan masuk dan pergi dari perusahaan. Dalam percakapan telepon tersebut, intinya saya harus bertemu dengan Mas Riva (creative group head yang saya hubungi lewat LinkedIn) dan ngobrol-ngobrol atau istilahnya interview.

Dan dari proses bincang-bincang di Menara Sentraya lantai 35 yang lift-nya bikin saya sakit kepala tersebut, saya dipastikan bisa memulai magang satu minggu setelah Idul Fitri, ah senangnya.

Hari Pertama: Kepagian

Hari pertama magang pun akhirnya tiba, deg-degan pasti iya. Sampai-sampai terlalu semangatnya, saya datang kepagian. Dan setelah mengurus kartu akses dan menandatangani kontrak magang, saya langsung masuk keruang kerja Dentsu Impact yang bernuansa minimalis tapi sangat rapih. Sekedar informasi, Dentsu Impact adalah salah satu anak perusahaan iklan full service dibawah naungan Dentsu Aegis Network selain Dentsu Indonesia dan Dentsu One.

Di hari pertama, ke-awkward-an jelas terjadi. Saya nggak kenal siapapun, mau ngobrol bingung. Walaupun ada dua anak magang graphic design dan account executive yang berasal dari UI dan UMN, karena baru kenal, rasanya tetap canggung. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada Kak Jesica, copywriter tim BRI yang nantinya bakal mengajari saya banyak hal.

"Kak, ada kerjaan apa ajah hehe?", canggung banget rasanya,
"Oh, belum ada sih, nanti kalo ada gue email" jawabnya agak jutek.

Di hari pertama itu, saya hanya browsing and do nothing, hingga sore hari akhirnya Kak Jesica memanggil saya untuk pekerjaan pertama saya sebagai seorang "Copywriter Magang".


Kebagian Tim BRI

Mas Riva adalah creative group head  BRI yang otomatis membuat saya juga masuk kedalam tim BRI. Sekedar informasi, Dentsu Impact menangani beberapa klien, namun tim inti dalam perusahaan ini adalah Tim BRI dan Tim Suzuki.

Pekerjaan pertama saya dalam tim BRI ini salah satunya adalah membuat copy untuk promo BRI Prioritas disalah satu merchant butik batik. Dan karena ini adalah pekerjaan dari BRI Prioritas, otomatis bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris.

Kagok? sangat. Walaupun nilai TOEFL saya sudah cukup baik, 507 (Mas Riva bertanya nilai TOEFL saat interview), menulis copy dalam bahasa inggris membuat saya berpikir cukup lama dan takut salah. Mungkin karena belum terbiasa. Dan lagi, saya merasa tertekan ketika ada notifikasi email bahwa copy saya perlu direvisi. Dan itu, nggak hanya sekali. 

Dan saking lamanya saya mengerjakan pekerjaan pertama saya tersebut, teman magang saya Ivan sebagai graphic designer sampai nyeletuk.

"Lu bikin copy lama amat dah!" ketusnya,

"Sabar kek, lu pikir ini gampang" balas saya dalam hati, walaupun realitanya saya membalas dengan senyum kesal saat itu.

"Duh pekerjaan pertama aja kok susah banget yaa".

Benar-Benar Kerja

Walaupun status saya adalah mahasiswa magang, pekerjaan yang diberikan nggak memiliki perbedaan yang signifikan dengan karyawan native. Walaupun pasti, semua pekerjaan saya harus terlebih dahulu di-ACC Kak Jesica. Pokoknya, rasanya dikejar deadline, bete karena klien minta yang aneh-aneh, semuanya bakal kerasa.

Tapi untungnya, lembur bukan hal yang sering ditemui selama masa magang. Bisa dibilang, nggak lebih dari 10 kali kok. Sebagian lembur itu juga karena saat itu bertepatan dengan pembuatan materi iklan untuk dikompetisikan di Citra Pariwara.

Oh ya, untuk masalah Citra Pariwara ini, saya merasa beruntung walaupun hanya sebagai anak magang, kak Jesica nggak lelahnya mengajak saya yang pikirannya cetek ini ke ruangan meeting, untuk membicarakan konsep iklan yang akan dikompetisikan di ajang award bergengsi tersebut. Asyiknya lagi, creative director tim BRI, Mas Rino, selalu memberikan ruang bagi saya dan teman-teman magang untuk mengutarakan ide dan pendapatnya.

Pokoknya, budaya kerja di Dentsu Impact itu seru. Seru banget malah!

Kerja Santai, Harus Selesai

Di Impact, kita nggak bakal menemukan hal-hal semacam, kantor yang sudah penuh manusia saat pukul 9, ataupun karyawan-karyawan yang sampai kantor tepat waktu saat jam istirahat telah usai. Mau berapakali pun bikin kopi di pantry, atau bolak-balik ke Pujasera (tempat makan di basement Blok M Square), terserah!. Yang penting, harus standby saat dipanggil untuk meeting atau kerjaan yang harus disetor sesuai deadline.

Bikin Copy untuk BRI

Cerita Untuk DPLK

Seminggu berlalu setelah hari pertama magang, saya mendapatkan PR untuk membuat tiga cerita yang akan dijadikan sebuah commercial short movie DPLK. Fyi, DPLK adalah produk asuransi dan investasi dana pensiun milik BANK BRI. Cerita yang saya buat harus touchy, emosional, dan menggugah hati khalayak. Mirip-mirip iklan Thailand yang sering muncul di explorer Instagram gitu deh.

Hampir 3 jam saya memandangi laptop, "kok nggak ada ide yang keluar sih!". Saya jadi agak tertekan, belum lagi saya melihat Mas Riva dan Kak Jes dengan cepatnya sudah mengetik 3 sampai 4 sinopsis. Disitulah saya berpikir "apa jangan-jangan gue nggak cocok kali ya jadi copywriter"

Alhamdulillah-nya, saya dapat ilham dari yang maha kuasa untuk membuat cerita yang mengangkat kisah driver ojek online. Alhamdulillah-nya lagi, cerita saya itu dipuji oleh Mas Rino (creative director), katanya "Hmm.. nice story". Alhamdulillah-nya lagi, cerita saya menjadi satu dari tiga yang dipresentasikan ke klien. Ahh.. terharunya!!!!

Sayangnya, sampai sekarang, saya belum dapat kabar cerita mana yang akhirnya dipilih. Dan lagi, saya belum bisa publish cerita yang saya buat. Next, saya mungkin akan memperbaru post ini ketika saya sudah tahu hasilnya. Doakan saja yaa!

Copy Untuk Hari Pelanggan Nasional


Ketika waktu nggak kerasa, sudah hampir 2 bulan saya magang yang tiap harinya  biasanya diisi dengan mengerjakan tugas-tugas yang dibagikan Kak Jes, seperti bikin copy buat promo BRI ini dan itu, storyline, dan lain-lain. Nah, sore itu tiba-tiba ada e-mail masuk dari Kak Zika (account executive) yang isinya brief buat bikin slogan hari pelanggan nasional BRI. Seperti biasa, saya langsung menghampiri Kak Jes dan membuat copy sambil ketawa-ketiwi (intinya nggak niat). 

"Kak Jes, ini gini aja gapapa?", tanya saya;
"Udah... nanti paling direvisi wkwkwk" jawabnya sambil cengengesan.

Salah satu slogan yang saya buat berbunyi "Pelanggan Senang Hati, Hati Kami Senang" (bisa dilihat di post saya sebelumnya)

"Kalo sampe slogan itu kepilih, sumpah gue benci banget", ungkap Kak Jes sambil tertawa meledek saat melihat slogan receh yang saya buat.

Dan ternyata, slogan yang saya buat dengan sangat spontan sambil ketawa-ketiwi itu, terpilih dong! Saya merasa aneh, dan ngakak nggak karuan bareng Kak Jes. Slogan yang saya kira bakal tertawakan klien, eh malah dipilih. Walaupun merasa aneh, saya jelas tetep senang dong. Gimana enggak? Slogannya dipajang di KCP-KCP BRI (walaupun saya nggak tau di pasang diseluruh Indonesia atau nggak).

Memang, yang tahu nasib copy di-acc atau nggak, cuma Tuhan dan klien. Mungkin, hati saya juga sudah menyatu dengan BANK BRI. Oh ya, satu lagi, ada perasaan cukup aneh pas lihat karya kita dipajang didepan kantor BRI. Sumpah itu aneh banget! I can't explain it though.

Magang yang Sayangnya Harus Selesai

Tiga bulan yang diisi dengan kekocakan kantor Impact, sayangnya terasa sangat cepat dan bencinya, harus selesai. Saya merasa belum bisa membantu dan mengerjakan banyak hal. Untungnya, banyak sekali yang saya pelajari disana. 

Untuk Kak Jes, terimakasih untuk nggak lelah-lelahnya mengomeli copy saya yang alay dan selalu memberi solusi, mengajak saya meeting yang penting, makan bareng, masakin yang enak-enak, merekomendasikan saya jadi freelancer  dengan sangat maksimal (walaupun akhirnya belum bisa) pokoknya mentor yang terbaik, terbaik untuk curhat, dan terbaik-terbaik yang lain. 

Untuk Kak Syntia (art director yang nggak  saya sebutkan di post ini) juga terimakasih sudah jadi teman ngobrol yang asyiknya minta ampun, teman joget yang hebohnya bukan main, dan juga teman yang baik buat saya dan kak Jesica.  Untuk Kak Freddy, Mas Denzi, Kak Vinna, terimakasih untuk 3 bulan yang sangat menyenangkan makan bareng di Pujasera.

Untuk Mas Riva terimakasih sudah memberi saya kesempatan magang di kantor yang sangat menyenangkan tersebut. Dan juga sahabat-sahabat magang saya, Gita, Ivan, Ire, Arno, Arvin serta semua tim Impact yang sangat menyenangkan dan luar biasa.

Much Love For All of You!



"Gue jarang banget ngomong ini sama anak magang, tapi gue liat kalian adalah anak muda yang punya potensi yang besar. Gue seneng banget, ketika nanti kalian lulus, kalian mau kembali kesini, gabung sama kita lagi", ucap Mas Rino ke saya dan teman saya Ivan di hari terakhir magang.



Dan ini beberapa foto unfaedah yang harus saya upload, hehe.
Saat anak magang meramaikan halal bihalal Dentsu Aegis Network 

Pas Meeting Ala-Ala

Sehabis gajian, keliatan happy banget kan?

Pas syuting iklan ****** (rahasia dong)

Masih di lokasi syuting yang sama, ih ada helikopter!

Makan bareng cyin

Saat perayaan 17 Agustus


Rabu, 20 September 2017

BRI National Customer Day 2017 #CERPAEDAH




Have you seen this banner at BRI Branches around you?
I feel that I am the luckiest boy on this earth when I know that my copy has selected for BRI National Customer Day 2017 campaign. For an intern boy like me, It is a meaningful achievement. I hope this way will guide me to my biggest dream "to be a great copywriter".



Hari Pelanggan Nasional BANK BRI
National Customer Day BANK BRI at Facebook

الحَمْد لله‎‎
Alhamdulillah
All praises be to Allah
The Lord of The World

SPC Z2 Orion: Smartphone Murah Berlayar Besar, Bisa Apa? #ReviewBerfaedah




Semuanya bermula saat saya sok tahu mengganti layar LCD ponsel milik Ibu saya Samsung Galaxy Young S6310 dengan berbekal video tutorial YouTube. Dan hasilnya? Ponsel jadul Ibu saya tersebut berhasil berjalan dengan baik selama 2 jam, setelah itu ponsel bergetar-getar dan tidak mau hidup. Sepertinya, walaupun saya mantan anak komputer, tangan saya tidak terlalu bagus dalam hal-hal yang berbau teknis hehe.

Dan karena hal tersebut, Saya akhirnya mulai mencari-cari ponsel yang cocok untuk Ibu saya di Bukalapak dan Tokopedia. Kriterianya tidak susah kok, yang penting layarnya gede, harganya murah. Udah cukup.

Akhirnya, setelah beberapa saat mengubek-ubek Bukalapak, saya menemukan satu seller yang menjual smartphone dengan nama SPC Z2 Orion. SPC Z2 Orion ini menjadi perhatian saya karena harga jualnya yang hanya Rp 700 Ribuan namun layarnya sudah 5.5 inch. Apalagi, nama SPC bukanlah hal yang asing dalam kehidupan saya, brand asal Tiongkok ini sebelum masuk ke dunia per-gadget-an, sudah lebih dulu menjual berbagai sparepart dan aksesoris untuk PC dan Notebook. Sehingga tanpa pikir panjang, saya langsung membeli smartphone ini (mumpung duit masih ada hehe).

Alhasil, setelah beberapa hari menggunakan smartphone ini, apa saja sih kelebihan dan kekurangan dari SPC Z2 Orion ini. Nah kalau penasaran, simak ulasan singkat dari mas Anang berikut ini yaa.

Desain yang Lumayan “Chantique”

Review SPC Z2 Orion
Sisi desain merupakan salah satu hal yang membuat saya terpukau oleh ponsel murah ini. Walaupun masih menggunakan material plastik dan belum menganut sistem unibody, ponsel ini terasa kokoh dan mantap digenggam. Finishing-nya lumayan rapih walaupun ada sedikit warna cat yang tidak rata disisi bumper. Oh ya, SPC Z2 Orion memiliki tiga varian warna, Dark Blue (seperti milik saya), Gold, dan Silver.

Sedangkan kekurangan dari sisi desain ponsel ini adalah yang pertama adalah bobotnya yang berat. Serius, berat banget. Dan yang kedua adalah tebal, walaupun sebenarnya ponsel yang tebal membuat ponsel lebih ergonomis karena lebih mantap digenggam.

Layar Besar Tapi Kusam

Review SPC Z2 Orion
Layar berukuran 5.5 inch adalah faktor utama yang membuat saya memilih SPC Z2 Orion. Bukan tanpa alasan tapi “Hape mana coba yang punya harga 700 ribu layarnya 5.5 inch?”. Saya rasa masih jarang brand lokal yang berani menawarkan harga semurah ini untuk layar seluas itu. Dan lagi, ponsel ini untuk Ibu saya yang matanya sulit untuk melihat teks yang kecil, sehingga ukuran 5.5 inch saya rasa ideal untuk orang tua semacam Ibu saya. Untuk informasi, layar SPC Z2 Orion juga sudah mengusung teknologi 2.5 D yang membuatnya lebih menyenangkan untuk diusap-usap.

Walau begitu, ada kekurangan yang menurut saya sedikit menggangu. Resolusi layar di SPC Z2 ini bisa dibilang rendah untuk ukuran ponsel masa kini. Bayangkan, untuk layar seluas 5.5 inch, resolusi yang ditawarkan hanyalah 480 x 854 pixel (FWVGA) yang berarti kerapatan pikselnya hanya 178 ~ppi. Jadi jangan harap untuk dapat menikmati suguhan layar yang jernih dan tajam. Namun, kembali mengingat harga yang ditawarkan, saya rasa ini masih cukup sepadan kok - masa iya, harga murah mau minta lebih, yang bener aje lu tong.

Performa? Hmm...

Perlu saya ingatkan kembali, Saya beli ponsel ini terkhusus untuk Ibunda saya tercinta, yang cuma butuh Whatsapp, telpon dan SMS agar bisa berkomunikasi dengan anak tercintanya ini. Dan untuk kebutuhan Ibu saya tersebut, SPC Z2 mampu mengakomodirnya dengan sangat baik.

Terus kalo buat main game, bisa nggak?


Ketika ponsel ini pertama kali dihidupkan, ada beberapa aplikasi dan game bawaan semacam BBM, Whatsapp, UC Mini, dan Beach Buggy Racing. Dan ketika saya coba aplikasi-aplikasi dan  game balapan tersebut, It can run pretty smooth. Mengejutkan memang, karena ketika melihat spesifikasinya, ponsel ini bisa dibilang ‘cemen’.

Prosesor quad core 1.2 GHz yang sayangnya tidak disebutkan siapa manufaktur pembuatnya, RAM 1 GB plus ditunjang GPU Mali 400MP, memang memberikan performa yang lumayan. Walau tidak bebas dari lag. Seringkali saya merasa ponsel ini perlu proses berfikir yang cukup lama untuk membuka satu aplikasi, rasa-rasanya ponsel ini ingin berkata “Hmm.. Buka nggak ya.. Buka nggak ya.. Ah, buka ajadeh”.

Beberapa kali saya juga merasa launcher bawaan SPC Z2 Orion ini tersendat dan agak ‘seret’ saat menjelajah antarmukanya. Maka dari itu, saya lebih memilih untuk menggunakan launcher pihak ketiga, Nova Launcher. Yang ternyata memang memberikan performa yang lebih baik pada ponsel ini.

Kamera Apa Adanya


Mengsung kamera belakang beresolusi 8 MP dan kamera depan 5 MP, foto yang dihasilkan oleh kamera ini biasa-biasa saja. Sesuai lah dengan harganya. Intinya, yang penting foto masih kelihatan, hehe. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah hasil foto dari kamera SPC Z2 Orion.

Platform

Dianugerahi sistem operasi Android 6.0 Marshmallow yang hampir murni, membuat SPC Z2 Orion minim akan kustomisasi. Selama penggunaan saya beberapa hari, saya hanya menemukan dua fitur yang tidak ada pada Android default.

Pertama adalah kustomisasi fungsi tombol kapasitif, yang mana membuat kita bisa mengatur fungsi dari 3 tombol dibawah layar tersebut. Misalnya, ketuk tombol home dua kali untuk mematikan layar.

Kedua, ponsel ini memiliki fitur gesture semacam ketuk dua kali untuk membangunkan ponsel atau istilah kerennya double tap to wake, membentuk huruf C di layar ketika mati untuk membuka menu panggilan dan lain-lain. And It’s enough to surprise me that these features could run pretty well.

Baterai


Untuk masalah baterai, sayangnya saya tidak menguji kemampuannya secara intens. Saat digunakan untuk streaming YouTube secara terus menerus, ponsel ini mampu memberikan screen on time sekitar 3 jam. Patut diketahui. screen on time tersebut saya dapatkan ketika menggunakan SPC Z2 Orion dalam keadaan terkoneksi dengan wifi dan tanpa kartu sim. Dan saya belum menguji kemampuan baterainya saat digunakan dalam kondisi terkoneksi jaringan 3G.

Kesimpulannya

Sebagai catatan, ponsel ini tidak mendukung konektivitas 4G. Sehingga, apabila kamu mencari smartphone untuk mengincar paket-paket internet murah, ponsel ini jelas bukanlah pilihan yang tepat. Namun apabila kamu mencari smartphone terkhusus untuk orang tua ataupun smartphone cadangan dengan performa lumayan, layar besar dan desain yang nggak memalukan, SPC Z2 Orion adalah jawaban yang paling tepat.

Kelebihan

  • Harga murah
  • Layar besar
  • Desain cantik
  • Layar sudah 2.5D
  • Bonus ultra-thin case dan screen protector
  • Android Marshmallow

Kekurangan

  • Tidak support 4G
  • Performa biasa saja
  • Layar kusam dan resolusi rendah


Selasa, 05 September 2017

Surface Pro 2 di Tahun 2017, Masih Oke? #REVIEWBERFAEDAH

Review Surface Pro 2 di 2017

Sejak membaca artikel perilisan tablet Microsoft Surface pada tahun 2013, saya merasa perangkat tersebut adalah salah satu keajaiban yang diciptakan oleh para enggineer. Gimana enggak? Sebuah tablet yang berukuran sangat kompak hanya 10.1 inch, memiliki jeroan spesifikasi dan kemampuan layaknya laptop pada umumnya, malah bisa lebih. Kan saya jadi pengen pakai banget.

Alhamdulillah-nya, saya akhirnya punya kesempatan untuk memiliki tablet besutan Microsoft tersebut. Walaupun harus menunggu selama 4 tahun lebih plus Surface yang saya beli bisa dibilang seri jadul, Surface Pro 2 - sekarang sudah keluar Surface generasi ke-5. Yah, yang penting saya bisa punya saja sudah untung.

Nah kalau begitu, apakah Surface Pro 2 yang rilis di akhir 2013 ini masih relevan dan cocok dipakai di tahun 2017 dan apa saja kelebihan dan kekurangannya. Simak ulasan saya yang sudah memakai tablet konvertibel ini selama hampir 5 bulan ini ya.

Lebih-Lebihnya

1. Desainnya Oke, Pakai Banget!

Review Surface Pro 2 di 2017
Desainnya Chantique ya?

Walaupun Surface Pro 2 adalah perangkat yang dirilis ditahun 2013, desainnya masih sangat pantas untuk dipakai mejeng dimana-mana. Ukurannya kecil, ringkas, ringan apalagi kalau pakai keyboard cover yang warna-warni, desain tablet ini pasti kelihatan ngejreng banget - saya punya keyboard cover warna cyan blue.

Oh ya, tablet ini dibalut material metal diseluruh body-nya dan saya yakin ini kokoh banget. Pernah sekali saya tidak sengaja menjatuhkan tablet ini dari atas kursi kelas, hasilnya? Tidak apa-apa... Tidak apa-apa... Sepertinya, Microsoft memang membuat konstruksi laptop ini dengan sangat baik, well done Microsoft!.

2. Layar Jernih, Sejernih Air Mata Tinkerbell

Review Surface Pro 2 di 2017

Surface Pro 2 mengusung layar 10.1 inch berjenis IPS beresolusi Full HD (1920 x 1080 pixel), yang mana membuat layar tablet ini tajam pakai banget. Apalagi layarnya juga mendukung touchscreen, sehingga pengalaman menggunakan Windows 10 akan lebih maksimal.

Dan Kalau dibandingkan laptop-laptop kelas menengah, kualitas layar Surface Pro 2 ini sangat jauh berada diatasnya. Ditambah lagi, layarnya sudah memakai perlindungan Gorilla Glass - saya belum tahu sih versi berapa.

3. Performa Ngebut

Disokong prosesor Intel Core i5 4200U ditunjang RAM sebesar 4 GB, membuat performa tablet ini berjalan sangat smooth. Sangat jarang saya rasakan lag ataupun lemot. Membuka banyak tab di Opera, membuka  Adobe Photoshop, edit video lewat Adobe Premiere, dengan sinkronisasi semua sosial media semacam Instagram, Facebook dan juga aplikasi penyimpanan One Drive hidup, semuanya dapat dijalani tanpa masalah. Inilah hal positif dari perangkat-perangkat yang memang dikembangkan sendiri oleh si pengembang software. Disini, Microsoft benar-benar mengoptimalkan perangkat tablet yang walaupun sudah berumur 4 tahun, tetap terasa responsif dan smooth.

4. Stylus Pen

Review Surface Pro 2 di 2017

Kelebihan layar Surface Pro 2 selain bisa disentuh, juga dapat merespon stylus pen besutan Wacom yang disertakan dipaket penjualannya. Bagi seorang desainer, fitur ini pasti sangatlah penting, apalagi stylus pen yang disertakan memiliki sensitifitas tekanan hingga 1024 titik. Walaupun saya bukanlah desainer, tapi fitur-fitur pendukung seperti sketch screen sangat membantu saya dalam kegiatan sehari-hari, karena mencatat hal-hal kecil jadi sangat mudah dan lebih cepat. Atau kalau saya sedang tidak ada kerjaan atau bahasa kerennya 'gabut', saya bisa menggambar tanpa perlu menghabiskan kertas. Serius deh, menggambar di layar Surface Pro 2 ini enak banget.

5. Windows 10

Review Surface Pro 2 di 2017

Windows 10 memang bisa digunakan diberbagai PC dan laptop baik murah ataupun mahal. Tapi serius, karena ini perangkat besutan Microsoft yang mana adalah si empunya Windows 10, saya merasa Windows 10 Pro berjalan sangat baik bahkan lebih baik dibanding laptop-laptop teman saya yang notabene punya spesifikasi lebih tinggi.

Apalagi karena Windows 10 memang dioptimalkan untuk perangkat touchscreen ditambah dukungan-dukungan aplikasi populer semacam Instagram, Facebook dan Twitter membuat tablet ini sangat asyik digunakan untuk bermain sekaligus bekerja. 

Kurang-Kurangnya

1. Baterai Boros

Baterai boros adalah kekurangan yang menurut saya paling mengganggu. Bagaimana tidak? Dalam satu kali charge, laptop ini hanya bisa bertahan 3 sampai 4 jam. Hal tersebut mungkin terjadi karena isu battery drain yang ada di Surface Pro 2 setelah di upgrade ke Windows 10. Seperti yang banyak didiskusikan para pengguna Surface Pro 2 di forum windowscentral.com. 

Apakah ada solusinya?

Microsoft tidak memberikan tanggapan apapun terkait isu ini, namun mereka menyarankan untuk selalu menggunakan Surface Pro 2 dalam keadaan terhubung dengan charger apabila memungkinkan. Hmm, repot juga sih.

2. Panas

Saat digunakan terlalu lama dengan beban kerja yang cukup intens, panas terasa di body Surface Pro 2 ini sedikit berlebihan. Entah saya kurang tahu, apakah ini karena masalah software atau karena material metal yang menyelimuti body adalah konduktor panas.

Kesimpulannya?

Untuk sebuah perangkat yang dirilis tahun 2013, Surface Pro 2 adalah perangkat yang hebat. Hebat untuk diajak bermain dan bekerja. Semuanya bisa berjalan dengan lancar dan optimal. Hanya saja, performa baterai yang buruk dan panas yang berlebih, membuat kenyamanan menggunakan Surface Pro 2 menjadi sedikit banyak berkurang.

Minggu, 27 Agustus 2017

Tips Cari Magang yang Lebih Gampang #TIPSAEDAH

Sumber: Freepik

Rasa-rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Maklum, saya sedang jadi orang sibuk baru hehe. Alhamdulillah, saya sekarang sedang menjalani masa magang atau bahasa kerennya internship program di Dentsu Impact, salah satu anak perusahaan agensi iklan Dentsu Aegis Network, yang bisa dibilang salah satu perusahaan iklan terbesar di Indonesia. Ih, saya jadi bangga hehe.

Tapi kali ini, saya belum akan membahas pengalaman magang saya, namun lebih kepada berbagi “bagaimana proses untuk mendapatkan magang, tapi tidak ada kenalan orang dalam” yang semoga saja bisa membantu teman-teman. Penasaran? Ini dia tipsnya.

Studentjob.co.id


Pasti banyak dari teman-teman yang sudah tahu akan website penyedia informasi pekerjaan ini. Teman-teman hanya perlu klik menubar “Magang” di halaman utama web studentjob.co.id, maka akan terpampang daftar lowongan-lowongan magang yang berasal dari startup dan juga perusahaan-perusahaan besar. Dan cara mendaftarnya, tinggal klik “apply”, unggah CV, dan berdoalah untuk segera dihubungi perusahaan yang kamu tuju.

Kunjungi Website Perusahaannya

Tampilan laman tokopedia.com/career

Apabila kamu membidik perusahaan besar semacam Unilever dan beberapa startup seperti Tokopedia dan Bukalapak, kebanyakan dari mereka menyediakan berbagai informasi seperti intership vacancy melalui website perusahaan. Contohnya Tokopedia, apabila kamu mau magang disalah satu online marketplace terbesar di Indonesia ini, cukup buka http://www.tokopedia.com/career maka akan muncul berbagai lowongan diberbagai bidang pekerjaan, baik untuk program internship maupun recruitment.


“Terus, kalo diwebsitenya ngga tersedia laman khusus informasi pekerjaan dan juga nggak nyebarin ke website-website semacam Studentjob?


Disetiap website perusahaan, pasti ada laman “Contact Us” yang mencantumkan berbagai kontak yang dapat dihubungi oleh publik. Nah, tinggal tanyakan saja melalui kontak e-mail atau telepon yang tersedia, apakah ada lowongan magang. Mudah bukan?

LinkedIn

Sumber: Freepik

Situs jejaring sosial yang berorientasi bisnis ini bisa jadi media yang ampuh bagi teman-teman yang sedang mencari tempat magang. Saya pribadi menggunakan LinkedIn untuk mendapatkan kontak “orang-orang dalam”.

Caranya?”

Saya akan membagikan pengalaman saya dengan jejaring sosial milik Microsoft ini. Yang pertama setelah membuat akun LinkedIn, saya langsung “Connect” atau bahasa sederhananya Follow orang-orang yang berprofesi copywriter, sesuai dengan profesi yang saya inginkan. Atau jika ingin membidik perusahaannya, cukup cari nama perusahaan, maka akan muncul daftar pekerja di perusahaan tersebut. Setelah dikonfirmasi, kita bisa mengirim pesan baik melalui fitur chat yang tersedia, maupun kontak pribadi semacam e-mail atau nomor telepon, tentang lowongan magang. Dan cara ini terbukti ampuh, bagi kamu yang tidak punya kenalan “orang-orang dalam”. Dan alhamdulillah-nya, saya menghubungi seorang creative director yang sangat baik, tidak lama saya mengirim pesan, ia langsung memberikan respon agar saya segera mengirim CV dan portfolio ke e-mailnya. Sungguh beruntungnya saya hehe.

Sosmed: Facebook, Twitter, Instagram

Grup Facebook Ahensi Ex Ahensi

Ada beberapa akun sosial media yang dengan baik hatinya membagikan berbagai lowongan pekerjaan, baik magang, part time, maupun recruitment secara gratis. Salah satu contohnya adalah akun Twitter: @KampusUpdate yang menyediakan update lowongan pekerjaan secara berkala. Semoga admin-admin dibelakang akun-akun semacam Kampus Update diberi kelapangan rejeki dan balasan pahala yang besar ya, hehe.

Dan apabila teman-teman adalah mahasiswa ilmu komunikasi atau desain komunikasi visual, tidak ada salahnya untuk mencoba bergabung disalah satu grup Facebook yang berisi praktisi-praktisi iklan, Ahensi Ex Ahensi. Grup Facebook yang beranggotakan lebih dari 36 ribu manusia-manusia keren tersebut seringkali menyediakan informasi lowongan pekerjaan yang bersumber langsung dari “orang-orang dalam”, keren bukan?
Diberdayakan oleh Blogger.

My Instagram

Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.