Anang Filya

Tuesday, January 22, 2019

Case Macbook Pro 100 Ribuan Paling Mantul #REVIEWBERFAEDAH




Setelah kira-kira sebulan pasca pembelian Macbook Pro 2017 non-touchbar, saya akhirnya membeli sebuah softcase atau sleeve atau tas atau apalah itu namanya, untuk laptop mahal yang bikin tabungan saya habis ini -takut lecet cin.

Akhirnya, mulailah saya mengubek-ubek Tokopedia untuk mencari-cari softcase yang terbaik.

Wiiih, yang terbaik banget nih?


Lho, iya dong, memilih barang itu harus yang terbaik dong. Tapi, untuk jadi yang terbaik versi saya itu gampang banget, cuma butuh dua hal: pertama, harganya harus murah -wajib banget murah; kedua, desainnya nggak norak.

Gampang kan?

Setelah pencarian yang panjang (baca: seminggu), akhirnya saya menemukan satu  seller yang menjual  softcase yang sesuai dengan kriteria bagus ala saya. 





Langsung checkout, bayar dan akhirnya sampai di tangan. Seller sangat responsif, walaupun saya hanya menggunakan J&T Reguler, tapi paket bisa sampai keesokan harinya.

Terus, kualitasnya gimana Nang?

Jujur saya nggak kepikiran kalau tas laptop atau softcase dengan harga Rp110.000,- bisa ngasih kualitas yang bagus gini. Memang bisa dibilang standar apabila dibandingkan dengan tas laptop ternama, hanya saja 'hey manusia!', kita harus ingat bahwa ini adalah barang murah.

Dua hal yang paling saya suka dari tas atau softcase atau sleeve ini adalah desain yang  simple dan minimalis, dan yang kedua bagian dalamnya terasa sangat lembut dengan tekstur bulu halus, sehingga memberikan proteksi tambahan, jadi terasa lebih aman. Berikut adalah contoh gambar dari softcase Macbook Pro 2017 tanpa merek ini.

Bagian Dalam Softcase Macbook Pro 2017


Tampak Luar Sleeve


Kantung Tambahan



Intinya sih, dengan harga Rp110.000,- plus ongkir Rp10.000,- saya bisa mendapatkan tas/sleeve/softcase Macbook Pro 2017 yang elegan, keren, dan lumayan berkualitas. Saya nggak mau protes, intinya ini udah bagus. Oh ya, bagi temen-temen yang punya laptop selain Macbook Pro 13.13 2017, seller juga menyediakan variasi ukuran untuk laptop lain. Intinya, dipas-pasin aja, karena ini universal kok.





Monday, January 14, 2019

Servis iPhone di iColor: Cepet sih tapi... #ReviewBerfaedah

Sudah hampir 3 bulanan mikrofon bagian depan iPhone 6 saya nggak bisa berfungsi. Hal tersebut saya ketahui saat ponsel jadul saya tersebut nggak bisa digunakan untuk menjalankan fitur Siri, nggak bisa merekam suara saat menggunakan kamera depan, serta saat saya melakukan panggilan video, lawan bicara nggak bisa mendengar suara apapun. Kesel!

Untuk informasi, iPhone 6 dan versi setelahnya memiliki 3 mikrofon. Satu, mikrofon bagian bawah yang berada di bagian bawah ponsel di samping port lightning, satu mikrofon depan yang letaknya berada satu area dengan earpiece. Kemudian satu lagi berada di samping kamera belakang. Lebih jelasnya, teman-teman bisa lihat gambar dari Apple Support di bawah ini.

Sumber: https://support.apple.com/library/content/dam/edam/applecare/images/en_US/iphone/iphone6/iphone6-mic-locations.png

Kok bisa gitu? Penyebabnya apa yah?

Jujur saya juga nggak tahu. Kemungkinan besar sih karena saya seringkali menggunakan iPhone saat tangan basah, entah sehabis mandi ataupun wudhu -alim bat gue. Dan perkiraan saya, mikrofon depan iPhone 6 saya tersebut terkena air dan akhirnya metong dan nggak berfungsi.


Akhirnya Milih Servis di iColor 

Sudah nggak tahan dengan masalah mikropon depan tersebut, akhirnya saya mulai mencari info servis iPhone di Jakarta. Ada buanyak sekali ternyata. Namun pada akhirnya saya memilih iColor karena beberapa alasan.

Harga relatif murah

Sebagai orang yang orientasinya harga murah -maklum syobat misqueen- daftar harga servis di iColor menurut saya paling masuk akal. Nggak kemurahan seperti beberapa tempat servis online, nggak kemahalan seperti service center distributor resmi seperti iBox. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah daftar harga servis di iColor yang saya dapat dari akun instagrammnya.




Tapi kan iBox kualitasnya terjamin?
Iya sih, hanya saja bagi saya yang penting iPhone 6 jadul ini masih berfungsi dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Lagipula servis mahal-mahal agak kurang penting mengingat umur ponsel ini juga nggak akan lama lagi, tinggal menunggu Apple memberhentikan update iOS. Dan saat itu terjadi, semoga saya dapet rezeki buat beli ponsel baru lagi.

Sehingga, Melihat daftar harga tersebut, saya memutuskan untuk servis mikrofon (Rp200.000,-) dan baterai (Rm250.000,-), sehingga total harga servis iPhone saya adalah Rp450.000,-. Kalo servis di iBox, pasti bikin kantong saya menangysss.

Statusnya PT

Statusnya sudah PT atau Perseroan Terbatas membuat saya yakin dengan kredibilitas iColor sebagai tempat servis iDevice yang yahud. Seenggaknya, iColor ini sudah punya sertifikat badan usaha dibandingkan tempat servis online yang sejenis.

Testimoni bejibun

Nggak diragukan lagi, apabila temen-temen buka instagram iColor, lihat testimoninya. Mulai dari rakyat jelata dan netizen julid sampai public figure bilang kalau pelayanan iColor ini yahud. 

Ya namanya testimoni jelas dibagus-bagusin kan Nang?

Hmm.. bener juga. Tapi memang nggak bisa disangkal kalau banyaknya testimoni ini membuat keraguan-keraguan dalam hati yang rapuh jadi semakin pudar. 

And those all the reasons why I choose iColor.

Berangkat ke iColor

Sudah yakin dengan iColor, akhirnya saya dan satu teman cantik saya yang kebetulan layar iPhone-nya pecah berangkat ke Head Office PT iColor Indonesia yang beralamat di Thamrin City Office Center Lantai 7 No. 733, Jl. Thamrin Boulevard, Tanah Abang, Kebon Melati, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10230.

Kalau bingung, tinggal ke Thamrin City Office Center naik Go-Jek, terus tinggal tanya Bapak Satpam mau ke iColor, pasti Bapak Satpam akan memberikan jalan yang benar dan lurus tanpa tersesat.

Saat itu saya sampai di tempat iColor pada hari Minggu pukul 17.30 WIB. Agak was-was dan takut udah tutup karena di website resminya, iColor hanya buka sampai pukul 18.00 WIB setiap akhir pekan.

Tapi pas sudah sampai di tempatnya, Mbak-mbak resepsionis bilang kalau iColor tutupnya jam 20.00. Nggak tau deh kenapa bisa begitu. Mungkin Mbak-Mbak resepsionisnya kasihan sama saya.

Servisnya Ngebut

Sesampainya di tempat, saya langsung mengambil nomor antrian -yang untung saja antriannya sedikit. Mbak-mbak Resepsionis akan menanyakan terkait masalah yang ada pada ponsel. Setelah itu, bagian belakang ponsel saya ditempeli stiker form yang mengharuskan saya menulis nama, alamat e-mail, nomor ponsel, kata sandi ponsel (kalau ada), dan daftar masalah yang terjadi.

Setelah itu, ponsel di titipkan ke meja resepsionis dan saya beserta teman saya disuruh untuk menunggu maksimal 1 jam.

What servis iPhone bongkar-bongkaran cuma satu jam?

Iyapss, benar sekali. Dan ternyata memang secepat itu. Setelah menitipkan ponsel di meja resepsionis, saya dan teman saya pergi berkeliling Thamrin City untuk membeli makanan kemudian kembali kurang dari satu jam setelahnya. 

Dan ketika kami bertanya "Mbak untuk yang atas nama Anang dan Ferren udah selesai", Mbak-mbak resepsionis dengan wajah bahagia memberikan ponsel kesayangan saya dan teman saya yang sudah sehat walafiat. Impressive!

Eh tapi...

Walaupun pelayanan iColor terasa pas, bukan berarti nggak ada kekurangannya sama sekali. Sebagai orang yang sangat suka membicarakan keburukan dunia, iColor juga nggak lepas dari hal tersebut. Contohnya seperti hal-hal berikut ini:

Kurang teliti

Jadi, setelah iPhone saya dan teman saya selesai diservis, saya dan teman saya mulai mengecek hasil servis dari iColor. Ternyata setelah iPhone 6s milik teman saya diganti LCD-nya, touch ID-nya nggak bisa membaca sidik jari. Akhirnya, kami harus menunggu kembali sekitar 30 menit untuk perbaikan ulang. Hmmm...

Harga emang murah, ternyata kualitas juga...

Mau sampe kapanpun, pribahasa "Ada harga, ada rupa" nggak bakal kedaluwarsa. Nah di sini, saya sadar kalau iColor sudah menawarkan harga yang super duper murah dengan beragam keunggulannya dibanding service center yang resmi. Jadi saya juga nggak bakal berekspektasi berlebihan terhadap apa yang akan saya dapat.

Contohnya, saat Mbak-mbak resepsionis memberi tahu saya sesaat setelah ponsel saya selesai diservis bahwa mikrofon bagian depan ternyata satu modul dengan earpiece dan kamera depan. Yang artinya, walaupun saya cuma pengin ganti mikrofon doang, secara otomatis saya juga mengganti kamera depan.

Terus kualitas kamera depannya gimana Nang?

Jueleekkkk, jelek banget, jauh dari yang original. Ini adalah hasil selfie beberapa jam sebelum iPhone diservis dan setelah diservis. Maaf mukanya kurang gudluking. Teman-teman bisa nilai sendiri.


Sebelum kamera depan diganti

Kamera depan setelah diganti
Tapi, tapi, sekali lagi saya nggak mau protes. Masa udah dikasih harga murah masih protes. Apalagi hingga saat ini, sudah lebih dari sebulan pemakaian, semuanya oke-oke saja. Baterai awet, mikrofon dan kamera depan walaupun jelek juga tetap berfungsi dengan baik.

Kesimpulan

Bagi teman-teman yang memiliki iDevice error atau rusak, iColor ini recommended  kok. Walaupun komponennya bukan yang 100% original by Apple, namun pelayanannya dan kualitas cukup oke. Yang paling penting, iColor ini memberi garansi 3 bulan -tempat servis lain biasanya cuma seminggu- yang artinya mereka memang menjamin setiap pelayanannya. Tapi, kita juga harus tetep cek dan ricek agar nggak kejadian seperti teman saya di atas.

Oh ya, sekarang iColor juga menawarkan premium quality by Apple yang katanya kualitasnya original by Apple, namun untuk harga juga dua kali lipat lebih mahal. So, it's all in your hand, mau pilih yang murah atau yang mahal, tergantung isi dompet.

Tuesday, November 20, 2018

Shooting Pertama Saya: Akhirnya Makan Steak! #TidakBerfaedah

Tidak terasa ternyata saya sudah bekerja sebagai copywriter di sebuah biro iklan selama hampir 6 bulan  –waktu emang berjalan cepet banget. Selama 6 bulan itulah, saya mulai mengerti bagaimana sistem kerja perusahaan yang komoditasnya adalah ide, ide, ide.

Apakah seru?

Sejauh ini saya menikmati pekerjaan ini. Walaupun perusahaan saya bekerja sekarang adalah tempat di mana saya melaksanakan program magang, ternyata menjadi karyawan berarti tanggung jawab yang diemban lebih besar. Bukan sekadar bantu-bantu, tapi juga harus bisa jadi 'sesuatu', yang bikin perusahaan tetap jalan'.

Alhamdulillahnya, walaupun saya ini sering lupa sama nikmat yang diberikan Tuhan, tapi Tuhan selalu memberikan kemudahan saya dalam menjalani kehidupan dan pekerjaan. Buktinya, alhamdulillah lagi selama 6 bulan bekerja, ide yang saya buat berhasil memenangkan satu pithcing dari brand ternama dalam dunia konstruksi dan satu video digital untuk brand cemilan orang kaya.

Alhamdulillah, makasih ya Allah.

Jelas sebagai mahasiswa dari kampung yang bahkan saat ini masih semester 7 kayak saya, rasanya hal tersebut tidak pernah terbayangkan bisa terjadi.

Dan pada tanggal 20 November kemarin, akhirnya hari yang ditunggu tiba.

Hari apatu?

Hari mulainya shooting untuk video digital pertama saya!


Setelah seminggu menyusun konsep dan storyline hingga pukul 1 pagi bersama tim, akhirnya satu cerita kreasi saya dan teman-teman diterima oleh klien dan dieksekusi untuk dijadikan konten video digital Hari Ibu. Butuh waktu cukup panjang memang untuk sampai ke tahap ini.

Mulai dari nyusun cerita, presentasi, revisi ini itu, milih director, dan proses-proses lain yang bikin saya anak newbie ini ngeluh "haduh ini ribet amat yak".

Dan setelah proses panjang tersebut, akhirnya tim klien dan tim agensi sepakat untuk melaksanakan proses pengambilan gambar selama dua hari di tanggal 20 dan 22 November 2018.


Sampe sini aja...

Penginnya saya bisa menulis lebih panjang lagi dan menceritakan pengalaman shooting perdana ini, namun apadaya, pekerjaan terlalu banyak dan agak sulit menemukan waktu yang tepat untuk tidak merasa lelah. Intinya, saya hanya bisa bersyukur, dengan pekerjaan saya sekarang, saya bisa mendapatkan banyak fasilitas dan pengalaman yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Namun yang paling mengesankan selain proses belajar dari kegiatan pengambilan gambar adalah, saya bisa makan steak. Dahulu saya hanya bisa bercanda "Nih, gue bawa bekel steak" saat salah satu teman sekelas bertanya bawa bekal apa. Sekarang, alhamdulillah saya bisa mencicipi daging panggang mahal yang ternyata rasanya tidak seenak sate. Sumpah, lebih enak sate.



Sunday, November 4, 2018

Saya Berubah, Apakah Ini Salah Jakarta? #TIDAKBERFAEDAH



Tiga tahun yang lalu, ketika saya memutuskan untuk kuliah di Jakarta, tidak pernah terpikir bahwa nilai-nilai  yang ada dalam diri saya sebagai anak muda yang lahir dari kampung akan berubah. Saya pikir proteksi yang ada dalam diri saya sudah cukup kuat. 

"Gue punya pendirian kok! Pergaulan Jakarta mah nggak bakal ngaruh"

Saya tahu, bahwa nilai-nilai yang saya bawa dari kampung saya pikir akan terus menerus melekat dalam diri saya –karena hal tersebutlah yang saya inginkan. Input-input dari luar semacam budaya dan pergaulan ekstrim anak jekardah tidak akan mempengaruhi nilai-nilai yang sudah terlebih dahulu lama tinggal di diri saya ini.

Saya jadi ingat saat salah satu adik kelas semasa SMK yang saya rekomendasikan untuk masuk ke perguruan tinggi di mana saya belajar sekarang via jalur beasiswa. Sebagai seorang individu yang sangat awam terhadap kota besar semacam Jakarta, ia jelas bertanya kepada yang saya sudah punya sedikit pengalaman. Mulai dari pertanyaan umum seperti:

"Kak, makanan di Jakarta mahal nggak?"
"Sebulan habis berapa?"
"Kosan ada yang murah nggak"

Hingga pertanyaan yang bikin saya jadi mikir "Ni anak apaan sih", seperti:

"Pergaulan di Jakarta gimana kak? Saya takut terjerumus soalnya"

Untuk pertanyaan terakhir, jelas saya menjawab dengan amat pede "Yah, itumah tergantung orang. Emang nggak kayak di Metro (Lampung) orang kebanyakan begitu-begitu, kalo di sini yang mabok-mabok an ada, yang nakal ada, tapi yang baik juga banyak, ada organisasi dakwah kampus semacam ROHIS di SMK. Itumah tergantung kitanya aja, percaya, begituan mah nggak ngaruh".

Saya paham kenapa adik kelas saya bertanya hal tersebut. Sebagai anak yang sangat aktif di kegiatan ekstrakurikuler ROHIS (Rohani Islam) di SMK –tidak seperti saya yang males-malesan– dia memang terkenal alim, pinter ngaji, dan segalanya yang baik-baik. Lingkungan adalah salah satu yang terpenting agar karakter baiknya dan nilai-nilai Islam yang kuat bisa selalu lestari di dalam dirinya. 

Dan pada keputusan final, adik kelas saya tersebut menolak untuk melanjutkan pendidikannya di Jakarta, padahal dia sudah lolos tahap final beasiswa. Alasannya bukan karena biaya hidup mahal atau yang lain, tapi karena "takut pergaulannya".

Dari situ, jiwa sok pede saya sebagai manusia biasa yang nyinyirnya luar baisa berkomentar,"yaelah, itumah tergantung pendirian orangnya! pergaulan Jakarta mah nggak ngaruh". Lagi dan lagi.

Lingkaran Pertemanan

Tiga setengah tahun saya sudah menginjakkan kaki di Jakarta, suka tidak suka, di sinilah saya sekarang. Kepedean saya bahwa saya akan tetap jadi 'Anang yang dulu' masih ada. Apalagi saya dikelilingi oleh orang-orang yang jauh dari hal-hal yang bisa membuat ibu saya bilang "Nakal banget kamu sekarang".

Mau apa? Teman-teman saya sebagian besar adalah ukhti-ukhti baik hati yang akhlak terpujinya saja bisa nampak dari jarak ratusan meter. Saya juga tidak pernah ikut mabu-mabu –boro-boro mabuk, minum Marimas dua gelas aja radang tenggorokan, tidak pernah icip-icip rokok. Intinya tidak pernah melakukan hal-hal yang menjadi simbol anak nakal secara eksplisit. 

Jadi intinya, saya masih baik-baik aja dong ya? Pergaulan Jakarta tidak ada pengaruhnya dong kalau gitu.

Ternyata enggak...

Saya sekarang sadar, perubahan nilai-nilai yang ada dalam diri saya ini bukan hanya sebatas hal-hal simbolik anak nakal seperti, tidak merokok, tidak mabu-mabu, atau tidak dugem-dugem. Namun lebih kepada bagaimana sekarang saya memandang dunia dan cara saya berperilaku.

Apabila dihitung sejak saya lahir hingga lulus Sekolah Menengah Kejuruan –18 tahun saya hidup, selama periode itu, tidak lebih dari 10 kali saya berkata kasar. Suer deh! Bahkan untuk sekedar ngomong "Cuk!" yang biasanya menjadi kata pengganti panggilan akrab ke teman.

Selama periode waktu tersebut, saya berpikir "Emang apa untungnya sih ngomong kasar".

Hingga akhirnya saya menginjakkan kaki di Jakarta, telinga saya yang masih bersih ini terkejut akan kata imbuhan anak-anak Jekardah saat mereka berbicara. Bikin sakit telinga.

Setiap kalimat seringkali diimbuhi "Njing! Tot! Bege! Jir!" dan imbuhan-imbuhan lain yang dulunya bikin saya sakit telinga.

Eh tapi sekarang, saya jadi bagian dari budaya tersebut.

Pada awalnya, saya menggunakan bahasa-bahasa tersebut hanya sebagai bahan candaan dengan beberapa teman dan lama kelamaan malah menjadi sebuah kebiasaan. Duh, miris!

Tidak berhenti sampai situ, dulu saya adalah orang yang anti akan hal-hal yang identik dengan simbol nakal. Pokoknya persepsi saya "duh, ngapain sih ngerokok, minum-minum, dugem, kek ada manfaatnya, cuma ngabisin duit doang ". Untuk dicatat, hal tersebut berlaku untuk diri saya sendiri, bukan untuk menghakimi orang lain.

Eh tapi eh tapi, makin ke sini, saya malah punya pemikiran lain. Dari yang dulunya anti, sekarang jadi "yah, sekali-kali nyoba boleh kali ya suatu saat nanti".

Mulai dari hal tersebut saya merasa ada sesuatu yang bergeser dari diri saya. Nilai-nilai yang dulu saya punya lama kelamaan menjadi pudar, lama-lama menjadi hal yang gampang untuk dikesampingkan.

Namun saya tahu ini bukan salah Jakarta, ini jelas salah saya sendiri. Apabila saya dulu bisa yakin akan proteksi diri, dan saat ini proteksi diri saya itu mulai lemah, bukan salah dari Jakarta, tapi salah dari faktor internal di mana intinya saya terlalu pede akan proteksi diri.

Jujur, saya tidak tahu bagaimana untuk kembali, karena saya juga tidak tahu bagaimana ini dimulai. Namun sekarang saya tahu, mengapa dulu adik kelas saya kekeh banget bertanya akan hal-hal yang dulu saya anggap tidak penting. Dan saya juga tahu, mengapa Ibu saya selalu menyelipkan kalimat "hati-hati yo le" di setiap akhir pembicaraan telepon.




Wednesday, August 29, 2018

Legowo Jadi Unofficial Crew of Asian Games 2018 #CERPAEDAH


Setelah kesemsem dengan Opening Ceremony Asian Games 2018 pada 18 Agustus 2018 kemarin –yang membuat saya bangga jadi warga negara Indonesia, semangat untuk mendukung Tim Indonesia memang masih membara kuat banget.

Ada banyak hal yang saya pelajari dari Asian Games 2018, mulai dari ternyata masyarakat Indonesia itu kuat banget kalau bersatu; lihat aja nggak ada yang ngemeng kalo Mas Ginting dan Jojo itu non-muslim yang nggak patut di dukung kan?

Kemudian gimana masyarakat memberi panggung kepada pecundang internet yang cuma berani komentar kasar terhadap atlet pakai akun palsu. Please orang begitu jangan dikasih panggung, cara ngebales paling tepat adalah dibiarin aja. Cause ignorance hurts more than anything else.

Hingga belajar legowo. Legowo bukan cuma karena cedera Mas Ginting yang berakibat nggak jadi dapet emas atau karena nggak dapet baju penuh keringet manja ulala yang dilempar Jojo.

Saya pribadi malah belajar legowo untuk memilih mana yang harus diutamakan dan belajar untuk nggak cepet kecewa.

Soal apatu?

Soal jadi volunteer Asian Games. Pada pertengahan Juli 2018, teman yang saya kenal dari volunteer Java Jazz selama dua tahun belakangan menawari saya untuk jadi tim volunteer di Opening & Closing Ceremony Asian Games 2018. Saya sumringah dong.

Setelah menyerah untuk nggak daftar jadi volunteer karena masalah waktu, saya malah ditawari untuk jadi kru upacara pembukaan festival olahraga terbesar se-Asia, ya siapa coba yang nggak mau jadi bagian dari sejarah. Cuss~

Namun ketika saya bertanya soal waktu, ternyata saya harus bersedia hadir setiap hari kecuali Jumat mulai awal Agustus hingga awal September. Dari situ, hati kecil saya dipenuhi oleh kekecewaan.

Ya mau gimana, saya juga baru sebulan kerja kantoran, kontrak masih lama, nggak mungkin dong resign demi Asian Games –nanti kalau resign, setelah Asian Games siapalah yang ingin men-support kehedonanqu tuk membeli makan di warteg fancy.

Nggak jadi deh jadi bagian sejarah Indonesia.

Tapi kalau dipikir-pikir...

Saya 'kan sekarang bekerja sebagai copywriter yang menangani dua official prestige partner Asian Games 2018, BANK BRI dan Pertamina. Dua brand tersebut –terutama BANK BRI– seringkali meminta saya dan tim kreatif untuk membuat materi komunikasi terkait Asian Games.

Nggak cuma satu atau dua, tapi banyak banget. Mau ke mana-mana dikejar deadline. Maklum, saya mulai kerja saat h-40 Asian Games, jadi memang lagi hectic-hectic-nya. Bahkan h-1, pada tanggal 17 Agustus 2018 yang mana seharusnya jadi hari libur, saya harus masuk untuk finalisasi pekerjaan. Sedih akutu~

Jadi kalau dipikir-pikir secara nggak langsung, dengan mengerjakan kerjaan-kerjaan yang bejibun dari BANK BRI via laptop kesayangan dengan tujuan untuk memeriahkan Asian Games, berarti saya ini juga udah jadi tim promosi Asian Games kok –menghibur diri. Walaupun yha gitu, saya tetep aja nggak dapet tiket nonton Asian Games, huft. Legowo Nang!

Thursday, August 16, 2018

Penyesalan Malam Ini #TIDAKBERFAEDAH



Baru saja merasakan kasur di kamar indekos setelah merasakan kerja lebih dari 12 jam. Hari ini adalah kali pertama saya lembur hingga pukul 23.00 setelah kurang lebih dua bulan menjadi junior copywriter di salah satu agensi iklan asal Jepang yang berlokasi di Menara Sentraya Blok M, Jakarta Selatan.

Lembur adalah hal yang sangat menyebalkan. Selain bikin capek, otak kalau sudah malam rasanya nggak bisa dipakai untuk berpikir. Namun sebab deadline yang sudah mepet bukan main, ya mau nggak mau harus lembur.

Apalagi, karena status saya masih freelance, saya tidak mendapatkan kartu gedung yang membuat saya harus menukarkan KTP di resepsionis untuk mendapatkan akses masuk gedung Menara Sentraya.

Setiap pagi saya selalu membaca tulisan "Tukar kartu pukul 09.00-22.00 via resepsionis, 22.00 - 05.00 via security room". Hal tersebut membuat saya males lembur karena apabila saya pulang melebihi pukul 22, saya harus menukarkan kartu akses ke ruang sekuriti di basement untuk mengambil kembali KTP. Rempong~

Sayangnya, malam ini adalah malam yang nggak ditunggu-tunggu. Baru pukul 23 saya menyelesaikan pekerjaan. Agar bisa pulang dengan aman dan nyaman, nggak ada pilihan lain selain mencari security room di basement.

Bersama teman satu indekos yang tidak kebetulan sedang magang di kantor saya bekerja (sebut saja Rocky), saya mencari-cari ruang sekuriti di bagian basement parkir mobil. Ketika saya sampai di lantai G, saya melihat juga ada sekelompok orang yang ternyata juga mencari ruang sekuriti.

Setelah ketemu –ruangan yang kecil untuk gedung segede Menara Sentraya, di pojok lagi– saya memasuki ruang sekuriti bersama sekelompok orang tadi. Ketika sampai giliran saya dan Rocky menukar kartu, masih tersisa bapak-bapak –sebut saja Sihombing, karena saya mendengar dia menyebut nama itu– yang saya taksir usianya 40 tahunan sedang berbicara dengan nada tinggi kepada bapak sekuriti.

"Mas ini tuh kantor, gimana coba kalo saya lembur sampe 24 jam, saya harus direpotin nyari-nyari ruangan kecil kaya gini?"

"Maaf pak, tapi kan sudah jelas di peraturan yang tertulis...."

Belum sempat Bapak Sekuriti menyelesaikan kalimatnya, si Bapak Sihombing nyaut dengan makin emosi "Saya nggak peduli sama tulisan... pokoknya ini bikin saya repot. Emang ada yang bilangin saya harus ngembaliin kartu kalo udah lebih jam 10 ke ruang ini... kan enggak"

Sepertinya Bapak Satpam tidak mau memperpanjang masalah dengan menjawab "Tapi saya kan cuma security Pak, saya cuma ikutin aturan dari atasan"

Bapak Sihombing masih nggak mau kalah, "ya makanya saya protes sama kamu, kaya gini ini tuh ngerepotin"

Dengan amat bijak Bapak Satpam menjawab, "Baik pak terimakasih masukannya, nanti akan saya sampaikan ke atasan".

Bapak Satpam memberikan KTP si Bapak Sihombing dan Bapak galak tersebut meninggalkan ruangan sekuriti meninggalkan saya, Rocky dan Pak Sekuriti.

"Sabar ya pak, kadang-kadang orang kayak tadi cuma modal ngeyel tapi kopong, saya juga jadi kezel. Padahal aturan udah jelas", kata-kata tersebut keluar dari mulut saya saat hendak menukarkan kartu akses dengan KTP milik saya. Pak Sekuriti hanya menjawab "iya mas" sembari tersenyum. Saya berpamitan dan berjalan menuju halte Transjakarta bersama Rocky.

Saat di jalanan...

Kejadiaan pereyel-eyelan Bapak Sihombing dengan Pak Sekuriti masih membekas dibenak saya kala sedang duduk di kursi Transjakarta. Kenapa kok saya tadi nggak bela Pak Sekuriti ya? Padahal saya tahu, Pak Sihombing yang ngeyel kayak ibu-ibu nawar baju anak tadi jelas-jelas salah.

Kenapa sih saya nggak berani nyautin perkataan Pak Sihombing, "Maaf Pak, saya kerja di sini nih. Memang peraturannya seperti itu, dan maaf sekali lagi mungkin Bapak harusnya cek di meja resepsionis bahwa tertulis peraturan apabila lebih dari jam 22.00, berarti Bapak memang harus mengambilnya di ruang sekuriti ini."

Karena realitanya, saya cuma jadi patung yang menyaksikan orang baik seperti Pak Sekuriti dicaci maki oleh Bapak-Bapak sotoy. Walaupun saya tahu, saya juga nggak mau memperpanjang masalah. Intinya, saya belum jadi manusia yang berani bicara untuk sesuatu yang benar.

Kacangan lo Nang!






Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.