Anang Filya

Monday, April 15, 2019

Tips Agar Podcast Cepat Terunggah di Spotify dan Apple Podcast #TIPSAEDAH



Sering banget saya dapet pertanyaan dari temen sekantor,

"eh itu kok podcast lu bisa ke-upload di Spotify? Caranya gimana? Berapa lama?."

Maklum, konten audio semacam podcast memang lagi nge-hits di kalangan anak muda yang haus akan hiburan. Apalagi semenjak Anchor kerja sama bareng Spotify, podcast jadi punya pasar yang lebih luas lagi. Makanya, temen-temen saya pada nanya gimana caranya bikin podcast di Spotify, berapa lama submintnya, dan hal-hal lain.

Daripada penasaran, nih saya jelasin satu-satu.

Kok Bisa Terunggah di Spotify? Caranya Gimana?

Ya bisa dong. Caranya gampang banget! Kalian cuma perlu upload atau bikin podcast di Anchor.fm atau Anchor app yang tersedia di Google Play Store & Apple App Store dan tunggu sampai podcast-mu tersebar di platform-platform populer. 

Podcast saya "Remah-Remah Kehidupan" hingga saat tulisan ini dipublikasikan, sudah tersedia di 9 platform populer, yakni Anchor, Apple Podcast, Spotify, Google Podcast, Pocket Cast, Breaker, Overcast, Radio Public, dan Stitcher. 

Butuh Waktu Berapa Lama?

Sebelum Remah-Remah Kehidupan, saya pernah membuat saluran podcast dengan nama saya sendiri. Dimulai dari submit audio file episode pertama, saya membutuhkanwaktu hingga 6 hari hingga saya mendapat e-mail notifikasi dari Team Anchor bahwa podcast saya sudah tersedia di Spotify dan platform lain.

Namun anehnya, saya selalu gagal menemukan podcast saya di Spotify. Ditambah lagi, podcast saya tidak berhasil tersubmit di Apple Podcast.

Akibat bingung dan malas mencari solusi, saya kemudian menghapus channel podcast tersebut dan membuat channel baru dengan nama "Remah-Remah Kehidupan".

Nggak pengin kejadian error yang sebelumnya terulang, kali ini saya langsung merekam dan mengunggah dua episode sekaligus. Ajaibnya, hanya perlu waktu dua hari untuk saya bisa mendapatkan e-mail notifikasi bahwa podcast Remah-Remah Kehidupan sudah tersedia di Spotify.

Lebih mengejutkannya lagi, enam hari kemudian, saya mendapatkan e-mail bahwa podcast saya juga telah tersubmit di Apple Podcast. Saya sih bangga banget, mengingat Apple lebih ketat menyaring konten yang masuk ke iTunes. Maka dari itu target saya di awal, yang penting tersedia di Spotify dan Google Podcast, itu sudah lebih dari cukup.

Kok Bisa Yah?

Menurut pengamatan saya pribadi sebagai manusia biasa yang suka nonton Doraemon, satu tips agar podcast dapat tersubmit lebih cepat di platform populer adalah usahakan untuk mengunggah minimal dua episode saat pertama kali membuat saluran podcast di Anchor. Nggak perlu ribet-ribet, cukup bikin Episode 0 yang mendeskripsikan apa isi podcast kamu dan Episode 1 yang isinya udah membahas tentang topik yang khusus. Gampang kan?

Selain itu, berikan deskripsi yang detail dan cover art yang berkualitas bagus. Insyaallah, di-approve deh sama Spotify dan Apple Podcast.

Jadi...

Podcast itu berfaedah dan masih belum tersentuh konten-konten alay. Bagi kalian yang merasa nggak terlalu ganteng dan nggak jago ngomong di depan kamera, podcast ini bisa jadi media kreasi yang menyenangkan.

Cuma perlu smartphone + aplikasi recorder, teman-teman bisa bikin konten yang berfaedah untuk semua orang. Jadi, udah siap bikin podcastmu sendiri?

Oh ya, jangan lupa dengerin podcast "Remah-Remah Kehidupan" di Spotify, Apple Podcast & Google Podcast yah!

Bisa didengerin di sini!








Sunday, April 7, 2019

Mau Cari Microphone Buat Podcast? Ini Rekomendasinya #REVIEWBERFAEDAH




Akhir-akhir ini, saya sebagai manusia yang mengklaim dirinya update sedang gandrung dengan konten audio bernama "podcast".

Di mulai dari iseng-iseng mendengarkan podcast Sheggario berjudul "Curhat Babu" saat sedang berada di TransJakarta pulang kantor, saya merasa podcast ini banyak faedahnya.

Alih-alih menghibur diri dengan mendengarkan musik ajep-ajep di jalan, mendengarkan podcast bisa nambah pengetahuan dan perspektif baru, pokoknya berfaedah deh.

Nah, bukan Anang namanya kalau nggak ikut-ikutan. Jadilah saya membuat saluran podcast saya yang berjudul 'Remah-Remah Kehidupan' yang isinya membahas tentang isu-isu yang sering dianggap remeh atau remah-remah dalam kehidupan manusia biasa pada umumnya. Kalau penasaran, temen-temen boleh langsung cek di Spotify, Google Podcast, Apple Podcast, atau Anchor, tinggal ketik keyword 'Remah-Remah Kehidupan'.

Promosi nih yee...

Rekaman Podcast Pake Earpod Apple

Lanjut ngomongin microphone, pada awalnya saya merekam podcast menggunakan earpod bawaan iPhone 6 saya karena saya percaya dengan standar kualitas Apple.

Hasilnya?

Sesuai perkiraan saya, hasil rekaman audio dari earpod dengan software GarageBand ini cukup oke. Memang nggak ada yang istimewa, hanya saja hasil rekamannya cukup enak didengar. Nggak terlalu noisy, nggak terlalu sember, nggak terlalu mendem, pokoknya oke. Hasil rekamannya bisa didengar di podcast saya episode kedua ini.


Lumayan oke kan?

Rekaman Podcast Pake Boya Lavalier BY-M1

Tapi bukanlah Anang kalau tidak mengutamakan tampilan dan gimmick. Bagi saya, agak gimana gitu kalau rekaman podcast terus-terusan pake earpod, kayak kurang professional gitu.

Singkatnya, mulailah saya mencari-cari mikrofon berharga murah yang hasilnya cukup oke. Coba browsing dan cari-cari ulasan, akhirnya saya membeli Boya Lavalier BY-M1 di Jakartanotebook.com seharga Rp165.000,00.





Mengapa saya memutuskan membeli Boya BY-M1 ini?
Jawabannya simpel banget! Karena sudah banyak yang mengulas dan hasilnya sih 'katanya' bagus.

Sejak hari pertama membeli, saya langsung mencoba merekam podcast dengan Boya BY-M1 via GarageBand.

Hasilnya?

Ini adalah hasil rekaman awal saya menggunakan Boya BY-M1.


Kok agak mendem yah?
Bahkan saya merasa earpod saya bisa memberikan hasil yang lebih jernih dan nggak mendem. Padahal earpod didedikasikan untuk mendengarkan musik, bukan merekam sesuatu.

Lah ini benda yang lahirnya didedikasikan buat merekam, kok hasilnya begini?

Atau jangan-jangan Boya BY-M1 yang saya beli ini palsu!!!???


Coba Utak-Atik

Nggak mau rugi, saya mencoba utak-atik setelan yang ada di GarageBand dan ternyata, it worked. Berikut adalah hasil rekaman dengan Boya BY-M1 plus settingan GarageBand ala saya.



Cukup oke kan?

Memang sih, apabila dibandingkan dengan rekaman menggunakan earpod, Boya BY-M1 ini memang agak mendem dan kurang bright karakter vokalnya. Namun satu hal yang saya suka, hasil rekaman dari Boya BY-M1 ini lebih minim noise dibandingkan dengan hasil rekaman dari earpod.



Jadi, Pilih Earpod atau Boya BY-M1

Hmmm... bagi saya ini adalah jawaban yang sulit.

Apabila teman-teman adalah pengguna perangkat Apple -punya macbook, iphone/ipad, dan earpod- nggak ada salahnya untuk menggunakan earpod sebagai perangkat untuk merekam podcast. Selain karena nggak perlu mengeluarkan budget tambahan, hasil rekaman dari earpod juga sudah cukup mumpuni dan playable. Ditambah lagi, integrasi antara hardware dan software besutan Apple itu ajib banget. Tinggal download Garageband di Mac, colokin earpod, udah deh tinggal berbacot ria tanpa perlu setting sana-sini.

Namun, apabila teman-teman bukanlah pengguna perangkat Apple, Boya BY-M1 adalah pilihan microphone yang cukup oke. Boya BY-M1 ini bisa langsung digunakan di semua perangkat, mulai dari smartphone, tablet, sampe laptop. Hasilnya juga nggak kalah mumpuni.

Hanya saja, saya selalu merekomendasikan untuk merekam podcast melalui laptop karena alasan kenyamanan mengedit dan fleksibilitas fitur yang lebih oke. Apabila pengguna Apple mempunyai software pengolah audio bernama 'GarageBand', pengguna Windows jangan sedih, ada juga software gratisan nan mumpuni bernama 'Audacity', tinggal cari di Google dan download, fiturnya nggak kalah kok -jangan sedih shay.

Hingga saat ini, walaupun saya menggunakan Mac sebagai laptop harian dan juga punya earpod, saya memilih menggunakan Boya BY-M1 karena lebih nyaman digunakan -bisa dicantelin di baju, gak repot pegang-pegang mic. Apalagi, saya juga sudah menemukan settingan yang pas untuk Boya BY-M1 ini.

Pokoknya pilih yang paling nyaman, hanya saja memang untuk saat ini Boya BY-M1 adalah microphone harga murah yang hasilnya oke untuk rekaman dengan podcast pakai device apa saja.





Sunday, February 10, 2019

Apa Bedanya Content Writer dan Copywriter? #CERPAEDAH

Saat ini saya bekerja sebagai copywriter di sebuah agensi iklan, sebelum itu saya pernah menjadi content writer bagi start up berbasis website gadget dan tekno.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya bisa katakan perbedaan antara copywriter dan content writer terletak dari tugasnya.

Seorang content writer memiliki tugas untuk membuat sebuah konten berupa tulisan yang tujuannya bermacam-macam. Bisa untuk kegiatan promosi, informasi, dan kegiatan komunikasi yang lain.

Sedangkan copywriter yang dikenal sebagai penulis naskah iklan memiliki cakupan tugas yang lebih luas. Selain membuat konten tulisan untuk sebuah iklan seperti headline, tagline, bahkan advertorial.

Copywriter juga memiliki tugas untuk memahami perencanaan strategi kreatif dan membuat konsep kreatif. Dalam hal ini, biasa berhubungan dengan pembuatan naskah iklan televisi, radio, dan kampanye.

Sehingga, seorang copywriter bisa jadi melakukan tugas yang dilakukan content writer, namun content writer biasanya lebih spesifik untuk membuat konten tulisan.

Catatan: Postingan ini adalah salinan jawaban yang saya tulis di Quora. Semoga berfaedah!

Bekerjalah Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras #CERPAEDAH

Ngomongin “kerja cerdas, bukan lebih keras” saya jadi ingat dengan partner kerja di kantor saya–mohon maap keknya bakal jadi sesi bergunjing.

Sebagai manusia yang bekerja di agensi iklan, saya memiliki dua partner kerja dengan yang berbeda satu sama lain terkait attitude kerja. Sebut saja Mr. Koala dan Mrs. Panda.

Mr. Koala adalah seorang lulusan dual-degree luar negeri yang baru bekerja sebagai freelance art director selama 6 bulan. Sedangkan Mrs. Panda lulusan kampus swasta Jakarta sebagai art director—tanpa embel-embel freelance.

Mr. Koala memiliki pandangan bahwa kerja keras adalah kerja lembur bagai quda, nginep di kantor, pokoknya hal-hal simbolis yang nampak seperti dedikasi tinggi bagi perusahaan. Padahal seringkali, kebiasaan lemburnya terjadi karena ia lebih sering berangkat siang, kerjaan dilama-lamain, akhirnya mepet deadline, klien udah ngamuk, dan akhirnya harus lembur. Ya, intinya biar kelihatan lembur dan berdedikasi tinggi.

Sedangkan Mrs. Panda memliki pandangan yang 180 derajat berbeda dari Mr. Koala. Mrs. Panda berpendapat bahwa kerja keras adalah kerja yang terorganisir. Lembur adalah hal yang unecessary dan tidak akan dilakukan sampai pada akhirnya harus dilakukan. Ia lebih sering berangkat pagi, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, nggak dilama-lamain biar mepet deadline.

Saat ia harus lembur kira-kira sampai nginep atau sampai subuh, dia akan meminta haknya agar bisa cuti pengganti di hari-hari berikutnya. Intinya, dia berpendapat “saat gue harus kerja keras buat perusahaan, perusahaan juga harus ngerti akan hak gue”. Mrs. Panda ini intinya realistis, nggak mau caper.

Pandangan Mrs. Panda seringkali jadi bahan ejekan Mr. Koala. Ia sering kali mengejek Mrs. Panda karena sering minta libur karena lembur, atau beberapa kali izin pulang duluan karena kerjaan telah selesai.

Yaelah, jam segini balik. Mana dedikasi buat kantor. Masa anak muda gampang capek, minta libur mulu, kaya gue dong, lembur nggak masalah”, ungkap Mr. Koala kepada Mrs. Panda.



Bagi saya, ungkapan “Bekerjalah lebih cerdas, bukan lebih keras” lebih bagus kalau jadi “Kerja keras dengan cerdas”, di mana hal ini dicontohkan oleh Mrs. Panda. Ia bekerja sesuai porsinya, bekerja dengan baik namun nggak terlihat ngoyo dan tahu mana yang menjadi haknya sebagai karyawan. Walaupun memang sih, kadang nggak kelihatan kalau dia nggak kerja terlalu keras.

Bagaimana dengan Mr. Koala?

Bagi saya, hal-hal simbolik yang dilakukan oleh Mr. Koala ini klise dan tindakan dari caper dan nggak esensial. Kerja dengan alur seperti itu lebih tepat dikatakan sebagai “Kerja ngoyo dan goblok” di mana ia nggak paham akan haknya sebagai karyawan, yang penting dia kelihatan kerja keras, tapi kualitas dari ‘kerja keras’ itu nggak tau deh.

Bekerja keras dengan cerdas itu kerjain dengan baik, nggak manja tapi nggak ngoyo, nggak nyakitin diri sendiri, diorganisir dengan baik, tapi hasilnya keren-keren aja.

Mon maap kepanjangan.

Catatan: Postingan ini adalah salinan dari jawaban yang saya tulis di Quora. Semoga berfaedah!

Saturday, February 2, 2019

This Is A Reality #Portfolio 1.5


Kira-kira 9 bulan yang lalu, saya mendapat sebuah pesan whatsApp dari senior copywriter di kantor saya magang dulu, 

Nang, buru bikin porto buat besok dikirim ke bos, mau jadi junior copy ga lo?”.

Saya bingung,
Saya panik,
Lha mau gimana?

Saya nggak punya banyak kerjaan yang membanggakan untuk dipajang sebagai ‘portfolio’. Hasil kerja saya kebanyakan juga berasal dari kantor magang tersebut. Itu pun nggak seberapa.

Akhirnya dengan sangat terburu-buru, saya bisa menyusun #Portfolio 1.0 : Every Little Thing That Precious. Dan gara-gara portfolio yang agak ngasal dan bantuan senior saya tersebut, alhamdulillah sekarang saya sudah bekerja sebagai copywriter selama tujuh bulan.

Tujuh bulan bukan waktu yang lama bagi sebuah pengalaman kerja, namun juga bukan waktu yang sedikit untuk saya bisa belajar banyak hal.

Dan di portofolio 1.5 ini, saya bakal kembali melakukan satu hal yang sejujurnya paling malas untuk saya lakukan; membangga-banggakan diri sendiri aku takut dosya.

Eh.. Nang, tapi kok judulnya portfolio 1.5? Bukan portfolio 2.0?

Suka-suka saya lah… Saya yang bikin...

Ehehe… nggak deng….

Kenapa 1.5, karena portfolio ini istilahnya adalah minor update dari portfolio tahun lalu. 
Portfolio 1.5 ini adalah rangkuman dari banyaknya hal penting saya pelajari saat masuk ke dunia nyata creative agency sebagai copywriter. Semoga saja tidak membosankan, jadi yuk kita mulai aja ceritanya…

First Pitching

Baru masuk sebagai karyawan kantoran selama 5 hari, tiba-tiba creative group head memberikan perintah untuk saya menjadi bagian dari tim yang mengikuti pitching brand gypsum yang katanya nomor satu di Indonesia, Jayaboard.

Creative Group Head:Nang… bantuin pitching Jayaboard yah, bikin yah kira-kira 3 alternatif cerita minimal, oh ya… buat Senin besok yah, jadi weekend dipikirin

Mantulll…

Seorang copywritercimi-cimi’ langsung disuruh bikin 3 ide storyline. 

Brief-nya jelas, Jayaboard ini sudah menjadi pemimpin pasar gypsum dan plafon selama 25 tahun di Indonesia. Nah, kali ini mereka pengin bikin TVC dan video digital macem iklan Thailand yang objektifnya memberi tahu masyarakat Indonesia dari yang jelata kayak saya– sampai kaya raya yang nggak kayak saya  bahwa Jayaboard ini ada di antara kita selama 25 tahun; menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat Indonesia. Begityu~

Akhirnya, saya merelakan Sabtu dan Minggu untuk berpikir. Tapi cara berpikir saya nggak serius-serius amat kok, karena saya mikir sambil nonton kartun favorit, Spongebob Squarepants. Dan ternyata, dari Spongebob saya bisa dapet ide!

Masih ingat episode Mr. Krab diinterogasi oleh Spongebob dan Squidward karena disangka sebagai robot? 

Di episode tersebut, benda-benda mati seperti blender, radio dan pemanggang roti dijadikan sandera oleh Spongebob agar Mr. Krab mau ngaku kalau dia adalah robot. Spongebob mikir kalau Mr. Krab adalah robot, berarti dia temenannya sama blender dan pemanggang roti.

Nah, dari episode tersebut, saya dapet kata kunci “benda mati jadi sandera”, akhirnya otak saya yang imut ini mencocokologikan dengan Jayaboard, di mana  Jayaboard adalah gypsum dan plafon yang menjadi saksi bisu kehidupan manusia.

Tuh, sama-sama benda mati yang dijadiin saksi. Nah, akhirnya saya mulai menulis storyline yang idenya adalah tentang Jayaboard yang mampu merekam kenangan, di mana kemampuan tersebut menjadikan Jayaboard saksi dalam sebuah kasus kehilangan seorang Nenek. Begini bentuk storyline + moodboard-nya…




Alhamdulillah-nya dengan cerita tersebut, tim kami menang pitching dan project Jayaboard ini telah selesai digarap, dan juga sudah diunggah di saluran YouTube Jayaboard itu sendiri. Monggo di cek.





ASIAN GAMES YAHUD

Asian Games 2018 membawa buanyak sekali kejutan bagi masyarakat Indonesia; termasuk saya. Dan sebagai copywriter yang bekerja di agensi iklan dengan dua client official prestige partner Asian Games 2018, jelas bikin kerjaan semakin yahud dan nampol.



Masih dalam ingatan, saat 17 Agustus seharusnya saya sebagai anak muda yang cinta Indonesia ikut upacara pengibaran bendera di SD-SD terdekat, eh malah berangkat ke kantor untuk menyelesaikan materi-materi promosi BANK BRI di Asian Games 2018. Mulai dari print ad, sticker gedung, sampai poster-poster dan flyer promosi.



Yah, hitung-hitung saya jadi unofficial crew of Asian Games 2018.


Aku Cinta Ibu Part #1

Sudah 3 tahun Lotte Choco Pie bekerja sama dengan kantor saya sekarang untuk menggalakkan campaign hari ibu. Intinya, Lotte Choco Pie pengin bikin brand-nya sebagai ikon hari ibu. Ingat Lotte Choco Pie, ingat hari ibu. Mirip-mirip kalo ingat bulan Ramadan, ingat Marjan.

Maka dari itu, setiap tahun saat mendekati hari ibu, tim kreatif kantor saya selalu sibuk untuk menyiapkan konsep video digital tahunan Lotte Choco Pie.

Dan untuk video digital tersebut, saya ikut jadi bagian sejak tahun 2017 saat saya magang dulu.

Tahap pertama dari pembuatan video ini adalah mendengarkan insight-insight dari para manusia-manusia pintar bertitel strategic planner.

Mereka dapat insight kalau Ibu-ibu zaman sekarang itu seringkali insecure, merasa khawatir nggak jadi ibu yang sempurna buat anaknya karena sibuk lah, karena merasa kurang ilmu lah, pokoknya macem-macem. Hal tersebut bisa jadi terjadi karena paparan ibu-ibu gaul sosmed macem Nia Ramadhani yang nampaknya hidupnya sangat sempurna sebagai ibu gaul yang syibuq tapi tetap sayang anak.

Nah, tahun ini planner mengusulkan ke client untuk mengangkat ke-insecure-an Ibu tersebut di video digital yang syarat ceritanya harus touchy tapi tetap happy dan terasa premiumnya.

Duh, mana saya susah banget relate sama yang premium-premium lagi.

Akhirnya, berangkat dari insight tadi, otak saya kembali bekerja keras. Berpikir tentang bagaimana kebiasaan ibu-ibu kaya dan premium kalau merasa insecure. 

Selama seminggu full, sehabis jam kantor, saya bersama kedua teman art director duduk di ruangan meeting untuk menajamkan 3 ide cerita dari saya. Biasanya kami selesai jam 1 malam.  Eh tapi alhamdulillah, satu cerita diterima tanpa revisi. Mantul~

Cerita yang dipilih adalah tentang seorang ibu yang merasa dirinya sangat kurang ilmu untuk mendidik anak, makanya dia selalu bawa dan baca buku yang judulnya “How to be a perfect mom” yang isinya tentang beragam tutorial untuk jadi ibu yang sempurna untuk anak, mulai dari cara bikin susu yang sempurna, cara pakein baju anak yang sempurna, cara main perosotan yang sempurna, pokoknya semua hal remeh temeh yang harus sempurna. Pokoknya cerita ini menggunakan sentuhan exaggeration atau dilebay-lebayin gitude, biar lebih menarik katanya~

Semua prosesnya asyik dan menyenangkan, walaupun output yang saya harapkan agak berbeda dengan eksekusi director. Tapi saya tetap senang bisa menjadi bagian dari project ini. Berikut saya berikan moodboard bikinan saya plus hasil jadi videonya yang sudah digarap oleh director sebagai perbandingan.


Moodboard




Lotte Choco Pie - Mother's Day Special Video



Aku Cinta Ibu Part #2

Bagian aku cinta ibu berlanjut dengan project dadakan Lotte Choco Pie yang kepengin bikin brand page untuk menjelaskan value-value mereka. 

Berawal dari satu pagi yang sangat indah, tiba-tiba seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai account executive mendatangi meja kerja saya.

AE: "Eh, Nang... bantuin bikin copy buat brand page Lotte Choco Pie dong, buat besok."

Untungnya, pada pekerjaan ini saya hanya me-retouch dari apa yang sudah dikerjakan oleh agensi digital sebelumnya. Dan tanpa sepengetahuan saya, ternyata brand page Lotte Choco Pie sudah mejeng di https://lottechocopieindonesia.com/brand-page sejak pertengahan november tahun lalu.



Ikutan Award Tapi Nggak Menang

Sebagai anak muda, jiwa-jiwa imut untuk jadi pemenang jelas berkobar membara dan untungnya kantor mau memfasilitasi saya dan satu rekan saya untuk mengikuti ajang Daun Muda Citra Pariwara 2018.

Hasilnya?

Gagal dong... 

Tapi, saya dan rekan saya nggak menyerah sampai situ. Saat mengikuti seminar Kompas Briefing Day di rangkaian Citra Pariwara 2018, mereka memberikan informasi tentang adanya kompetisi untuk membuat ide campaign bagi Kompas agar lebih relevan terhadap kalangan muda.

Dengan niatan agar melatih otak berpikir kreatif, saya dan teman saya mendaftar secara mandiri kompetisi Kompas Briefing Day. Alhamdulillah kami masuk sebagai finalist walaupun tetap nggak jadi pemenangnya. Berikut adalah file presentasi yang kami buat.



Hmmm...

Penutup Portfolio 1.5 ini nggak bakal beda jauh dari portfolio tahun kemarin. Hidup ini adalah proses dan akan selalu begitu. Saya bersyukur bisa masuk ke dalam realita dunia kreatif yang amat sangat menyenangkan dan menegangkan.

Semoga saja, Tuhan yang maha baik masih akan memberikan saya keberuntungan untuk bisa terus belajar di tempat baru dan memberikan saya semangat lebih untuk terus bisa berkarya dan lebih-lebih bisa berguna untuk orang lain. Dan semoga juga, apa yang saya tulis nggak lantas bikin saya jadi keliatan sombong, soalnya saya takut jadi orang sombong. Kan katanya kesombongan sebesar biji sawi aja bisa bikin kita nggak masuk surga. Padahal, saya aja nggak tahu bentuknya itu biji sawi kayak gimana.


Friday, January 25, 2019

Hal-Hal Penting yang Saya Dapatkan Selama Bekerja di Agensi Iklan #CERPAEDAH


Bekerja sebagai copywriter selama 7 bulan lebih di sebuah advertising agency mengajarkan banyak hal penting bagi saya sebagai manusia biasa yang banyak dosa, sering doa, tapi bikin dosa lagi. Dan anehnya, hal-hal penting ini adalah hal-hal yang seringkali saya anggap sepele dan terlalu basic untuk diingat-ingat. Namun ternyata, yang basic-basic itu kadang penting juga. Contohnya...

Harus Banget Bisa Kerjasama

Saya adalah tipikal orang yang punya prinsip "kalo bisa dikerjain sendiri, ngapain harus ngandelin orang lain. Prinsip tersebut muncul karena saya seringkali dikecewain sama temen-temen sekelompok pas kuliah.

Bilangnya tugas kelompok, eh saya yang ngerjain sendiri. Bilangnya mau bantuin cari materi dari buku, eh daftar pustakanya dari blogspot doang. Jadinya malah saya kerja dua kali. Jadi mending dikerjain sendiri.

Tapi, saat saya bekerja di agensi iklan, prinsip sok kuat saya tersebut nggak bakal berlaku.

Mau gimana coba? Semua pekerjaan dikerjain bareng-bareng. Copywriter kan kerjaannya cuma ngurusin teks, nah kalo bagian desain, ya tetep art director yang ngerjain. Dan untuk itu, copywriter tetep harus ngobrol bareng art director.

Apalagi kalo masalah ngide. Ngide nggak mungkin bisa dilakukan sendirian, wong proses pertama ngide aja brainstorming yang artinya duduk bareng buat ngobrolin masalah, mencari variasi sudut pandang dan menemukan solusi kreatifnya.

So, jelas kerja sama adalah kemampuan paling esensial apabila Kita mau menekuni dunia creative agency.


Kreatif Itu Bukan Hanya Tentang Idealisme Pribadi

Tadinya saya berpikir, agensi iklan dipenuhi oleh orang-orang kreatif yang penuh dengan idealisme-idealismenya. Tapi ternyata nggak...

Kenapa nggak?

Untuk membuat sebuah materi iklan, tidak hanya dibutuhkan pemikiran yang out of the box. Namun sebagai seorang kreatif, kita juga harus memikirkan aspek-aspek lain. Contohnya, saat membuat sebuah konsep atau ide cerita sebuah iklan televisi, kita nggak bisa serta merta bikin cerita semau udel. 

Yang harus dipikirin adalah bagimana ide itu bisa mengkombinasikan kesesuaian antara target audience, keinginan client, esensi merek, strategi komunikasi, dan aspek-aspek yang menyangkut brand itu sendiri.

Jadi, kreatif ≠ idealisme. Definisi kreatif dalam sebuah iklan adalah paduan dari ide bagus, sesuai dengan target audience, dan mampu menyampaikan pesan pemasaran.

Dan untuk sampai pada titik kreatif itu, balik lagi ke poin pertama, harus bisa kerjasama. 


Harus Open Minded & Jangan Baper

Legowo is an essential thing.

Namanya kerja sama, kita nggak bisa berpikir bahwa apa yang kita buat (baca: ide) adalah yang terbaik, karena cara kerja agensi iklan nggak kayak gitu. Kalo kita berpikiran "Ide gue ini oke banget, nggak ada yang boleh ngutak-atik" kita nggak bakal bisa berkembang.

Suatu hal yang biasa banget ketika ide yang kita anggap bagus, ternyata nggak terlalu oke buat orang lain. Dan di saat itulah, kemampuan untuk berpikiran terbuka menerima kritik dan legowo untuk menerima saran itu diperlukan.  

Jangan baper kalo ide kita dibilang biasa aja, mungkin di awal-awal kita bakal merasa insecure, merasa sebagai jiwa yang bodoh, nggak berbakat, dan pikiran-pikiran negatif yang lain. Tapi, satu hal yang penting kita harus inget, memang begitu cara kerja agency.


Dilarang Puas

Ketika kita berhasil bikin satu ide dan ide tersebut dipuji bahkan menangin pithcing atau award kita boleh banget bangga, tapi jangan puas.

Dunia kreatif itu dinamis banget, hal itu yang kadang bikin saya kewalahan untuk mengikuti alurnya -capek bat shay. Kalo hanya dengan menang satu award terus puas, pasti kita bakal kegilas sama orang lain yang terus mau belajar.


Jadi, Kesimpulannya?

Sebenarnya beberapa poin di atas adalah hal yang benar-benar basic atau bahkan bisa dibilang klise. Because you don't have to be a part of creative agency to apply those essential things. Hanya saja, konteksnya di sini saya dapet pencerahan yang kuat saat saya bekerja di creative agency ini, iya nggak? Hehe.

Dan sekali lagi, semoga hal-hal penting yang saya tulis di post ini juga akan terus langgeng ada di pikiran saya, jadi biar saya nggak cuma nulis doang tapi nggak praktekin. Hehe.


Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.