Anang Filya

Sunday, February 10, 2019

Apa Bedanya Content Writer dan Copywriter? #CERPAEDAH

Saat ini saya bekerja sebagai copywriter di sebuah agensi iklan, sebelum itu saya pernah menjadi content writer bagi start up berbasis website gadget dan tekno.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya bisa katakan perbedaan antara copywriter dan content writer terletak dari tugasnya.

Seorang content writer memiliki tugas untuk membuat sebuah konten berupa tulisan yang tujuannya bermacam-macam. Bisa untuk kegiatan promosi, informasi, dan kegiatan komunikasi yang lain.

Sedangkan copywriter yang dikenal sebagai penulis naskah iklan memiliki cakupan tugas yang lebih luas. Selain membuat konten tulisan untuk sebuah iklan seperti headline, tagline, bahkan advertorial.

Copywriter juga memiliki tugas untuk memahami perencanaan strategi kreatif dan membuat konsep kreatif. Dalam hal ini, biasa berhubungan dengan pembuatan naskah iklan televisi, radio, dan kampanye.

Sehingga, seorang copywriter bisa jadi melakukan tugas yang dilakukan content writer, namun content writer biasanya lebih spesifik untuk membuat konten tulisan.

Catatan: Postingan ini adalah salinan jawaban yang saya tulis di Quora. Semoga berfaedah!

Bekerjalah Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras #CERPAEDAH

Ngomongin “kerja cerdas, bukan lebih keras” saya jadi ingat dengan partner kerja di kantor saya–mohon maap keknya bakal jadi sesi bergunjing.

Sebagai manusia yang bekerja di agensi iklan, saya memiliki dua partner kerja dengan yang berbeda satu sama lain terkait attitude kerja. Sebut saja Mr. Koala dan Mrs. Panda.

Mr. Koala adalah seorang lulusan dual-degree luar negeri yang baru bekerja sebagai freelance art director selama 6 bulan. Sedangkan Mrs. Panda lulusan kampus swasta Jakarta sebagai art director—tanpa embel-embel freelance.

Mr. Koala memiliki pandangan bahwa kerja keras adalah kerja lembur bagai quda, nginep di kantor, pokoknya hal-hal simbolis yang nampak seperti dedikasi tinggi bagi perusahaan. Padahal seringkali, kebiasaan lemburnya terjadi karena ia lebih sering berangkat siang, kerjaan dilama-lamain, akhirnya mepet deadline, klien udah ngamuk, dan akhirnya harus lembur. Ya, intinya biar kelihatan lembur dan berdedikasi tinggi.

Sedangkan Mrs. Panda memliki pandangan yang 180 derajat berbeda dari Mr. Koala. Mrs. Panda berpendapat bahwa kerja keras adalah kerja yang terorganisir. Lembur adalah hal yang unecessary dan tidak akan dilakukan sampai pada akhirnya harus dilakukan. Ia lebih sering berangkat pagi, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, nggak dilama-lamain biar mepet deadline.

Saat ia harus lembur kira-kira sampai nginep atau sampai subuh, dia akan meminta haknya agar bisa cuti pengganti di hari-hari berikutnya. Intinya, dia berpendapat “saat gue harus kerja keras buat perusahaan, perusahaan juga harus ngerti akan hak gue”. Mrs. Panda ini intinya realistis, nggak mau caper.

Pandangan Mrs. Panda seringkali jadi bahan ejekan Mr. Koala. Ia sering kali mengejek Mrs. Panda karena sering minta libur karena lembur, atau beberapa kali izin pulang duluan karena kerjaan telah selesai.

Yaelah, jam segini balik. Mana dedikasi buat kantor. Masa anak muda gampang capek, minta libur mulu, kaya gue dong, lembur nggak masalah”, ungkap Mr. Koala kepada Mrs. Panda.



Bagi saya, ungkapan “Bekerjalah lebih cerdas, bukan lebih keras” lebih bagus kalau jadi “Kerja keras dengan cerdas”, di mana hal ini dicontohkan oleh Mrs. Panda. Ia bekerja sesuai porsinya, bekerja dengan baik namun nggak terlihat ngoyo dan tahu mana yang menjadi haknya sebagai karyawan. Walaupun memang sih, kadang nggak kelihatan kalau dia nggak kerja terlalu keras.

Bagaimana dengan Mr. Koala?

Bagi saya, hal-hal simbolik yang dilakukan oleh Mr. Koala ini klise dan tindakan dari caper dan nggak esensial. Kerja dengan alur seperti itu lebih tepat dikatakan sebagai “Kerja ngoyo dan goblok” di mana ia nggak paham akan haknya sebagai karyawan, yang penting dia kelihatan kerja keras, tapi kualitas dari ‘kerja keras’ itu nggak tau deh.

Bekerja keras dengan cerdas itu kerjain dengan baik, nggak manja tapi nggak ngoyo, nggak nyakitin diri sendiri, diorganisir dengan baik, tapi hasilnya keren-keren aja.

Mon maap kepanjangan.

Catatan: Postingan ini adalah salinan dari jawaban yang saya tulis di Quora. Semoga berfaedah!

Saturday, February 2, 2019

This Is A Reality #Portfolio 1.5


Kira-kira 9 bulan yang lalu, saya mendapat sebuah pesan whatsApp dari senior copywriter di kantor saya magang dulu, 

Nang, buru bikin porto buat besok dikirim ke bos, mau jadi junior copy ga lo?”.

Saya bingung,
Saya panik,
Lha mau gimana?

Saya nggak punya banyak kerjaan yang membanggakan untuk dipajang sebagai ‘portfolio’. Hasil kerja saya kebanyakan juga berasal dari kantor magang tersebut. Itu pun nggak seberapa.

Akhirnya dengan sangat terburu-buru, saya bisa menyusun #Portfolio 1.0 : Every Little Thing That Precious. Dan gara-gara portfolio yang agak ngasal dan bantuan senior saya tersebut, alhamdulillah sekarang saya sudah bekerja sebagai copywriter selama tujuh bulan.

Tujuh bulan bukan waktu yang lama bagi sebuah pengalaman kerja, namun juga bukan waktu yang sedikit untuk saya bisa belajar banyak hal.

Dan di portofolio 1.5 ini, saya bakal kembali melakukan satu hal yang sejujurnya paling malas untuk saya lakukan; membangga-banggakan diri sendiri aku takut dosya.

Eh.. Nang, tapi kok judulnya portfolio 1.5? Bukan portfolio 2.0?

Suka-suka saya lah… Saya yang bikin...

Ehehe… nggak deng….

Kenapa 1.5, karena portfolio ini istilahnya adalah minor update dari portfolio tahun lalu. 
Portfolio 1.5 ini adalah rangkuman dari banyaknya hal penting saya pelajari saat masuk ke dunia nyata creative agency sebagai copywriter. Semoga saja tidak membosankan, jadi yuk kita mulai aja ceritanya…

First Pitching

Baru masuk sebagai karyawan kantoran selama 5 hari, tiba-tiba creative group head memberikan perintah untuk saya menjadi bagian dari tim yang mengikuti pitching brand gypsum yang katanya nomor satu di Indonesia, Jayaboard.

Creative Group Head:Nang… bantuin pitching Jayaboard yah, bikin yah kira-kira 3 alternatif cerita minimal, oh ya… buat Senin besok yah, jadi weekend dipikirin

Mantulll…

Seorang copywritercimi-cimi’ langsung disuruh bikin 3 ide storyline. 

Brief-nya jelas, Jayaboard ini sudah menjadi pemimpin pasar gypsum dan plafon selama 25 tahun di Indonesia. Nah, kali ini mereka pengin bikin TVC dan video digital macem iklan Thailand yang objektifnya memberi tahu masyarakat Indonesia dari yang jelata kayak saya– sampai kaya raya yang nggak kayak saya  bahwa Jayaboard ini ada di antara kita selama 25 tahun; menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat Indonesia. Begityu~

Akhirnya, saya merelakan Sabtu dan Minggu untuk berpikir. Tapi cara berpikir saya nggak serius-serius amat kok, karena saya mikir sambil nonton kartun favorit, Spongebob Squarepants. Dan ternyata, dari Spongebob saya bisa dapet ide!

Masih ingat episode Mr. Krab diinterogasi oleh Spongebob dan Squidward karena disangka sebagai robot? 

Di episode tersebut, benda-benda mati seperti blender, radio dan pemanggang roti dijadikan sandera oleh Spongebob agar Mr. Krab mau ngaku kalau dia adalah robot. Spongebob mikir kalau Mr. Krab adalah robot, berarti dia temenannya sama blender dan pemanggang roti.

Nah, dari episode tersebut, saya dapet kata kunci “benda mati jadi sandera”, akhirnya otak saya yang imut ini mencocokologikan dengan Jayaboard, di mana  Jayaboard adalah gypsum dan plafon yang menjadi saksi bisu kehidupan manusia.

Tuh, sama-sama benda mati yang dijadiin saksi. Nah, akhirnya saya mulai menulis storyline yang idenya adalah tentang Jayaboard yang mampu merekam kenangan, di mana kemampuan tersebut menjadikan Jayaboard saksi dalam sebuah kasus kehilangan seorang Nenek. Begini bentuk storyline + moodboard-nya…




Alhamdulillah-nya dengan cerita tersebut, tim kami menang pitching dan project Jayaboard ini telah selesai digarap, walaupun untuk konten videonya sendiri baru muncul sebagai TVC dan video digital versi penuh belum diunggah di channel YouTube Jayaboard. Jadi, saya belum bisa memberikan bentuk final dari videonya, mon maap.

Asian Games Yahud


Asian Games 2018 membawa buanyak sekali kejutan bagi masyarakat Indonesia; termasuk saya. Dan sebagai copywriter yang bekerja di agensi iklan dengan dua client official prestige partner Asian Games 2018, jelas bikin kerjaan semakin yahud dan nampol.

Masih dalam ingatan, saat 17 Agustus seharusnya saya sebagai anak muda yang cinta Indonesia ikut upacara pengibaran bendera di SD-SD terdekat, eh malah berangkat ke kantor untuk menyelesaikan materi-materi promosi BANK BRI di Asian Games 2018. Mulai dari print ad, sticker gedung, sampai poster-poster dan flyer promosi.

Yah, hitung-hitung saya jadi unofficial crew of Asian Games 2018.

Aku Cinta Ibu Part #1

Sudah 3 tahun Lotte Choco Pie bekerja sama dengan kantor saya sekarang untuk menggalakkan campaign hari ibu. Intinya, Lotte Choco Pie pengin bikin brand-nya sebagai ikon hari ibu. Ingat Lotte Choco Pie, ingat hari ibu. Mirip-mirip kalo ingat bulan Ramadan, ingat Marjan.

Maka dari itu, setiap tahun saat mendekati hari ibu, tim kreatif kantor saya selalu sibuk untuk menyiapkan konsep video digital tahunan Lotte Choco Pie.

Dan untuk video digital tersebut, saya ikut jadi bagian sejak tahun 2017 saat saya magang dulu.

Tahap pertama dari pembuatan video ini adalah mendengarkan insight-insight dari para manusia-manusia pintar bertitel strategic planner.

Mereka dapat insight kalau Ibu-ibu zaman sekarang itu seringkali insecure, merasa khawatir nggak jadi ibu yang sempurna buat anaknya karena sibuk lah, karena merasa kurang ilmu lah, pokoknya macem-macem. Hal tersebut bisa jadi terjadi karena paparan ibu-ibu gaul sosmed macem Nia Ramadhani yang nampaknya hidupnya sangat sempurna sebagai ibu gaul yang syibuq tapi tetap sayang anak.

Nah, tahun ini planner mengusulkan ke client untuk mengangkat ke-insecure-an Ibu tersebut di video digital yang syarat ceritanya harus touchy tapi tetap happy dan terasa premiumnya.

Duh, mana saya susah banget relate sama yang premium-premium lagi.

Akhirnya, berangkat dari insight tadi, otak saya kembali bekerja keras. Berpikir tentang bagaimana kebiasaan ibu-ibu kaya dan premium kalau merasa insecure. 

Selama seminggu full, sehabis jam kantor, saya bersama kedua teman art director duduk di ruangan meeting untuk menajamkan 3 ide cerita dari saya. Biasanya kami selesai jam 1 malam.  Eh tapi alhamdulillah, satu cerita diterima tanpa revisi. Mantul~

Cerita yang dipilih adalah tentang seorang ibu yang merasa dirinya sangat kurang ilmu untuk mendidik anak, makanya dia selalu bawa dan baca buku yang judulnya “How to be a perfect mom” yang isinya tentang beragam tutorial untuk jadi ibu yang sempurna untuk anak, mulai dari cara bikin susu yang sempurna, cara pakein baju anak yang sempurna, cara main perosotan yang sempurna, pokoknya semua hal remeh temeh yang harus sempurna. Pokoknya cerita ini menggunakan sentuhan exaggeration atau dilebay-lebayin gitude, biar lebih menarik katanya~

Semua prosesnya asyik dan menyenangkan, walaupun output yang saya harapkan agak berbeda dengan eksekusi director. Tapi saya tetap senang bisa menjadi bagian dari project ini. Berikut saya berikan moodboard bikinan saya plus hasil jadi videonya yang sudah digarap oleh director sebagai perbandingan.

Moodboard




Lotte Choco Pie - Mother's Day Special Video



Terus kesulitan di project ini apa, Nang?

Kesulitannya adalah legowo. Legowo untuk menerima bahwa hasil akhir dari video digital ini nggak sesuai dengan konsep kreatif awal yang disusun oleh saya dan tim. Di mana video digital Lotte Choco Pie ini pengin pendekatannya lebih ke humor –bisa dilihat di konsep moodboard yang saya buat–namun ternyata persepsi saya dan director berbeda terkait how to say video ini. Tapi, yaudahlah, balik ke awal, saya tetep seneng bisa jadi bagian dari project ini.

Aku Cinta Ibu Part #2

Bagian aku cinta ibu berlanjut dengan project dadakan Lotte Choco Pie yang kepengin bikin brand page untuk menjelaskan value-value mereka. 

Berawal dari satu pagi yang sangat indah, tiba-tiba seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai account executive mendatangi meja kerja saya.

AE: "Eh, Nang... bantuin bikin copy buat brand page Lotte Choco Pie dong, buat besok."

Untungnya, pada pekerjaan ini saya hanya me-retouch dari apa yang sudah dikerjakan oleh agensi digital sebelumnya. Dan tanpa sepengetahuan saya, ternyata brand page Lotte Choco Pie sudah mejeng di https://lottechocopieindonesia.com/brand-page sejak pertengahan november tahun lalu.



Ikutan Award Tapi Nggak Menang

Sebagai anak muda, jiwa-jiwa imut untuk jadi pemenang jelas berkobar membara dan untungnya kantor mau memfasilitasi saya dan satu rekan saya untuk mengikuti ajang Daun Muda Citra Pariwara 2018.

Hasilnya?

Gagal dong... 

Tapi, saya dan rekan saya nggak menyerah sampai situ. Saat mengikuti seminar Kompas Briefing Day di rangkaian Citra Pariwara 2018, mereka memberikan informasi tentang adanya kompetisi untuk membuat ide campaign bagi Kompas agar lebih relevan terhadap kalangan muda.

Dengan niatan agar melatih otak berpikir kreatif, saya dan teman saya mendaftar secara mandiri kompetisi Kompas Briefing Day. Alhamdulillah kami masuk sebagai finalist walaupun tetap nggak jadi pemenangnya. Berikut adalah file presentasi yang kami buat.



Hmmm...

Penutup Portfolio 1.5 ini nggak bakal beda jauh dari portfolio tahun kemarin. Hidup ini adalah proses dan akan selalu begitu. Saya bersyukur bisa masuk ke dalam realita dunia kreatif yang amat sangat menyenangkan dan menegangkan.

Semoga saja, Tuhan yang maha baik masih akan memberikan saya keberuntungan untuk bisa terus belajar di tempat baru dan memberikan saya semangat lebih untuk terus bisa berkarya dan lebih-lebih bisa berguna untuk orang lain. Dan semoga juga, apa yang saya tulis nggak lantas bikin saya jadi keliatan sombong, soalnya saya takut jadi orang sombong. Kan katanya kesombongan sebesar biji sawi aja bisa bikin kita nggak masuk surga. Padahal, saya aja nggak tahu bentuknya itu biji sawi kayak gimana.

Friday, January 25, 2019

Hal-Hal Penting yang Saya Dapatkan Selama Bekerja di Agensi Iklan #CERPAEDAH


Bekerja sebagai copywriter selama 7 bulan lebih di sebuah advertising agency mengajarkan banyak hal penting bagi saya sebagai manusia biasa yang banyak dosa, sering doa, tapi bikin dosa lagi. Dan anehnya, hal-hal penting ini adalah hal-hal yang seringkali saya anggap sepele dan terlalu basic untuk diingat-ingat. Namun ternyata, yang basic-basic itu kadang penting juga. Contohnya...

Harus Banget Bisa Kerjasama

Saya adalah tipikal orang yang punya prinsip "kalo bisa dikerjain sendiri, ngapain harus ngandelin orang lain. Prinsip tersebut muncul karena saya seringkali dikecewain sama temen-temen sekelompok pas kuliah.

Bilangnya tugas kelompok, eh saya yang ngerjain sendiri. Bilangnya mau bantuin cari materi dari buku, eh daftar pustakanya dari blogspot doang. Jadinya malah saya kerja dua kali. Jadi mending dikerjain sendiri.

Tapi, saat saya bekerja di agensi iklan, prinsip sok kuat saya tersebut nggak bakal berlaku.

Mau gimana coba? Semua pekerjaan dikerjain bareng-bareng. Copywriter kan kerjaannya cuma ngurusin teks, nah kalo bagian desain, ya tetep art director yang ngerjain. Dan untuk itu, copywriter tetep harus ngobrol bareng art director.

Apalagi kalo masalah ngide. Ngide nggak mungkin bisa dilakukan sendirian, wong proses pertama ngide aja brainstorming yang artinya duduk bareng buat ngobrolin masalah, mencari variasi sudut pandang dan menemukan solusi kreatifnya.

So, jelas kerja sama adalah kemampuan paling esensial apabila Kita mau menekuni dunia creative agency.


Kreatif Itu Bukan Hanya Tentang Idealisme Pribadi

Tadinya saya berpikir, agensi iklan dipenuhi oleh orang-orang kreatif yang penuh dengan idealisme-idealismenya. Tapi ternyata nggak...

Kenapa nggak?

Untuk membuat sebuah materi iklan, tidak hanya dibutuhkan pemikiran yang out of the box. Namun sebagai seorang kreatif, kita juga harus memikirkan aspek-aspek lain. Contohnya, saat membuat sebuah konsep atau ide cerita sebuah iklan televisi, kita nggak bisa serta merta bikin cerita semau udel. 

Yang harus dipikirin adalah bagimana ide itu bisa mengkombinasikan kesesuaian antara target audience, keinginan client, esensi merek, strategi komunikasi, dan aspek-aspek yang menyangkut brand itu sendiri.

Jadi, kreatif ≠ idealisme. Definisi kreatif dalam sebuah iklan adalah paduan dari ide bagus, sesuai dengan target audience, dan mampu menyampaikan pesan pemasaran.

Dan untuk sampai pada titik kreatif itu, balik lagi ke poin pertama, harus bisa kerjasama. 


Harus Open Minded & Jangan Baper

Legowo is an essential thing.

Namanya kerja sama, kita nggak bisa berpikir bahwa apa yang kita buat (baca: ide) adalah yang terbaik, karena cara kerja agensi iklan nggak kayak gitu. Kalo kita berpikiran "Ide gue ini oke banget, nggak ada yang boleh ngutak-atik" kita nggak bakal bisa berkembang.

Suatu hal yang biasa banget ketika ide yang kita anggap bagus, ternyata nggak terlalu oke buat orang lain. Dan di saat itulah, kemampuan untuk berpikiran terbuka menerima kritik dan legowo untuk menerima saran itu diperlukan.  

Jangan baper kalo ide kita dibilang biasa aja, mungkin di awal-awal kita bakal merasa insecure, merasa sebagai jiwa yang bodoh, nggak berbakat, dan pikiran-pikiran negatif yang lain. Tapi, satu hal yang penting kita harus inget, memang begitu cara kerja agency.


Dilarang Puas

Ketika kita berhasil bikin satu ide dan ide tersebut dipuji bahkan menangin pithcing atau award kita boleh banget bangga, tapi jangan puas.

Dunia kreatif itu dinamis banget, hal itu yang kadang bikin saya kewalahan untuk mengikuti alurnya -capek bat shay. Kalo hanya dengan menang satu award terus puas, pasti kita bakal kegilas sama orang lain yang terus mau belajar.


Jadi, Kesimpulannya?

Sebenarnya beberapa poin di atas adalah hal yang benar-benar basic atau bahkan bisa dibilang klise. Because you don't have to be a part of creative agency to apply those essential things. Hanya saja, konteksnya di sini saya dapet pencerahan yang kuat saat saya bekerja di creative agency ini, iya nggak? Hehe.

Dan sekali lagi, semoga hal-hal penting yang saya tulis di post ini juga akan terus langgeng ada di pikiran saya, jadi biar saya nggak cuma nulis doang tapi nggak praktekin. Hehe.


Tuesday, January 22, 2019

Case Macbook Pro 100 Ribuan Paling Mantul #REVIEWBERFAEDAH




Setelah kira-kira sebulan pasca pembelian Macbook Pro 2017 non-touchbar, saya akhirnya membeli sebuah softcase atau sleeve atau tas atau apalah itu namanya, untuk laptop mahal yang bikin tabungan saya habis ini -takut lecet cin.

Akhirnya, mulailah saya mengubek-ubek Tokopedia untuk mencari-cari softcase yang terbaik.

Wiiih, yang terbaik banget nih?


Lho, iya dong, memilih barang itu harus yang terbaik dong. Tapi, untuk jadi yang terbaik versi saya itu gampang banget, cuma butuh dua hal: pertama, harganya harus murah -wajib banget murah; kedua, desainnya nggak norak.

Gampang kan?

Setelah pencarian yang panjang (baca: seminggu), akhirnya saya menemukan satu  seller yang menjual  softcase yang sesuai dengan kriteria bagus ala saya. 





Langsung checkout, bayar dan akhirnya sampai di tangan. Seller sangat responsif, walaupun saya hanya menggunakan J&T Reguler, tapi paket bisa sampai keesokan harinya.

Terus, kualitasnya gimana Nang?

Jujur saya nggak kepikiran kalau tas laptop atau softcase dengan harga Rp110.000,- bisa ngasih kualitas yang bagus gini. Memang bisa dibilang standar apabila dibandingkan dengan tas laptop ternama, hanya saja 'hey manusia!', kita harus ingat bahwa ini adalah barang murah.

Dua hal yang paling saya suka dari tas atau softcase atau sleeve ini adalah desain yang  simple dan minimalis, dan yang kedua bagian dalamnya terasa sangat lembut dengan tekstur bulu halus, sehingga memberikan proteksi tambahan, jadi terasa lebih aman. Berikut adalah contoh gambar dari softcase Macbook Pro 2017 tanpa merek ini.

Bagian Dalam Softcase Macbook Pro 2017


Tampak Luar Sleeve


Kantung Tambahan



Intinya sih, dengan harga Rp110.000,- plus ongkir Rp10.000,- saya bisa mendapatkan tas/sleeve/softcase Macbook Pro 2017 yang elegan, keren, dan lumayan berkualitas. Saya nggak mau protes, intinya ini udah bagus. Oh ya, bagi temen-temen yang punya laptop selain Macbook Pro 13.13 2017, seller juga menyediakan variasi ukuran untuk laptop lain. Intinya, dipas-pasin aja, karena ini universal kok.





Monday, January 14, 2019

Review Servis iPhone di iColor: Cepet sih tapi... #REVIEWBERFAEDAH

Sudah hampir 3 bulanan mikrofon bagian depan iPhone 6 saya nggak bisa berfungsi. Hal tersebut saya ketahui saat ponsel jadul saya tersebut nggak bisa digunakan untuk menjalankan fitur Siri, nggak bisa merekam suara saat menggunakan kamera depan, serta saat saya melakukan panggilan video, lawan bicara nggak bisa mendengar suara apapun. Kesel!

Untuk informasi, iPhone 6 dan versi setelahnya memiliki 3 mikrofon. Satu, mikrofon bagian bawah yang berada di bagian bawah ponsel di samping port lightning, satu mikrofon depan yang letaknya berada satu area dengan earpiece. Kemudian satu lagi berada di samping kamera belakang. Lebih jelasnya, teman-teman bisa lihat gambar dari Apple Support di bawah ini.

Sumber: https://support.apple.com/library/content/dam/edam/applecare/images/en_US/iphone/iphone6/iphone6-mic-locations.png

Kok bisa gitu? Penyebabnya apa yah?

Jujur saya juga nggak tahu. Kemungkinan besar sih karena saya seringkali menggunakan iPhone saat tangan basah, entah sehabis mandi ataupun wudhu -alim bat gue. Dan perkiraan saya, mikrofon depan iPhone 6 saya tersebut terkena air dan akhirnya metong dan nggak berfungsi.


Akhirnya Milih Servis di iColor 

Sudah nggak tahan dengan masalah mikropon depan tersebut, akhirnya saya mulai mencari info servis iPhone di Jakarta. Ada buanyak sekali ternyata. Namun pada akhirnya saya memilih iColor karena beberapa alasan.

Harga relatif murah

Sebagai orang yang orientasinya harga murah -maklum syobat misqueen- daftar harga servis di iColor menurut saya paling masuk akal. Nggak kemurahan seperti beberapa tempat servis online, nggak kemahalan seperti service center distributor resmi seperti iBox. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah daftar harga servis di iColor yang saya dapat dari akun instagrammnya.




Tapi kan iBox kualitasnya terjamin?
Iya sih, hanya saja bagi saya yang penting iPhone 6 jadul ini masih berfungsi dengan baik saja sudah lebih dari cukup. Lagipula servis mahal-mahal agak kurang penting mengingat umur ponsel ini juga nggak akan lama lagi, tinggal menunggu Apple memberhentikan update iOS. Dan saat itu terjadi, semoga saya dapet rezeki buat beli ponsel baru lagi.

Sehingga, Melihat daftar harga tersebut, saya memutuskan untuk servis mikrofon (Rp200.000,-) dan baterai (Rm250.000,-), sehingga total harga servis iPhone saya adalah Rp450.000,-. Kalo servis di iBox, pasti bikin kantong saya menangysss.

Statusnya PT

Statusnya sudah PT atau Perseroan Terbatas membuat saya yakin dengan kredibilitas iColor sebagai tempat servis iDevice yang yahud. Seenggaknya, iColor ini sudah punya sertifikat badan usaha dibandingkan tempat servis online yang sejenis.

Testimoni bejibun

Nggak diragukan lagi, apabila temen-temen buka instagram iColor, lihat testimoninya. Mulai dari rakyat jelata dan netizen julid sampai public figure bilang kalau pelayanan iColor ini yahud. 

Ya namanya testimoni jelas dibagus-bagusin kan Nang?

Hmm.. bener juga. Tapi memang nggak bisa disangkal kalau banyaknya testimoni ini membuat keraguan-keraguan dalam hati yang rapuh jadi semakin pudar. 

And those all the reasons why I choose iColor.

Berangkat ke iColor

Sudah yakin dengan iColor, akhirnya saya dan satu teman cantik saya yang kebetulan layar iPhone-nya pecah berangkat ke Head Office PT iColor Indonesia yang beralamat di Thamrin City Office Center Lantai 7 No. 733, Jl. Thamrin Boulevard, Tanah Abang, Kebon Melati, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10230.

Kalau bingung, tinggal ke Thamrin City Office Center naik Go-Jek, terus tinggal tanya Bapak Satpam mau ke iColor, pasti Bapak Satpam akan memberikan jalan yang benar dan lurus tanpa tersesat.

Saat itu saya sampai di tempat iColor pada hari Minggu pukul 17.30 WIB. Agak was-was dan takut udah tutup karena di website resminya, iColor hanya buka sampai pukul 18.00 WIB setiap akhir pekan.

Tapi pas sudah sampai di tempatnya, Mbak-mbak resepsionis bilang kalau iColor tutupnya jam 20.00. Nggak tau deh kenapa bisa begitu. Mungkin Mbak-Mbak resepsionisnya kasihan sama saya.

Servisnya Ngebut

Sesampainya di tempat, saya langsung mengambil nomor antrian -yang untung saja antriannya sedikit. Mbak-mbak Resepsionis akan menanyakan terkait masalah yang ada pada ponsel. Setelah itu, bagian belakang ponsel saya ditempeli stiker form yang mengharuskan saya menulis nama, alamat e-mail, nomor ponsel, kata sandi ponsel (kalau ada), dan daftar masalah yang terjadi.

Setelah itu, ponsel di titipkan ke meja resepsionis dan saya beserta teman saya disuruh untuk menunggu maksimal 1 jam.

What servis iPhone bongkar-bongkaran cuma satu jam?

Iyapss, benar sekali. Dan ternyata memang secepat itu. Setelah menitipkan ponsel di meja resepsionis, saya dan teman saya pergi berkeliling Thamrin City untuk membeli makanan kemudian kembali kurang dari satu jam setelahnya. 

Dan ketika kami bertanya "Mbak untuk yang atas nama Anang dan Ferren udah selesai", Mbak-mbak resepsionis dengan wajah bahagia memberikan ponsel kesayangan saya dan teman saya yang sudah sehat walafiat. Impressive!

Eh tapi...

Walaupun pelayanan iColor terasa pas, bukan berarti nggak ada kekurangannya sama sekali. Sebagai orang yang sangat suka membicarakan keburukan dunia, iColor juga nggak lepas dari hal tersebut. Contohnya seperti hal-hal berikut ini:

Kurang teliti

Jadi, setelah iPhone saya dan teman saya selesai diservis, saya dan teman saya mulai mengecek hasil servis dari iColor. Ternyata setelah iPhone 6s milik teman saya diganti LCD-nya, touch ID-nya nggak bisa membaca sidik jari. Akhirnya, kami harus menunggu kembali sekitar 30 menit untuk perbaikan ulang. Hmmm...

Harga emang murah, ternyata kualitas juga...

Mau sampe kapanpun, pribahasa "Ada harga, ada rupa" nggak bakal kedaluwarsa. Nah di sini, saya sadar kalau iColor sudah menawarkan harga yang super duper murah dengan beragam keunggulannya dibanding service center yang resmi. Jadi saya juga nggak bakal berekspektasi berlebihan terhadap apa yang akan saya dapat.

Contohnya, saat Mbak-mbak resepsionis memberi tahu saya sesaat setelah ponsel saya selesai diservis bahwa mikrofon bagian depan ternyata satu modul dengan earpiece dan kamera depan. Yang artinya, walaupun saya cuma pengin ganti mikrofon doang, secara otomatis saya juga mengganti kamera depan.

Terus kualitas kamera depannya gimana Nang?

Jueleekkkk, jelek banget, jauh dari yang original. Ini adalah hasil selfie beberapa jam sebelum iPhone diservis dan setelah diservis. Maaf mukanya kurang gudluking. Teman-teman bisa nilai sendiri.


Sebelum kamera depan diganti

Kamera depan setelah diganti
Tapi, tapi, sekali lagi saya nggak mau protes. Masa udah dikasih harga murah masih protes. Apalagi hingga saat ini, sudah lebih dari sebulan pemakaian, semuanya oke-oke saja. Baterai awet, mikrofon dan kamera depan walaupun jelek juga tetap berfungsi dengan baik.

Kesimpulan

Bagi teman-teman yang memiliki iDevice error atau rusak, iColor ini recommended  kok. Walaupun komponennya bukan yang 100% original by Apple, namun pelayanannya dan kualitas cukup oke. Yang paling penting, iColor ini memberi garansi 3 bulan -tempat servis lain biasanya cuma seminggu- yang artinya mereka memang menjamin setiap pelayanannya. Tapi, kita juga harus tetep cek dan ricek agar nggak kejadian seperti teman saya di atas.

Oh ya, sekarang iColor juga menawarkan premium quality by Apple yang katanya kualitasnya original by Apple, namun untuk harga juga dua kali lipat lebih mahal. So, it's all in your hand, mau pilih yang murah atau yang mahal, tergantung isi dompet.

Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.