Anang Filya

Sunday, November 4, 2018

Saya Berubah, Apakah Ini Salah Jakarta? #TIDAKBERFAEDAH



Tiga tahun yang lalu, ketika saya memutuskan untuk kuliah di Jakarta, tidak pernah terpikir bahwa nilai-nilai  yang ada dalam diri saya sebagai anak muda yang lahir dari kampung akan berubah. Saya pikir proteksi yang ada dalam diri saya sudah cukup kuat. 

"Gue punya pendirian kok! Pergaulan Jakarta mah nggak bakal ngaruh"

Saya tahu, bahwa nilai-nilai yang saya bawa dari kampung saya pikir akan terus menerus melekat dalam diri saya –karena hal tersebutlah yang saya inginkan. Input-input dari luar semacam budaya dan pergaulan ekstrim anak jekardah tidak akan mempengaruhi nilai-nilai yang sudah terlebih dahulu lama tinggal di diri saya ini.

Saya jadi ingat saat salah satu adik kelas semasa SMK yang saya rekomendasikan untuk masuk ke perguruan tinggi di mana saya belajar sekarang via jalur beasiswa. Sebagai seorang individu yang sangat awam terhadap kota besar semacam Jakarta, ia jelas bertanya kepada yang saya sudah punya sedikit pengalaman. Mulai dari pertanyaan umum seperti:

"Kak, makanan di Jakarta mahal nggak?"
"Sebulan habis berapa?"
"Kosan ada yang murah nggak"

Hingga pertanyaan yang bikin saya jadi mikir "Ni anak apaan sih", seperti:

"Pergaulan di Jakarta gimana kak? Saya takut terjerumus soalnya"

Untuk pertanyaan terakhir, jelas saya menjawab dengan amat pede "Yah, itumah tergantung orang. Emang nggak kayak di Metro (Lampung) orang kebanyakan begitu-begitu, kalo di sini yang mabok-mabok an ada, yang nakal ada, tapi yang baik juga banyak, ada organisasi dakwah kampus semacam ROHIS di SMK. Itumah tergantung kitanya aja, percaya, begituan mah nggak ngaruh".

Saya paham kenapa adik kelas saya bertanya hal tersebut. Sebagai anak yang sangat aktif di kegiatan ekstrakurikuler ROHIS (Rohani Islam) di SMK –tidak seperti saya yang males-malesan– dia memang terkenal alim, pinter ngaji, dan segalanya yang baik-baik. Lingkungan adalah salah satu yang terpenting agar karakter baiknya dan nilai-nilai Islam yang kuat bisa selalu lestari di dalam dirinya. 

Dan pada keputusan final, adik kelas saya tersebut menolak untuk melanjutkan pendidikannya di Jakarta, padahal dia sudah lolos tahap final beasiswa. Alasannya bukan karena biaya hidup mahal atau yang lain, tapi karena "takut pergaulannya".

Dari situ, jiwa sok pede saya sebagai manusia biasa yang nyinyirnya luar baisa berkomentar,"yaelah, itumah tergantung pendirian orangnya! pergaulan Jakarta mah nggak ngaruh". Lagi dan lagi.

Lingkaran Pertemanan

Tiga setengah tahun saya sudah menginjakkan kaki di Jakarta, suka tidak suka, di sinilah saya sekarang. Kepedean saya bahwa saya akan tetap jadi 'Anang yang dulu' masih ada. Apalagi saya dikelilingi oleh orang-orang yang jauh dari hal-hal yang bisa membuat ibu saya bilang "Nakal banget kamu sekarang".

Mau apa? Teman-teman saya sebagian besar adalah ukhti-ukhti baik hati yang akhlak terpujinya saja bisa nampak dari jarak ratusan meter. Saya juga tidak pernah ikut mabu-mabu –boro-boro mabuk, minum Marimas dua gelas aja radang tenggorokan, tidak pernah icip-icip rokok. Intinya tidak pernah melakukan hal-hal yang menjadi simbol anak nakal secara eksplisit. 

Jadi intinya, saya masih baik-baik aja dong ya? Pergaulan Jakarta tidak ada pengaruhnya dong kalau gitu.

Ternyata enggak...

Saya sekarang sadar, perubahan nilai-nilai yang ada dalam diri saya ini bukan hanya sebatas hal-hal simbolik anak nakal seperti, tidak merokok, tidak mabu-mabu, atau tidak dugem-dugem. Namun lebih kepada bagaimana sekarang saya memandang dunia dan cara saya berperilaku.

Apabila dihitung sejak saya lahir hingga lulus Sekolah Menengah Kejuruan –18 tahun saya hidup, selama periode itu, tidak lebih dari 10 kali saya berkata kasar. Suer deh! Bahkan untuk sekedar ngomong "Cuk!" yang biasanya menjadi kata pengganti panggilan akrab ke teman.

Selama periode waktu tersebut, saya berpikir "Emang apa untungnya sih ngomong kasar".

Hingga akhirnya saya menginjakkan kaki di Jakarta, telinga saya yang masih bersih ini terkejut akan kata imbuhan anak-anak Jekardah saat mereka berbicara. Bikin sakit telinga.

Setiap kalimat seringkali diimbuhi "Njing! Tot! Bege! Jir!" dan imbuhan-imbuhan lain yang dulunya bikin saya sakit telinga.

Eh tapi sekarang, saya jadi bagian dari budaya tersebut.

Pada awalnya, saya menggunakan bahasa-bahasa tersebut hanya sebagai bahan candaan dengan beberapa teman dan lama kelamaan malah menjadi sebuah kebiasaan. Duh, miris!

Tidak berhenti sampai situ, dulu saya adalah orang yang anti akan hal-hal yang identik dengan simbol nakal. Pokoknya persepsi saya "duh, ngapain sih ngerokok, minum-minum, dugem, kek ada manfaatnya, cuma ngabisin duit doang ". Untuk dicatat, hal tersebut berlaku untuk diri saya sendiri, bukan untuk menghakimi orang lain.

Eh tapi eh tapi, makin ke sini, saya malah punya pemikiran lain. Dari yang dulunya anti, sekarang jadi "yah, sekali-kali nyoba boleh kali ya suatu saat nanti".

Mulai dari hal tersebut saya merasa ada sesuatu yang bergeser dari diri saya. Nilai-nilai yang dulu saya punya lama kelamaan menjadi pudar, lama-lama menjadi hal yang gampang untuk dikesampingkan.

Namun saya tahu ini bukan salah Jakarta, ini jelas salah saya sendiri. Apabila saya dulu bisa yakin akan proteksi diri, dan saat ini proteksi diri saya itu mulai lemah, bukan salah dari Jakarta, tapi salah dari faktor internal di mana intinya saya terlalu pede akan proteksi diri.

Jujur, saya tidak tahu bagaimana untuk kembali, karena saya juga tidak tahu bagaimana ini dimulai. Namun sekarang saya tahu, mengapa dulu adik kelas saya kekeh banget bertanya akan hal-hal yang dulu saya anggap tidak penting. Dan saya juga tahu, mengapa Ibu saya selalu menyelipkan kalimat "hati-hati yo le" di setiap akhir pembicaraan telepon.




Wednesday, August 29, 2018

Legowo Jadi Unofficial Crew of Asian Games 2018 #CERPAEDAH


Setelah kesemsem dengan Opening Ceremony Asian Games 2018 pada 18 Agustus 2018 kemarin –yang membuat saya bangga jadi warga negara Indonesia, semangat untuk mendukung Tim Indonesia memang masih membara kuat banget.

Ada banyak hal yang saya pelajari dari Asian Games 2018, mulai dari ternyata masyarakat Indonesia itu kuat banget kalau bersatu; lihat aja nggak ada yang ngemeng kalo Mas Ginting dan Jojo itu non-muslim yang nggak patut di dukung kan?

Kemudian gimana masyarakat memberi panggung kepada pecundang internet yang cuma berani komentar kasar terhadap atlet pakai akun palsu. Please orang begitu jangan dikasih panggung, cara ngebales paling tepat adalah dibiarin aja. Cause ignorance hurts more than anything else.

Hingga belajar legowo. Legowo bukan cuma karena cedera Mas Ginting yang berakibat nggak jadi dapet emas atau karena nggak dapet baju penuh keringet manja ulala yang dilempar Jojo.

Saya pribadi malah belajar legowo untuk memilih mana yang harus diutamakan dan belajar untuk nggak cepet kecewa.

Soal apatu?

Soal jadi volunteer Asian Games. Pada pertengahan Juli 2018, teman yang saya kenal dari volunteer Java Jazz selama dua tahun belakangan menawari saya untuk jadi tim volunteer di Opening & Closing Ceremony Asian Games 2018. Saya sumringah dong.

Setelah menyerah untuk nggak daftar jadi volunteer karena masalah waktu, saya malah ditawari untuk jadi kru upacara pembukaan festival olahraga terbesar se-Asia, ya siapa coba yang nggak mau jadi bagian dari sejarah. Cuss~

Namun ketika saya bertanya soal waktu, ternyata saya harus bersedia hadir setiap hari kecuali Jumat mulai awal Agustus hingga awal September. Dari situ, hati kecil saya dipenuhi oleh kekecewaan.

Ya mau gimana, saya juga baru sebulan kerja kantoran, kontrak masih lama, nggak mungkin dong resign demi Asian Games –nanti kalau resign, setelah Asian Games siapalah yang ingin men-support kehedonanqu tuk membeli makan di warteg fancy.

Nggak jadi deh jadi bagian sejarah Indonesia.

Tapi kalau dipikir-pikir...

Saya 'kan sekarang bekerja sebagai copywriter yang menangani dua official prestige partner Asian Games 2018, BANK BRI dan Pertamina. Dua brand tersebut –terutama BANK BRI– seringkali meminta saya dan tim kreatif untuk membuat materi komunikasi terkait Asian Games.

Nggak cuma satu atau dua, tapi banyak banget. Mau ke mana-mana dikejar deadline. Maklum, saya mulai kerja saat h-40 Asian Games, jadi memang lagi hectic-hectic-nya. Bahkan h-1, pada tanggal 17 Agustus 2018 yang mana seharusnya jadi hari libur, saya harus masuk untuk finalisasi pekerjaan. Sedih akutu~

Jadi kalau dipikir-pikir secara nggak langsung, dengan mengerjakan kerjaan-kerjaan yang bejibun dari BANK BRI via laptop kesayangan dengan tujuan untuk memeriahkan Asian Games, berarti saya ini juga udah jadi tim promosi Asian Games kok –menghibur diri. Walaupun yha gitu, saya tetep aja nggak dapet tiket nonton Asian Games, huft. Legowo Nang!

Thursday, August 16, 2018

Penyesalan Malam Ini #TIDAKBERFAEDAH



Baru saja merasakan kasur di kamar indekos setelah merasakan kerja lebih dari 12 jam. Hari ini adalah kali pertama saya lembur hingga pukul 23.00 setelah kurang lebih dua bulan menjadi junior copywriter di salah satu agensi iklan asal Jepang yang berlokasi di Menara Sentraya Blok M, Jakarta Selatan.

Lembur adalah hal yang sangat menyebalkan. Selain bikin capek, otak kalau sudah malam rasanya nggak bisa dipakai untuk berpikir. Namun sebab deadline yang sudah mepet bukan main, ya mau nggak mau harus lembur.

Apalagi, karena status saya masih freelance, saya tidak mendapatkan kartu gedung yang membuat saya harus menukarkan KTP di resepsionis untuk mendapatkan akses masuk gedung Menara Sentraya.

Setiap pagi saya selalu membaca tulisan "Tukar kartu pukul 09.00-22.00 via resepsionis, 22.00 - 05.00 via security room". Hal tersebut membuat saya males lembur karena apabila saya pulang melebihi pukul 22, saya harus menukarkan kartu akses ke ruang sekuriti di basement untuk mengambil kembali KTP. Rempong~

Sayangnya, malam ini adalah malam yang nggak ditunggu-tunggu. Baru pukul 23 saya menyelesaikan pekerjaan. Agar bisa pulang dengan aman dan nyaman, nggak ada pilihan lain selain mencari security room di basement.

Bersama teman satu indekos yang tidak kebetulan sedang magang di kantor saya bekerja (sebut saja Rocky), saya mencari-cari ruang sekuriti di bagian basement parkir mobil. Ketika saya sampai di lantai G, saya melihat juga ada sekelompok orang yang ternyata juga mencari ruang sekuriti.

Setelah ketemu –ruangan yang kecil untuk gedung segede Menara Sentraya, di pojok lagi– saya memasuki ruang sekuriti bersama sekelompok orang tadi. Ketika sampai giliran saya dan Rocky menukar kartu, masih tersisa bapak-bapak –sebut saja Sihombing, karena saya mendengar dia menyebut nama itu– yang saya taksir usianya 40 tahunan sedang berbicara dengan nada tinggi kepada bapak sekuriti.

"Mas ini tuh kantor, gimana coba kalo saya lembur sampe 24 jam, saya harus direpotin nyari-nyari ruangan kecil kaya gini?"

"Maaf pak, tapi kan sudah jelas di peraturan yang tertulis...."

Belum sempat Bapak Sekuriti menyelesaikan kalimatnya, si Bapak Sihombing nyaut dengan makin emosi "Saya nggak peduli sama tulisan... pokoknya ini bikin saya repot. Emang ada yang bilangin saya harus ngembaliin kartu kalo udah lebih jam 10 ke ruang ini... kan enggak"

Sepertinya Bapak Satpam tidak mau memperpanjang masalah dengan menjawab "Tapi saya kan cuma security Pak, saya cuma ikutin aturan dari atasan"

Bapak Sihombing masih nggak mau kalah, "ya makanya saya protes sama kamu, kaya gini ini tuh ngerepotin"

Dengan amat bijak Bapak Satpam menjawab, "Baik pak terimakasih masukannya, nanti akan saya sampaikan ke atasan".

Bapak Satpam memberikan KTP si Bapak Sihombing dan Bapak galak tersebut meninggalkan ruangan sekuriti meninggalkan saya, Rocky dan Pak Sekuriti.

"Sabar ya pak, kadang-kadang orang kayak tadi cuma modal ngeyel tapi kopong, saya juga jadi kezel. Padahal aturan udah jelas", kata-kata tersebut keluar dari mulut saya saat hendak menukarkan kartu akses dengan KTP milik saya. Pak Sekuriti hanya menjawab "iya mas" sembari tersenyum. Saya berpamitan dan berjalan menuju halte Transjakarta bersama Rocky.

Saat di jalanan...

Kejadiaan pereyel-eyelan Bapak Sihombing dengan Pak Sekuriti masih membekas dibenak saya kala sedang duduk di kursi Transjakarta. Kenapa kok saya tadi nggak bela Pak Sekuriti ya? Padahal saya tahu, Pak Sihombing yang ngeyel kayak ibu-ibu nawar baju anak tadi jelas-jelas salah.

Kenapa sih saya nggak berani nyautin perkataan Pak Sihombing, "Maaf Pak, saya kerja di sini nih. Memang peraturannya seperti itu, dan maaf sekali lagi mungkin Bapak harusnya cek di meja resepsionis bahwa tertulis peraturan apabila lebih dari jam 22.00, berarti Bapak memang harus mengambilnya di ruang sekuriti ini."

Karena realitanya, saya cuma jadi patung yang menyaksikan orang baik seperti Pak Sekuriti dicaci maki oleh Bapak-Bapak sotoy. Walaupun saya tahu, saya juga nggak mau memperpanjang masalah. Intinya, saya belum jadi manusia yang berani bicara untuk sesuatu yang benar.

Kacangan lo Nang!






Sunday, August 12, 2018

Pergulatan Batin, Pasang Iklan atau Nggak Pasang Iklan?



Di awal memulai blog ini pada tahun 2011, saya berpikir bisa mendapatkan penghasilan dari penayangan iklan Google Adsense –impian mainstream bloger awal-awal. Hingga akhirnya saya membuat beberapa artikel yang meraup cukup banyak viewers.

Sayangnya, berkat ketidakkonsistenan saya membuat konten, pengajuan Adsense pun selalu ditolak oleh Google. 

Mulailah saya merubah pola pikir, "udahlah nggak usah iklan-iklanan, bikin blog yang penting berfaedah, kalo berfaedah dan ngebantu orang lain, rejeki bisa dateng dari tempat lain kok".

Di sisi lain, saya melihat blog-blog yang Adsense-oriented itu nggak mempedulikan kenyamanan pembaca. Iklan sliweran di mana-mana, mau klik ini/itu malah muncul pop-up, kan ngeganggu gitu.

Padahal pembaca mengunjungi blog karena apa? Karena pengin nyari informasi, bukan nyari iklan. Mulailah saya nulis tanpa memikirkah tetek bengek periklan-iklanan.


"Namun, jiwa dalam diri ini ingin mengatakan sesuatu "apakah blog ini sudah layak untuk dilirik pengiklan, apakah sudah layak"

Dari situ, saya mulai rajin nulis blog, seminggu satu artikel. Artikelnya pun bebas, semau saya. Mau #CERPAEDAH, #TIDAKBERFAEDAH, atau #REVIEWBERFAEDAH, yang penting seminggu konsisten satu tulisan.

Hampir 9 minggu berlalu, saya akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar Adsense lagi. Tujuannya satu, pengin tau apakah blog ini sudah pantas dilirik pengiklan dan masuk ke standar Google.

Dan ternyata setelah menunggu 24 jam dari waktu pengajuan, terengtengteng berhasil!1!1!1!1!

Pengajuan Adsense untuk blog tercinta anangfilya.com berhasil. Sehingga semalam, saya mencoba mengutak-atik blog agar walaupun terdapat iklan di dalamnya, nggak sedikitpun mengganggu kenyamanan pembaca.Saya kekeuh, iklan jadi mengganggu kenyamanan kalau tidak di-organize dengan baik.

Intinya, walaupun blog ini sekarang sudah ada iklannya. Saya nggak bakalan bikin blog ini jadi seperti pager-pager di masa kampanye, banyak banget tempelan iklan dan promosinya. Bagi saya, inti dari blog ini adalah agar tetap berfaedah, yha tapi kalau ada teman-teman yang bersedia klik iklannya juga, saya nggak nolak, hehe.

Wednesday, August 8, 2018

Hidup Itu Mengalir atau Direncanain? #TIDAKBERFAEDAH


Sejak awal saya mulai berpikir tentang masa depan –kira-kira saat masa-masa memasuki SMK, saya terdoktrinasi oleh petuah-petuah motivator bahwa hidup dan masa depan itu harus terencana dengan baik atau istilah kerennya well-planned future.

Namun di sisi lain, I'm not the one who set the ambition to the highest level. Rencana yang saya susun, kalau kesampaian alhamdulillah, kalo nggak, ya paling sedih sebentar abis itu mikir lagi.

Mengapa saya jadi seseorang yang berprinsip seperti itu?

Mungkin ini penyebabnya...

Saya lahir di keluarga yang kadang ada duit, kadang nggak (keseringan nggaknya) nggak mau dibilang misqueen. Mulai dari masuk sekolah mana, TK-SD-SMP, saya cuma punya satu sekolah pilihan; sekolah-sekolah yang letaknya dekat dari rumah. Padahal dulu, guru-guru SD merekomendasikan saya untuk masuk SMP favorit berkat nilai rapor dan ujian nasional yang cukup oke dikala itu  tertinggi nomor 2 se-sekolahan, sombong nggak aqu?

Selain itu, saya nggak punya power yang cukup untuk membela diri. Toh, saya sadar kalau saya nggak mau memberatkan orang tua. Biaya sekolah dekat rumah yang nggak bagus-bagus amat aja sudah cukup berat, kok ini mau sok daftar di sekolah favorit, bergengsi, dan sebagian besar diisi anak-anak orang kaya.

Akhirnya, pola pikir saya mengikuti orang tua "sekolah di mana aja, kalo pinter mah pinter aja. Pilih yang deket biar nggak ngabisin ongkos, bisa naik sepedah". Hal tersebut membuat saya ogah untuk mengikuti teman-teman pintar dan cukup berduit yang berlomba-lomba masuk ke sekolah favorit.

Tapi saya bingung...

Pemikiran saya yang anti ambisius tingkat tinggi kadang membuat saya agak ciut. Hal tersebut berkat seringnya saya mendengar kalimat-kalimat dari motivator, 

"Orang sukses itu merencanakan masa depannya dengan baik dan melakukan yang terbaik" menghantui saya.

Lah tapi, saya orangnya kan nggak ambisius, jadi nggak mau juga terlalu merencanakan masa depan yang begini-begitu. Apa intinya saya nggak bakal sukses?


Amit-amit ya Allah...


Saat saya menginjak usia belasan, orang tua saya sudah mulai mengerti bahwa anaknya ini sudah mampu berpikir sendiri dan di sisi lain mereka sadar bahwa mereka bukan orang yang berpendidikan tinggi, nggak ngerti jurusan mana yang bagus buat anak. Sehingga saat saya lulus dari SMP, saya dibebaskan untuk memilih SMA/SMK semaunya. Memang sih mereka masih saja merekomendasikan SMA Negeri dekat rumah –yang cukup bagus– tapi saya kan cowok, pengen dong sekolah agak jauh biar punya pengalaman lebih.

Ketika saya memilih jurusan Teknik Komputer dan Jaringan pun, orang tua nggak komentar banyak. Saya senang mereka mulai percaya sama saya. Bahkan saya lumayan terharu saat Mamak mengorbankan duit warisan dari Nenek untuk membelikan saya laptop guna keperluan sekolah. Nangis~

Orang tua sudah memberikan kebebasan saya berpikir, saya juga sudah mulai bisa berencana saya mau kemana, namun anehnya saya nggak punya ambisi yang menggebu-gebu terhadap apa yang saya suka dan saya bisa. Contohnya momen sesaat setelah ujian nasional.

Saya melihat teman-teman se-SMK sibuk mengurusi pendaftaran perguruan tinggi favorit  sebagian besar Universitas Negeri. Sedangkan saya, setelah tahu lolos beasiswa di Universitas swasta di Jakarta Barat yang infonya dari kakak tingkat, saya udah nggak minat untuk ikut SBMPTN. Sudah daftar, dapat nomor ujian, namun di hari-H nggak jadi berangkat. Males~

Bahkan beberapa teman saya yang juga ikutan daftar beasiswa yang sama dan keterima, masih ngeyel untuk ikutan SBMPTN, karena katanya "yang penting negeri". Saya balik lagi, ah yang penting orangnya hehe.

Tapiiiii sebenernya, mahalnya ini itu di Jakarta itu bikin  saya dan orang tua parno plus ragu buat ambil beasiswa.  Penghasilan ortu yang nggak seberapa dan nggak jelas, bikin orang tua saya kepalang pusing bukan main –ini anak gue mo makan apaan di Jakarta.

Sekali lagi, saya nggak mau bikin orang tua kesulitan gegara saya ngeyel kuliah di Jakarta. Tapi, saya juga ogah nggak kuliah –kalo mau kerja, mo kerja apaan gue, nyisirin pala berbie?


Realita oh realita

Jadinya, saya tetep ambil beasiswa di Jakarta –kapan lagi coy ngerasain idup di kota gede– walaupun dengan rasa ketar-ketir. Harapnya, saya harus bisa kuliah nyambi kerja, terus di Jakarta bisa ikut audisi Indonesian Idol dkk. Terus terkenal.

What Indonesian Idol?

He'em... Selama bertahun-tahun sejak SD hanya bisa melihat Indonesian Idol dkk di layar televisi, berpikir bahwa mungkin ajang pencarian bakat tersebut kemungkinan adalah jalan saya menjadi seorang musisi. Ikut audisi idol-idolan adalah cita-cita saya sedari kecil.

Sayangnya, harapan yang sudah saya rencanakan bertahun-tahun; menunggu waktu memberi kesempatan, dan ketika kesempatan datang, ternyata keberhasilan bukan punya saya.

Ketika saya punya rencana yang sejak lama diimpikan, bertahun-tahun mikirin, eh mental dalam kurun waktu sehari audisi.

Emang nggak punya rencana lain? Satu rencana gagal aja udah kecewa, cemen!

Jadi musisi adalah cita-cita terfokus saya pada awalnya. Bisa dibilang selain jadi musisi dulu saya bingung mau jadi apa. Tapi saya juga nggak usaha abis-abisan buat menggapainya, pemikirannya cuma ikut idol itu doang. Ya hasilnya begitu.

Sekarang gimana?

Saat ini saya masih jadi orang yang sama. Bukan berarti karena saya gagal terkenal ikut Indonesian Idol, terus saya merasa kalau berencana itu sia-sia, bukan. Tapi lebih kepada satu prinsip yang rasa-rasanya memang sudah pas untuk diri ini.

Banyak hal baik datang tanpa terduga dan terencana. Saya nggak pernah kepikiran dan merencanakan untuk bisa kuliah, apalagi hidup di Jakarta, ditambah dapet beasiswa. Nggak, saya nggak pernah nyangka.

Saya nggak pernah nyangka dan merencanakan bisa jadi salah satu bagian dibalik iklan-iklan TV yang dulu saya benci setengah mati itu–ngeganggu nonton sinetron . Nggak kepikiran untuk bakalan seneng ngeblog. Nggak, saya nggak kepikiran.

Tapi, saya juga nggak akan berhenti untuk berencana. Walau untuk kali ini, orientasinya adalah masa sekarang. Tidak akan ngoyo untuk sesuatu yang belum pasti di depan. Sebab saya percaya, apa yang saya perbuat saat ini, baik atau buruk, akan berdampak di masa yang akan datang. Hidup adalah sebuah sistem sirkuler.



Thursday, August 2, 2018

The Complexity of Human Default


Sumber: Instagram @anangfilya

Semalam, setelah menonton satu episode Breaking Bad di situs layanan video streaming 'Netflix', saya bersama satu-satunya sahabat gendut sejak SMK –sebut saja namanya Aziz, ngobrolin banyak hal tentang hidup. Mulai dari skala prioritas, uang, kebahagiaan, dan yang paling ngena adalah ketika ngobrolin tentang kerumitan settingan default emosi manusia. Yup, We were little bit philosophical that night.

Aziz (dan juga saya) berpikir bahwa ada orang-orang yang lahir dimuka bumi cuma buat ngeramein doang, dan itu banyak. Mereka yang lahir hanya untuk memikirkan diri sendiri, tidak menghargai orang lain, dan berpikir bahwa eksistensinya dalam hidup adalah yang paling penting dibandingkan yang lain adalah orang-orang yang kami maksud.

Sedangkan kami? Kami hanya berharap –serta mengklaim secara sepihak–  nggak masuk ke dalam golongan orang-orang tersebut.

Saya pribadi, sebenarnya selalu bertanya-tanya akan hal tersebut. Apakah saya lebih baik daripada orang-orang yang saya tidak suka tersebut? Atau malah sebenarnya, saya adalah salah satu bagian dari golongan tim hore bumi?

Ya, bahkan saya nggak tahu di mana letak diri saya sendiri dari golongan yang saya buat, miris!

Namun, cerita Aziz yang saat ini sedang sibuk menjadi driver ojol menyadarkan saya akan satu hal. Simak dulu ceritanya.


Cerita dimulai...

Saat itu, Aziz sedang beroperasi di sekitaran Taman Anggrek –salah satu mall gede di Jakarta Barat– mendapati notifikasi di ponselnya bahwa ada order masuk. Ia terima orderan tersebut dan dengan sigap berhenti sejenak untuk memencet template pesan "I'll be there in few minutes"  di layar aplikasi.

Nah, karena si Aziz ini sering kurang teliti, tanpa membaca lokasi penjemputan secara seksama, ia langsung bertanya ke penumpang yang saat itu wanita via fitur chat.

Aziz: "Halo mbak, lokasi penjemputan, di mana ya?"
Cust: "Hah?" (agak jutek)
Aziz: "Maksud saya, titik pasnya mbak, pintu sebelah mana?"
Cust: "Kan itu ada mas di detail lokasi, saya di Metro Taman Anggrek"
Aziz: "Oh iya mbak, siap saya menuju ke sana"
Cust: "Kamu pake jaket kan? Nomor plat sesuai kan?"
Aziz: "Iya mbak"

Kemudian sampailah Aziz di titik penjemputan. Dengan rona wajah tersenyum khas dirinya, Aziz menyapa penumpangnya "Maaf Mbak kalau tadi saya nggak teliti", namun yang ia dapat hanya balasan berupa pandangan mata yang seakan memberikan arti "halah bodo amat".

Di sini Aziz mulai berpikir bahwa penumpangnya yang satu ini adalah salah satu golongan orang-orang tukang ngeramein bumi karena kejutekannya. Namun dikarenakan Aziz merupakan anak kuliahan jurusan Public Relation, ia tertantang untuk mencairkan suasana dengan memberikan beberapa pertanyaan dengan nada suara ramah khas dirinya.


"Weekend-nya gimana Mbak seru kah?", saat itu hari Sabtu.
"Ini jalan ke rumah atau kost mbak?"
"bla-bla-bla-bla"

Di pertanyaan-pertanyaan awal, si Mbaknya masih jutek; jawab seadanya. Namun berkat kegigihan Aziz yang tetap ramah sampai pertanyaan-pertanyaan ketiga dan keempat, si Mbaknya mungkin berpikir "Ini Abang Grab udah dijutekin kok masih aja ramah banget sih, keknya gue salah deh jutekin dia tadi".

Obrolan ringan mengakrabkan pun terjadi. Aziz merasa dirinya berhasil meluluhkan hati si Mbak tukang ngeramein bumi ini. Setidaknya dia tahu, dia nggak akan dapat bintang kecil di rating aplikasi ojolnya.

Hingga saat mereka sampai di tempat tujuan, Aziz kembali meminta maaf dan mengucapkan terimakasih.

Aziz: "Terimakasih ya Mbak, maaf tadi saya kurang teliti baca tujuannya"

Cust"Oh Mas nggak apa-apa kok, oh ya ini mas ada lebihan buat mas", si Mbak membalas

Aziz: "Tapi kan Mbak udah pake Grabpay"

Cust: "Udah nggak apa-apa, saya masuk dulu ya mas, terimakasih"

Saya Sadar...

Dari cerita sederhana dari Aziz di atas saya sadar bahwa saya terlalu sering menggeneralisasi sesuatu; menarik kesimpulan secara umum dari gabungan pengalaman pribadi. Apa yang saya pikirkan tentang manusia-manusia tukang ngeramein bumi; golongan yang saya pikir ada tersebut sebenarnya hanya pengklasifikasian otak akan sesuatu yang saya nggak suka.

Saya memang nggak suka sama manusia-manusia yang nggak bisa menempatkan diri, jutek setiap saat sama orang lain, karena saya selalu berpikir "Apa susahnya sih berlaku baik". Saya berpendapat, orang lain harusnya juga berpikiran seperti halnya saya punya pemikiran. Namun kembali lagi, itu adalah kesalahan logika karena saya nggak bisa memaksakan orang lain untuk jadi seperti saya.

Sekarang, saya hanya perlu berperilaku seperti apa yang saya inginkan dan saya ingin membiarkan orang lain berperilaku sesuai diri mereka, sesuai pemikirannya. Saya nggak bisa menetapkan mana yang paling baik dan mana yang paling benar, bias antara dua hal tersebut menetapkan diri saya untuk teguh dengan apa yang saya yakini, dan harapnya orang lain bisa mencontoh tanpa keharusan.







Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.