Anang Filya : Antara Zakir Naik, Ahok dan Non-Muslim

Tuesday, April 4, 2017

Antara Zakir Naik, Ahok dan Non-Muslim



Mengetahui Dr. Zakir Naik akan ke Indonesia, saya merasa antusias. Walaupun mungkin saya tidak bisa menyaksikan dakwahnya secara langsung,  setidaknya saya tahu saya akan mendapatkan jawaban dari pendapatnya tentang satu hal yang selama ini membuat saya gundah gulana. Dan saya juga yakin, pasti akan ada seseorang yang menanyakan tentang hal tersebut. Yaps, kita semua tahu, yang pasti tentang Ahok dan pemilihan gubernur non-muslim.

Ternyata, baru saja kemarin (3/4), teman saya memberitahu bahwa beliau ini sudah memulai dakwahnya di Bandung. Saya langsung membuka situs Youtube, dan benar saja videonya sudah menjadi trending no. 1 di Youtube Indonesia.

Mengapa Harus Zakir Naik?

Apakah saya seorang pecinta Zakir Naik yang selalu membenar-benarkan pendapatnya?. Jawabannya adalah tidak sama sekali. Saya bukanlah orang dalam golongan yang mengagung-agungkan manusia masa kini. Karena saya ingat tidak ada satupun manusia yang maksum di dunia ini selain Rasulullah. Saya hanya berpendapat bahwa Zakir Naik adalah orang yang berilmu dan kompeten untuk menjawab masalah-masalah masa kini.

Ngapain Ngurusin Ahok? Kan Enggak Punya Hak Pilih 

Menurut saya hal ini penting. Karena apa? apabila nanti hal ini terjadi di daerah kelahiran saya, maka saya punya acuan, hal apa yang harus saya lakukan. Jujur saja saya suka dengan Ahok. Walaupun saya belum lama tinggal di Jakarta, tapi saya beberapakali mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan gubernur DKI Jakarta ini berdialog, yang menurut saya dia memang jujur, kerjanya nyata, tidak pernah basa-basi. Bahkan ketika kamera tidak sedang menyorotnya, dia tetaplah pribadi yang sama.

Kan Sudah Dapat Jawaban Dari Zakir Naik, Kok Masih Suka Ahok?

Jujur selama ini saya galau dan belum yakin atas pendapat ulama-ulama Indonesia yang berbeda-beda, maka dari itu saya melihat Ahok secara objektif, dia pemimpin langka yang kerja nyata. Tapi setelah saya menyaksikan video Zakir Naik Visit Indonesia 2017, tentang seorang wanita yang bertanya apakah boleh seorang muslim memilih pemimpin non-muslim. Saya langsung paham maksudnya. Tidak perlu saya putar ulang videonya, saya merasa bersalah akan apa yang sudah saya perdebatkan dengan teman-teman saya selama ini. Saya sudah mendapatkan jawaban atas apa yang sudah saya galaukan selama ini.

Tapi lantas, apakah hal tersebut membuat saya langsung benci atau tidak suka terhadap ahok?. Jawabannya tetap tidak sama sekali. Saya diperintah oleh Allah untuk tidak memilihnya, bukan membencinya. Saya tetap suka Ahok, menurut saya dia bukanlah sosok yang harus dibenci atau dihindari. Malah sebaliknya, seorang Ahok  bisa dijadikan teladan atau role model bagi kita umat muslim, untuk bisa menjadi pemimpin yang punya jiwa bersih, tegas, kerja nyata dan bebas korupsi. Bisa bayangkan betapa kerennya apabila ada pemimpin muslim yang berjiwa pemimpin seperti Ahok?.

"Aku suka nang ceplas-ceplosnya pak Ahok, kerjanya beneran, seharusnya pemimpin emang kayak gitu, tapi sebenernya aku juga butuh figur pemimpin muslim Nang, coba aja ya pak Ahok itu muslim,"
Itu adalah perkataan sahabat saya Una selepas menonton Mata Najwa Debat Ahok dan Anies (27/03), Betapa indah kata-kata sederhana dari sahabat saya ini, yang walaupun dia tidak akan memilih pemimpin non-muslim, tapi dia juga tidak menghilangkan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan Ahok, dia juga tidak perlu jadi pembenci yang membagikan kejelekan-kejelekan Ahok. Kan sebenernya mudah?, Tidak memilih boleh, tidak suka boleh, membenci itu yang tidak boleh, karena yang salah itu adalah hati yang penuh kebencian, yang sampai lupa bahwa sebenarnya kita semua manusia yang tidak luput dari dosa.

Non-Muslim atau Kafir

Satu hal yang paling saya soroti adalah ketika ada seorang wanita non-muslim bertanya kepada Zakir Naik tentang istilah kafir. Dai kondang inipun menjawab dengan santai, "Kafir adalah sebutan muslim untuk yang tidak seiman dengannya, sama dengan istilah domba yang tersesat dalam agama nasrani". Menurut saya, hal tersebut bisa jadi masalah di Indonesia, karena apa?. Kata Kafir bagi kebanyakan masyarakat Indonesia berkonotasi sangat negatif, kafir banyak dimaknai sebagai orang yang tidak beriman kepada Tuhan atau tidak beragama. See, bisa lihat mengapa banyak orang yang tersakiti hanya karena satu kata.

Saya lebih memilih menggunakan kata non-muslim. Karena untuk menjadi seorang pembicara yang baik atau sederhananya berbicara kepada orang lain, kita harus mengerti budaya, pemahamannya, dan latar belakangnya. Hal itulah yang masih saya pelajari dalam studi komunikasi saya, maka dari itu menurut saya kata non-muslim lebih bijak untuk digunakan karena yang pasti tidak akan menyakiti orang lain. Saya jadi ingat kalimat yang diucapkan guru saya semasa SMK.

"Didunia ini, yang paling berat adalah menghargai perasaan orang lain - Pak Joko Sukarno"

Kesimpulan

Saya rasa, sudah cukuplah kita beragumen, kita saling menyakiti. Hidup ini rasanya sumpek dengan berbagai postingan tentang kebencian dan provokasi. Ayok, sama-sama jadi manusia yang baik, yang memahami manusia lain, yang peka terhadap sekitarnya, dan tidak menganggap dirinya terlalu benar. Jadilah pembagi kebaikan, bukan pembagi kebencian. Jangan jadi pemuja manusia, karena kita semua sebenarnya sama dimata Tuhan. Tulisan ini merupakan ungkapan kesadaran saya akan ilmu-ilmu yang masih harus saya gali lebih dalam lagi, serta pendapat saya yang mungkin orang lain belum tentu sama pemikirannya. Saya hanya berharap tulisan ini bisa jadi bermanfaat. 


Satu Pertanyaan Yang Masih Bingung Dibenak Saya

Zakir Naik mengatakan bahwa pemimpin non-muslim yang membangun masjid adalah munafik, karena dia membangun masjid tapi tidak solat, yang mana itu membuat muslim berpandangan negatif terhadap non-muslim yang ingin membantu membangun masjid. Saya bingung ketika kata pemimpin itu diimplementasikan didunia kerja. Yang mana apabila seorang pemimpin perusahaan non-muslim, membangun mushola agar bisa mengakomodasi kegiatan ibadah para karyawan muslimnya, apakah hal tersebut masih dipandang negatif bagi umat muslim?. Bagi teman-teman yang punya jawaban, tolong tuliskan di kolom komentar ya, berbagi ilmu dapat pahala kan?.

No comments:

Post a Comment

< > Home
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.