Anang Filya: Hidup Tanpa Bajakan, Bisa? #CERPAEDAH

Saturday, February 24, 2018

Hidup Tanpa Bajakan, Bisa? #CERPAEDAH


Sore itu, saya bersama beberapa kakak tingkat sedang duduk di kantin kampus. Mereka yang bisa dibilang senior saat itu sedang mendiskusikan event yang akan diselenggarakan BEM Universitas. Saya sih nggak terlalu “ngeh” begituan, ikutan nimbrung cuma karena nggak ada teman makan di kantin dan ada seorang kaka tingkat yang saya kenal disitu.

Di sela-sela diskusi yang sambil ketawa-ketiwi, seorang kakak tingkat perempuan yang saya nggak tahu namanya nyeletuk “Eh, bioskop Trans TV hari ini filmnya apa ya?”, bertanya kepada teman duduk disampingnya. “Coba gue cek dulu, kalo di RCTI nanti malem ada Narnia sih”, jawab teman wanitanya.

Mendengar percakapan mereka, saya langsung nyaut “Ha? Bioskop Trans TV? Bukannya filmnya Cuma itu-itu aja ya?”.

Iya sih, tapi kan lumayan nonton film gratis, nggak buang-buang duit ke bioskop”, sahutnya kembali.

Lah kenapa nggak download aja di situs elkaduasyatu? Gratis, banyak film-film terbaru lagi, nggak kayak di Trans TV filmnya itu-itu aja, dah kayak menu di warteg

“Ah… kuota lagi-kuota lagi, males lah download dulu, mending langsung nonton di tipi, lagipula gue kan nggak mau nonton yang bajakan, apalai gue mau bikin grup pesbuk anti pembajakan pecinta bioskop Trans TV”, jawabnya sambil cekikikan.

Kemudian kakak tingkat yang saya kenal, Rully, membalas “Halah, lu mah emang kagak punya kuota, sok-sok an anti pembajakan”.

“Hehe, iya sih” sahut si wanita itu kembali.

Mikir.

Kalau dipikir-pikir, iya juga sih. Saking sudah majunya teknologi, internet makin cepat, Wi-Fi di indekos tersedia, saya nggak perlu kerepotan kalau cuma buat streaming atau download film di internet. Nggak perlu menunggu jadwal siaran TV, pokoknya mah gas terus.

Tapi gara-gara itu, saya sering lupa, kalau film-film tersebut saya nikmati secara ilegal. Dengan tanpa rasa bersalah dan menimbang halal atau nggaknya, saya sering berpikir “Ngapain nonton di bioskop, kalo ujung-ujungnya nanti juga ada di elkaduasyatu”.

Walaupun kakak tingkat saya tersebut guyon soal alasannya setia menonton bioskop Trans TV karena anti pembajakan, toh dia lebih bijak mengambil keputusan untuk menikmati sebuah konten film dari keterbatasannya (dalam hal ini pelit kuota). Yang berarti dia juga nggak melakukan pembajakan dan menikmati konten ilegal.

Dilema Ngebajak

Tapi jujur, saya sendiri berkeinginan untuk menjadi manusia yang bisa menghargai karya manusia lain. Karena bikin suatu karya itu nggak mudah. Nggak ada salahnya mengeluarkan sedikit uang untuk menikmati karya orang lain, lagipula diri sendiri juga yang akan terhibur dan akan mendapatkan kepuasan batin.

Musik

Saya sih, sebenarnya sudah mulai mengurangi pembajakan-pembajakan dalam hidup di dunia yang hanya sementara ini dengan tidak mengunduh file musik ilegal. Namun dengan memutar musik secara streaming melalui Spotify dan Apple Music. Yah, nggak apa-apa lah bayar sedikit (family sharing) plus boros kuota, yang penting halal (ngomong dengan perasaan bangga dan sombong). Lagipula kalau mau gratis, ada Spotify yang gratisan, JOOX, dan YouTube. Ah, hidup ini indah.

Buku

Juga dengan buku. Walaupun saya ini bukan pembaca buku kelas berat, tapi kadang-kadang ada hasrat untuk jadi anak rajin dan pintar. Nah, karena harga buku kadang-kadang mahal, apalagi saya sering nggak menuntaskan membaca sampai habis dan saya nggak mau jadi umat-umat yang mubazir, saya akali dengan meminjam buku elektronik melalui aplikasi iJak dan iPusnas. Koleksi bukunya cukup bervariasi, walaupun untuk pinjam harus antri. Yang penting dan paling penting, gratis -tis -tis.

Film

Nah, Film ini bagi saya masih jadi dilema. Di sisi satu pengin menikmati film dengan cara yang legal, tapi di sisi lain film resmi kalau nggak ditonton lewat bioskop, paling-paling sewa atau beli lewat Google Play Movie (dulu Play Film), iTunes, atau streaming via Netflix dan sejenisnya.

Terus apa masalahnya?

Apabila menikmati musik legal itu bisa diakali pakai Spotify dkk (selain Apple Music) yang menyediakan layanan gratis, lain halnya dengan film. Hingga saat ini, belum ada provider yang menyediakan konten film secara gratis dan legal. Minimal harus sewa (seperti Google Play Movie & iTunes) atau berlangganan (Netflix, Iflix, Hoox, VIU, dll). Dan biayanya itu kebanyakan nggak murah. Okelah, murah atau nggaknya mungkin relatif. Namun, Google Play Movie, Netflix dkk kebanyakan masih menggunakan metode pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit, kita sendiri tahu, penetrasi kartu kredit dan debit di Indonesia itu lambatnya masya Allah.

Lagi, update katalog film populer di situs-situs tersebut seringkali kalah cepat dibanding situs ilegal Elkaduasyatu dan Gyanul. Jadi pilihan terbaik saat ini untuk menikmati konten film secara legal secara cepat masih dipegang oleh bioskop konvensional. Masalahnya lagi, bioskop semacam XXI dan CGV seringkali hanya tersedia di kota-kota besar. Maka dari itu, kali pertama saya di bioskop baru pada saat saya kuliah di Jakarta. Saat masih di kampung, lah boro-boro, kalau mau nonton harus menempuh perjalanan hampir 2 jam, kan jadi males.

Hmm…


Goals saya sih, saya bisa hidup tanpa bajakan. Nggak sekedar dari sisi konten multimedia, tapi juga aspek-aspek lain seperti halnya perangkat lunak yang resmi (sistem operasi -baca: Windows, Office, Adobe suite, dll). Dan saya tahu, untuk mencapai goals tersebut, pasti perlu biaya yang nggak sedikit. Apalagi saya juga belum bisa menghasilkan pundi-pundi Rupiah sendiri, namun yang namanya kebaikan emang kadang harus ditebus mahal -aseek. Bukan apa-apa, kalau mindset membajak itu selalu ada, lama-lama rasa salah akan mencuri secara nggak langsung bisa jadi memudar dari hati. Karena jelas dalam Agama saya, membajak berarti mencuri hak cipta yang berarti barang berharga. Dan saya juga yakin, nggak ada agama yang melegalkan pencurian. Intinya pertanyaan "Hidup tanpa bajakan, bisa?" jawabannya "insyaallah hehe"

No comments:

Post a Comment

< > Home
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.