Anang Filya : Betah Nggak Betah Pake iPhone #TIDAKBERFAEDAH

Saturday, June 30, 2018

Betah Nggak Betah Pake iPhone #TIDAKBERFAEDAH




Sebagai pengguna ponsel pintar berbasis Android sejak 2013, saya menganggap memiliki produk-produk besutan Apple adalah sebuah kemewahan. Pokoknya ngelihat orang pake iPhone mau versi jadul juga tetep… ah keren , mahal, mewah, fancy, pokoknya suka banget lah sama kemevvahan.

Apalagi dulu zaman masih SMK, boro-boro beli iPhone; mau beli Nutrisari aja duitnya sayang; mending Marimas, lebih murah –Nutrisari 2 rebu, Marimas 500— sisanya  nggak jauh beda cuma bikin tenggorokan seret doang.

Dasar misqueen.

Namun setelah kuliah, ikut lomba, kerja dan bosan berkutat dengan ponsel-ponsel keluaran Tiongkok (padahal iPhone juga diproduksi di sana), untuk memenuhi rasa penasaran; akhir 2017 lalu saya coba-coba beli iPhone 5S garansi iBox –second masih sisa garansi tentunya.

Belum genap setahun, tepatnya April 2018, ponsel saya raib dicopet preman Pelabuhan Merak dan saat ini senior magang saya alhamdulillah juga baiknya nggak ketulungan meminjami saya iPhone 6 lama miliknya –hape barunye udah iPhone X mau gimana dong?

Sehingga kira-kira sudah hampir  6 bulan atau setengah tahun saya sudah menggunakan iDevice yang terkenal buat kalangan horang kayah tersebut –walaupun sekarang mau misqueen juga banyak aja pake iPhone dapet dari Batam. Lalu kira-kira nyaman nggak sih pakai iPhone bagi saya sobat misqueen dan is it true that iPhone is better than Android? Mana yang bikin saya paling betah?


Apa sih yang bisa bikin saya betah sama ponsel pintar?

Syarat sebuah ponsel yang bisa bikin saya betah itu nggak susah.

Pertama, kamera harus bagus. Saya nggak punya kamera digital, jadi satu-satunya alat menangkap gambar untuk kebutuhan ke-estetique-an Instagram dan foto-foto di blog ya cuma hape.

Kedua, performanya oke. Saya bukan gamer, hape dipake tiap hari cuma buat browsing, media sosial (Instagram dan Twitter), dan foto-foto. Jadi performa  yang saya maksud nggak harus didefinisikan dengan spesifikasi yang tinggi. Pokoknya yang penting pada daily usage, nggak ada lag yang parah gitu.

Ketiga, desain nggak norak plus nggak ribet. Desain yang dimaksud di sini nggak cuma sekadar desain body ponselnya, tapi juga desain user interface. Intinya, simple dan minimalis plus dalam pemakaian nggak perlu utak-atik berlebihan, nggak ribet, karena saya adalah orang yang lebih suka settingan defaultintinya males.



Yang bikin betah di iPhone

Dari tiga standard ponsel yang bikin betah, apakah iPhone ini memenuhi 3 kriteria? Hmm… jawabannya hampir shay hampir.

Oke, di bagian pertama, kamera. Siapalah yang nggak tahu kualitas kamera dari ponsel pinter besutan Apple ini. Hampir tiap tahun rilis, kamera iPhone selalu jadi jawara. Nggak cuma buat ambil gambar, rekam video juga kualitasnya eghmm.. poll kualitasnya. Standar Apple akan kualitas kameranya emang nggak main-main. Nggak perlu gembar-gembor spesifikasi secara teknis, pamer resolusi gede; intinya kalo kamera iPhone, yaudahlah jelas kualitasnya mahal.


Emang Android nggak ada yang kameranya bagus? Hah!

Ada dong, banyak. Namun dengan banyaknya produsen ponsel  beserta tipe-tipenya –mulai dari pabrikan Amerika, Cina, sampai lokal yang juga masih diproduksi di Cina—akan sulit untuk membuat standar ‘bagusnya’ kamera di Android.

Kedua, performa iPhone ini saya rasa joss. Bayangin, saya sekarang pake iPhone 6 yang dirilis tahun 2014, berarti saya pake ponsel yang umurnya sudah 4 tahun. Walaupun memang nggak sengebut di saat pertama rilis, performa iPhone 6 masih dapat saya katakan oke. Namun beda versi jelas beda kondisi dong. Empat bulan pakai iPhone 5s yang dikombinasikan dengan iOS 11, saya stress. Itu hape jadi luemoottt. Tapi ya itungannya hengpon jadul, ya jangan protes; heh, ini ipon loh.


Emang Android nggak ngebut?

Wih jelas ngebut banget, saya dulu pake Xiaomi Mi Note generasi pertama yang tergolong mantan flagship juga ngebut, padahal ponsel tersebut dirilis pada tahun 2014 barengan sama iPhone 6. Hanya saja, ketika ingin membeli sebuah ponsel Android, artinya kita harus memikirkan “eh RAM-nya berapa?, Prosesornya qualcomm snapdragon kan? layarnya gimana?”; orientasi terhadap spesifikasi jadi salah satu fokus utama. Sedangkan iPhone? Mana penggunanya peduli kalau iPhone 6 RAM yang tersemat di mainboard-nya hanya 1 GB.



Ketiga, desainnya. Pastinya kita tau ponsel antek-antek aseng itu sering banget nyontek desain iPhone. Mulai dari desain body sampe ke user interface –Lihat aja Oppo, Vivo, Xiaomi; niru semua. Dengan menjunjung tinggi keminimalisan, ponsel yang di desain di California ini emang cantiknya nggak bisa dibantah. Untuk user interface ala iOS, saya jatuh cinta. Bagi saya, tampilan yang disajikan di layar iPhone memang udah oke banget dari segi estetika. Teratur, rapih, dan yang paling penting… saya nggak perlu ribet utak-atik sana-sini, emang dari orok udah bagus.


Emang Android Kenapa?

Ya nggak kenapa-kenapa. Masalah estetika memang subyektif banget. Tapi bagi saya, user interface di ponsel Android yang bikin nyaman cuma dua. Google Launcher yang ada di Android One dan MIUI-nya Xiaomi. Saya pilih dua itu karena simple, nggak perlu utak-atik, karena bagi saya setting-an default juga udah oke.


Lho, kok semuanya keknya oke-oke aja di iPon? Bagian nggak betahnya mana??!!


Sabar dong ihh.



Nggak betahnya pakai iPhone


Tiga standard ponsel yang bikin betah tadi belum sepenuhnya dipenuhi oleh iPhone. Karena satu hal, iPhone ini relatif nggak fleksibel, alias ribet.

Gimana ya, perangkat komputer jinjing yang saya gunakan itu berbasis Windows, dan saya juga pengguna lama Android. Sudah dipastikan saya hidup dalam ekosistem Google yang super fleksibel. Pernah pengin pindah ke ekosistem Microsoft tetep nggak bisa. Udah deh, Google dengan Drive, Gmail, Keep, dan lain-lain itu udah mantep banget.

Sedangkan iPhone, nggak apa-apa juga sih kalau kita mau pake ekosistem Google. Toh semua aplikasi Google tersedia di Appstore. Cuman eh cuman, make fitur Google di produk Apple itu kayak bikin es Milo tapi aernya kebanyakan; nggak mantips. Contohnya nih, ketika kita pakai Android, sekali log in pake akun GMail, yaudah semuanya bakal tersinkronisasi otomatis.  Kalau di iOS, ya ampun, mengunduh satu aplikasi Google, berarti ya tetep harus log in satu-satu. Google udah baik-baik ngasih semua fitur ke Apple, tapi lha kok masih ribet yak?


Keknya Google sama Apple kurang akrab deh, ngobrol napa ngobrol, biar ini pengguna-pengguna lu pada nyaman?



Dan lagi, saya juga agak kesulitan ketika ingin transfer file dari ponsel ke laptop. Kalau di Android, yaudah sih pake bluetooth bisa; pake kabel USB juga bisa; mau pake aplikasi pihak ketiga semacam ShareIt juga oke; intinya fleksibel.

Kalau di iOS, jangan harap bisa pake bluetooth –ini fitur cuma buat koneksi ke peripheral semacan bluetooth earphone atau wireless keyboard di iOS—pake aplikasi third party kayak ShareIt aja kadang bisa kadang nggak. Pakai kabel data bawaan juga harus install iTunes, lagi nggak semua file bisa ditransfer ke laptop dan sebaliknya.

Intinya, paham minimalis dan ekslusifnya Apple memang terimplementasi dengan amat nyata. Saking nyatanya sampe bikin ribet.

Tapi mau sampai kapan pun juga, Google itu empunya Android. Kalau mau optimal berada di ekosistem Google, ya pakai Android. Sedangkan Apple, selama masih kekeh dengan paham eksklusifitasnya, yaudah produk Apple akan tetap optimal dengan ekosistem Apple; artinya kita harus punya produk Apple yang lain, misal Macbook. Mahal cyin.


Intinya…


Ketidakbetahan saya menggunakan iPhone bukan karena iPhone jelek, bukan! Melainkan itu adalah kekurangan dari diri saya yang belum mampu masuk lebih dalam ke ekosistem Apple. Bagi saya analoginya begini, iPhone itu seperti fancy hotel; oke saya nyaman dengan semua fasilitas yang terstandardisasi dengan baik, serta kemewahan yang ditawarkan. Hanya saja, hotel ya hotel, saya bakal pergi cepat atau lambat berkat itu bukan punya saya. Saya juga nggak bisa seenaknya jumpalitan atau obrak-abrik sesuka hati, sekali lagi hotelnya bukan punya saya.

Sedangkan Android, itu kayak kamar indekos. Iya sempit, kadang kelihatan murah, nggak mewah. Tapi di dalamnya, saya bisa bebas ngapain aja. Jumpalitan, ngobrak-abrik lemari, buang apa aja sana-sini. Ya karena ini rumah saya, punya saya. Kamar indekos saya mungkin nggak akan menawarkan standard yang sama kayak hotel, mau dikasih spring bed yang puluhan juta juga. Hanya saja, di sini saya bebas mengeksplorasi. Gitu….



No comments:

Post a Comment

< > Home
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.