Anang Filya : Asyique-nya Jadi Asisten Museum MACAN #CERPAEDAH

Sunday, July 8, 2018

Asyique-nya Jadi Asisten Museum MACAN #CERPAEDAH


Lebih kurang dua bulan ini, weekend saya isi dengan menjadi part-time asisten Museum MACAN. Berawal dari iseng cari-cari kerja tambahan dan buka website www.museummacan.org/career; eh ternyata ada lowongan, apply dan alhamdulillah keterima. Walaupun motif utama saya pada awalnya hanya sekadar cari duit tambahan, ternyata terdapat banyak ke-asyique-an dalam dua bulan terakhir ini. Apa saja?


Ketemu Banyak Orang yang Beda-Beda

Pameran kedua dari Museum MACAN yang bertajuk “Yayoi Kusama: Life is The Heart of a Rainbow” merekrut kurang lebih 140 orang sebagai asisten museum (selanjutnya bakal saya tulis asmus). Tugas asmus itu nggak sulit-sulit banget kok. Kita hanya harus menjaga karya seni dari tangan-tangan usil biar nggak rusak, melayani pertanyaan pengunjung, intinya membuat pengunjung nyaman menjelajah museum.

Bayangan saya, program ini bakal seperti program relawan-relawan yang lain; merekrut orang-orang dengan  latar belakang yang sama –yang emang suka dengan art, manusia-manusia estetik, ya pokoknya yang begitulah. Contohnya program volunteer  Java Jazz yang sepenglihatan saya kebanyakan beranggotakan anak-anak kekinian pecinta musik.

Tapi eh tapi ternyata nggak gitu. Seratus empat puluh orang yang saya temui sebagai asmus, semuanya beda-beda. Ada yang background-nya ekonomi, ada yang komunikasi, ada yang masih SMA, ada yang anak kuliah, bahkan ada yang sudah S2; Bhinneka Tunggal Ika joss. Hal ini ternyata emang dikonfirmasi oleh Geraldine Shoko (HRD Museum MACAN), kata kakak cantik ini dia sengaja memilih orang-orang dengan latar belakang yang beda karena dia yakin, orang yang berbeda dari dirinya bisa melakukan sesuatu yang nggak bisa dia lakukan. Gitude~

Seni Itu Dinikmati

Sebelum saya jadi asmus, pikiran saya Museum MACAN itu cuma tempat foto estetik. Sebagai manusia biasa, normal, dan tampan tanpa cela, saya nggak kepikiran gimana caranya menikmati sebuah karya seni;  intinya foto.

Dan di sini saya ngerti, menikmati karya seni itu nggak harus dilakukan dengan unggah instastory. Dengan nggak nyentuh (yang artinya nggak ngerusak), memandangnya dari jauh, percaya deh karya seni bakal puluhan kali lebih asyique kecantikannya. 

Tapi kan bebas yak, mau ada yang menikmati seni dengan liat-liat doang oke; mau yang foto-foto juga, okelah; intinya tergantung preferensi pribadi. Yang penting jangan sentuh, ngerusak, dan mengganggu kenyamanan –plis shay, itu harga karya seni bisa buat naek haji sekecamatan, jan macem-macem.

Belajar Sabar Tingkat Tinggi

Sebagai manusia yang emosian, bekerja sebagai asmus membuat saya untuk belajar jadi manusia baik. Murah senyum, bicara sopan dan halus, serta ganteng. Sebagai museum yang sering jadi ’spot foto asyique’ dan tempat untuk menikmati karya seni kontemporer seniman kelas dunia, jumlah pengunjung Museum MACAN nggak bisa dibilang sedikit –kalo weekend masyaAllah deh ramenya. Dari ratusan sampai ribuan pengunjung, jelas dong karakternya juga ratusan dan ribuan jenisnya. Ada yang sabar dan ramah, ada yang sewot plus jutek, ada yang jutek tapi sabar, ada yang sewot tapi ramah, ~eh.

Intinya attitude pengunjung nggak bisa digeneralisasi lewat tampilan, status sosial, dan hape apa yang dia pegang. Mau merek Evercoss kalau emang penyabar dan penyayang, ya tetap bakal begitu. Mau pakai iPhone X pake case bling-bling kalau sewot ya sewot aja. Intinya, karena karakter ribuan pengunjung nggak bisa diprediksi dan nggak mungkin juga cepat beradaptasi dengan peraturan MACAN, ya para asmus-lah yang menyesuaikan diri. Inget, harus senyum, ramah, dan baique.

Benefit Lumayan

Last but not least, pasti teman-teman penasaran dengan benefit apa saja yang diberikan oleh Museum MACAN sebagai ‘bayaran’ bagi tenaga asmus.

Pertama, uang saku. Jelas dong, alih-alih memberi nama volunteer atau relawan yang berbau-bau gratisan, Museum MACAN lebih suka menamai karyawan tidak tetapnya dengan nama “Asisten Museum” yang artinya pasti ada benefit berupa duit – I love duit.

Rinciannya sendiri, benefit duit ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu berupa uang makan dan uang transportasi –untuk yang pengin tau nominalnya, bisa hubungi saya hehe (nggak enak ngomongin duit di sini). Sistem pembayarannya untuk saat ini, dihitung berdasarkan shift kerja –1 hari kerja terdapat 2 shift— yang diambil hingga tanggal 24 setiap bulan, serta pembayaran gaji akan dilakukan di awal bulan selanjutnya. Kalau rajin dan banyak waktu luang, benefit yang diberikan Museum MACAN worth it kok.

Selain itu, terdapat benefit lain yang menjadi amunisi kerja, yaitu seragam berupa kaos bertuliskan “Ask Me”, pin, dan nametag.

Itu pin sama nametag penting banget emang yak?”

Pin dan nametag akan berfungsi sebagai tiket gratis bagi teman-teman asmus saat tidak sedang mengambil shift kerja. Contohnya, jadwal kerja saya adalah hari Sabtu dan Minggu. Apabila saya ingin mengunjungi Museum MACAN sebagai visitor di hari-hari biasa (weekdays), tinggal bawa pin dan nametag, urusan selesai; masuk Museum gratis.. tis.. tis.


Kaos dan pin Asisten Museum MACAN



Hmmm...

Intinya, saya senang bisa berada di bagian orang-orang yang mengapresiasi karya orang lain. Misi Museum MACAN untuk memberikan edukasi seni kepada masyarakat luas itu cucok banget. Contohnya, dateng ke museum nggak sekedar foto tapi juga belajar menghargai karya lewat mata; tahu aturan-aturan yang ada dan nggak ngeyel kalau diingetin; pokoknya hal-hal baik yang masih asing dari perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Though it might take a long time to make it happen, saya tetep percaya misi itu bisa kecapai, dan saya bisa berbangga karena menjadi salah satu bagian dari perubahan baik tersebut. Cie~

Dibuang sayang 1

Dibuang sayang 2



No comments:

Post a Comment

< > Home
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.