Anang Filya : Hidup Itu Mengalir atau Direncanain? #TIDAKBERFAEDAH

Wednesday, August 8, 2018

Hidup Itu Mengalir atau Direncanain? #TIDAKBERFAEDAH


Sejak awal saya mulai berpikir tentang masa depan –kira-kira saat masa-masa memasuki SMK, saya terdoktrinasi oleh petuah-petuah motivator bahwa hidup dan masa depan itu harus terencana dengan baik atau istilah kerennya well-planned future.

Namun di sisi lain, I'm not the one who set the ambition to the highest level. Rencana yang saya susun, kalau kesampaian alhamdulillah, kalo nggak, ya paling sedih sebentar abis itu mikir lagi.

Mengapa saya jadi seseorang yang berprinsip seperti itu?

Mungkin ini penyebabnya...

Saya lahir di keluarga yang kadang ada duit, kadang nggak (keseringan nggaknya) nggak mau dibilang misqueen. Mulai dari masuk sekolah mana, TK-SD-SMP, saya cuma punya satu sekolah pilihan; sekolah-sekolah yang letaknya dekat dari rumah. Padahal dulu, guru-guru SD merekomendasikan saya untuk masuk SMP favorit berkat nilai rapor dan ujian nasional yang cukup oke dikala itu  tertinggi nomor 2 se-sekolahan, sombong nggak aqu?

Selain itu, saya nggak punya power yang cukup untuk membela diri. Toh, saya sadar kalau saya nggak mau memberatkan orang tua. Biaya sekolah dekat rumah yang nggak bagus-bagus amat aja sudah cukup berat, kok ini mau sok daftar di sekolah favorit, bergengsi, dan sebagian besar diisi anak-anak orang kaya.

Akhirnya, pola pikir saya mengikuti orang tua "sekolah di mana aja, kalo pinter mah pinter aja. Pilih yang deket biar nggak ngabisin ongkos, bisa naik sepedah". Hal tersebut membuat saya ogah untuk mengikuti teman-teman pintar dan cukup berduit yang berlomba-lomba masuk ke sekolah favorit.

Tapi saya bingung...

Pemikiran saya yang anti ambisius tingkat tinggi kadang membuat saya agak ciut. Hal tersebut berkat seringnya saya mendengar kalimat-kalimat dari motivator, 

"Orang sukses itu merencanakan masa depannya dengan baik dan melakukan yang terbaik" menghantui saya.

Lah tapi, saya orangnya kan nggak ambisius, jadi nggak mau juga terlalu merencanakan masa depan yang begini-begitu. Apa intinya saya nggak bakal sukses?


Amit-amit ya Allah...


Saat saya menginjak usia belasan, orang tua saya sudah mulai mengerti bahwa anaknya ini sudah mampu berpikir sendiri dan di sisi lain mereka sadar bahwa mereka bukan orang yang berpendidikan tinggi, nggak ngerti jurusan mana yang bagus buat anak. Sehingga saat saya lulus dari SMP, saya dibebaskan untuk memilih SMA/SMK semaunya. Memang sih mereka masih saja merekomendasikan SMA Negeri dekat rumah –yang cukup bagus– tapi saya kan cowok, pengen dong sekolah agak jauh biar punya pengalaman lebih.

Ketika saya memilih jurusan Teknik Komputer dan Jaringan pun, orang tua nggak komentar banyak. Saya senang mereka mulai percaya sama saya. Bahkan saya lumayan terharu saat Mamak mengorbankan duit warisan dari Nenek untuk membelikan saya laptop guna keperluan sekolah. Nangis~

Orang tua sudah memberikan kebebasan saya berpikir, saya juga sudah mulai bisa berencana saya mau kemana, namun anehnya saya nggak punya ambisi yang menggebu-gebu terhadap apa yang saya suka dan saya bisa. Contohnya momen sesaat setelah ujian nasional.

Saya melihat teman-teman se-SMK sibuk mengurusi pendaftaran perguruan tinggi favorit  sebagian besar Universitas Negeri. Sedangkan saya, setelah tahu lolos beasiswa di Universitas swasta di Jakarta Barat yang infonya dari kakak tingkat, saya udah nggak minat untuk ikut SBMPTN. Sudah daftar, dapat nomor ujian, namun di hari-H nggak jadi berangkat. Males~

Bahkan beberapa teman saya yang juga ikutan daftar beasiswa yang sama dan keterima, masih ngeyel untuk ikutan SBMPTN, karena katanya "yang penting negeri". Saya balik lagi, ah yang penting orangnya hehe.

Tapiiiii sebenernya, mahalnya ini itu di Jakarta itu bikin  saya dan orang tua parno plus ragu buat ambil beasiswa.  Penghasilan ortu yang nggak seberapa dan nggak jelas, bikin orang tua saya kepalang pusing bukan main –ini anak gue mo makan apaan di Jakarta.

Sekali lagi, saya nggak mau bikin orang tua kesulitan gegara saya ngeyel kuliah di Jakarta. Tapi, saya juga ogah nggak kuliah –kalo mau kerja, mo kerja apaan gue, nyisirin pala berbie?


Realita oh realita

Jadinya, saya tetep ambil beasiswa di Jakarta –kapan lagi coy ngerasain idup di kota gede– walaupun dengan rasa ketar-ketir. Harapnya, saya harus bisa kuliah nyambi kerja, terus di Jakarta bisa ikut audisi Indonesian Idol dkk. Terus terkenal.

What Indonesian Idol?

He'em... Selama bertahun-tahun sejak SD hanya bisa melihat Indonesian Idol dkk di layar televisi, berpikir bahwa mungkin ajang pencarian bakat tersebut kemungkinan adalah jalan saya menjadi seorang musisi. Ikut audisi idol-idolan adalah cita-cita saya sedari kecil.

Sayangnya, harapan yang sudah saya rencanakan bertahun-tahun; menunggu waktu memberi kesempatan, dan ketika kesempatan datang, ternyata keberhasilan bukan punya saya.

Ketika saya punya rencana yang sejak lama diimpikan, bertahun-tahun mikirin, eh mental dalam kurun waktu sehari audisi.

Emang nggak punya rencana lain? Satu rencana gagal aja udah kecewa, cemen!

Jadi musisi adalah cita-cita terfokus saya pada awalnya. Bisa dibilang selain jadi musisi dulu saya bingung mau jadi apa. Tapi saya juga nggak usaha abis-abisan buat menggapainya, pemikirannya cuma ikut idol itu doang. Ya hasilnya begitu.

Sekarang gimana?

Saat ini saya masih jadi orang yang sama. Bukan berarti karena saya gagal terkenal ikut Indonesian Idol, terus saya merasa kalau berencana itu sia-sia, bukan. Tapi lebih kepada satu prinsip yang rasa-rasanya memang sudah pas untuk diri ini.

Banyak hal baik datang tanpa terduga dan terencana. Saya nggak pernah kepikiran dan merencanakan untuk bisa kuliah, apalagi hidup di Jakarta, ditambah dapet beasiswa. Nggak, saya nggak pernah nyangka.

Saya nggak pernah nyangka dan merencanakan bisa jadi salah satu bagian dibalik iklan-iklan TV yang dulu saya benci setengah mati itu–ngeganggu nonton sinetron . Nggak kepikiran untuk bakalan seneng ngeblog. Nggak, saya nggak kepikiran.

Tapi, saya juga nggak akan berhenti untuk berencana. Walau untuk kali ini, orientasinya adalah masa sekarang. Tidak akan ngoyo untuk sesuatu yang belum pasti di depan. Sebab saya percaya, apa yang saya perbuat saat ini, baik atau buruk, akan berdampak di masa yang akan datang. Hidup adalah sebuah sistem sirkuler.



No comments:

Post a Comment

< > Home
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.