Anang Filya : The Complexity of Human Default

Thursday, August 2, 2018

The Complexity of Human Default


Sumber: Instagram @anangfilya

Semalam, setelah menonton satu episode Breaking Bad di situs layanan video streaming 'Netflix', saya bersama satu-satunya sahabat gendut sejak SMK –sebut saja namanya Aziz, ngobrolin banyak hal tentang hidup. Mulai dari skala prioritas, uang, kebahagiaan, dan yang paling ngena adalah ketika ngobrolin tentang kerumitan settingan default emosi manusia. Yup, We were little bit philosophical that night.

Aziz (dan juga saya) berpikir bahwa ada orang-orang yang lahir dimuka bumi cuma buat ngeramein doang, dan itu banyak. Mereka yang lahir hanya untuk memikirkan diri sendiri, tidak menghargai orang lain, dan berpikir bahwa eksistensinya dalam hidup adalah yang paling penting dibandingkan yang lain adalah orang-orang yang kami maksud.

Sedangkan kami? Kami hanya berharap –serta mengklaim secara sepihak–  nggak masuk ke dalam golongan orang-orang tersebut.

Saya pribadi, sebenarnya selalu bertanya-tanya akan hal tersebut. Apakah saya lebih baik daripada orang-orang yang saya tidak suka tersebut? Atau malah sebenarnya, saya adalah salah satu bagian dari golongan tim hore bumi?

Ya, bahkan saya nggak tahu di mana letak diri saya sendiri dari golongan yang saya buat, miris!

Namun, cerita Aziz yang saat ini sedang sibuk menjadi driver ojol menyadarkan saya akan satu hal. Simak dulu ceritanya.


Cerita dimulai...

Saat itu, Aziz sedang beroperasi di sekitaran Taman Anggrek –salah satu mall gede di Jakarta Barat– mendapati notifikasi di ponselnya bahwa ada order masuk. Ia terima orderan tersebut dan dengan sigap berhenti sejenak untuk memencet template pesan "I'll be there in few minutes"  di layar aplikasi.

Nah, karena si Aziz ini sering kurang teliti, tanpa membaca lokasi penjemputan secara seksama, ia langsung bertanya ke penumpang yang saat itu wanita via fitur chat.

Aziz: "Halo mbak, lokasi penjemputan, di mana ya?"
Cust: "Hah?" (agak jutek)
Aziz: "Maksud saya, titik pasnya mbak, pintu sebelah mana?"
Cust: "Kan itu ada mas di detail lokasi, saya di Metro Taman Anggrek"
Aziz: "Oh iya mbak, siap saya menuju ke sana"
Cust: "Kamu pake jaket kan? Nomor plat sesuai kan?"
Aziz: "Iya mbak"

Kemudian sampailah Aziz di titik penjemputan. Dengan rona wajah tersenyum khas dirinya, Aziz menyapa penumpangnya "Maaf Mbak kalau tadi saya nggak teliti", namun yang ia dapat hanya balasan berupa pandangan mata yang seakan memberikan arti "halah bodo amat".

Di sini Aziz mulai berpikir bahwa penumpangnya yang satu ini adalah salah satu golongan orang-orang tukang ngeramein bumi karena kejutekannya. Namun dikarenakan Aziz merupakan anak kuliahan jurusan Public Relation, ia tertantang untuk mencairkan suasana dengan memberikan beberapa pertanyaan dengan nada suara ramah khas dirinya.


"Weekend-nya gimana Mbak seru kah?", saat itu hari Sabtu.
"Ini jalan ke rumah atau kost mbak?"
"bla-bla-bla-bla"

Di pertanyaan-pertanyaan awal, si Mbaknya masih jutek; jawab seadanya. Namun berkat kegigihan Aziz yang tetap ramah sampai pertanyaan-pertanyaan ketiga dan keempat, si Mbaknya mungkin berpikir "Ini Abang Grab udah dijutekin kok masih aja ramah banget sih, keknya gue salah deh jutekin dia tadi".

Obrolan ringan mengakrabkan pun terjadi. Aziz merasa dirinya berhasil meluluhkan hati si Mbak tukang ngeramein bumi ini. Setidaknya dia tahu, dia nggak akan dapat bintang kecil di rating aplikasi ojolnya.

Hingga saat mereka sampai di tempat tujuan, Aziz kembali meminta maaf dan mengucapkan terimakasih.

Aziz: "Terimakasih ya Mbak, maaf tadi saya kurang teliti baca tujuannya"

Cust"Oh Mas nggak apa-apa kok, oh ya ini mas ada lebihan buat mas", si Mbak membalas

Aziz: "Tapi kan Mbak udah pake Grabpay"

Cust: "Udah nggak apa-apa, saya masuk dulu ya mas, terimakasih"

Saya Sadar...

Dari cerita sederhana dari Aziz di atas saya sadar bahwa saya terlalu sering menggeneralisasi sesuatu; menarik kesimpulan secara umum dari gabungan pengalaman pribadi. Apa yang saya pikirkan tentang manusia-manusia tukang ngeramein bumi; golongan yang saya pikir ada tersebut sebenarnya hanya pengklasifikasian otak akan sesuatu yang saya nggak suka.

Saya memang nggak suka sama manusia-manusia yang nggak bisa menempatkan diri, jutek setiap saat sama orang lain, karena saya selalu berpikir "Apa susahnya sih berlaku baik". Saya berpendapat, orang lain harusnya juga berpikiran seperti halnya saya punya pemikiran. Namun kembali lagi, itu adalah kesalahan logika karena saya nggak bisa memaksakan orang lain untuk jadi seperti saya.

Sekarang, saya hanya perlu berperilaku seperti apa yang saya inginkan dan saya ingin membiarkan orang lain berperilaku sesuai diri mereka, sesuai pemikirannya. Saya nggak bisa menetapkan mana yang paling baik dan mana yang paling benar, bias antara dua hal tersebut menetapkan diri saya untuk teguh dengan apa yang saya yakini, dan harapnya orang lain bisa mencontoh tanpa keharusan.







No comments:

Post a Comment

< > Home
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.