Anang Filya : Saya Berubah, Apakah Ini Salah Jakarta? #TIDAKBERFAEDAH

Sunday, November 4, 2018

Saya Berubah, Apakah Ini Salah Jakarta? #TIDAKBERFAEDAH



Tiga tahun yang lalu, ketika saya memutuskan untuk kuliah di Jakarta, tidak pernah terpikir bahwa nilai-nilai  yang ada dalam diri saya sebagai anak muda yang lahir dari kampung akan berubah. Saya pikir proteksi yang ada dalam diri saya sudah cukup kuat. 

"Gue punya pendirian kok! Pergaulan Jakarta mah nggak bakal ngaruh"

Saya tahu, bahwa nilai-nilai yang saya bawa dari kampung saya pikir akan terus menerus melekat dalam diri saya –karena hal tersebutlah yang saya inginkan. Input-input dari luar semacam budaya dan pergaulan ekstrim anak jekardah tidak akan mempengaruhi nilai-nilai yang sudah terlebih dahulu lama tinggal di diri saya ini.

Saya jadi ingat saat salah satu adik kelas semasa SMK yang saya rekomendasikan untuk masuk ke perguruan tinggi di mana saya belajar sekarang via jalur beasiswa. Sebagai seorang individu yang sangat awam terhadap kota besar semacam Jakarta, ia jelas bertanya kepada yang saya sudah punya sedikit pengalaman. Mulai dari pertanyaan umum seperti:

"Kak, makanan di Jakarta mahal nggak?"
"Sebulan habis berapa?"
"Kosan ada yang murah nggak"

Hingga pertanyaan yang bikin saya jadi mikir "Ni anak apaan sih", seperti:

"Pergaulan di Jakarta gimana kak? Saya takut terjerumus soalnya"

Untuk pertanyaan terakhir, jelas saya menjawab dengan amat pede "Yah, itumah tergantung orang. Emang nggak kayak di Metro (Lampung) orang kebanyakan begitu-begitu, kalo di sini yang mabok-mabok an ada, yang nakal ada, tapi yang baik juga banyak, ada organisasi dakwah kampus semacam ROHIS di SMK. Itumah tergantung kitanya aja, percaya, begituan mah nggak ngaruh".

Saya paham kenapa adik kelas saya bertanya hal tersebut. Sebagai anak yang sangat aktif di kegiatan ekstrakurikuler ROHIS (Rohani Islam) di SMK –tidak seperti saya yang males-malesan– dia memang terkenal alim, pinter ngaji, dan segalanya yang baik-baik. Lingkungan adalah salah satu yang terpenting agar karakter baiknya dan nilai-nilai Islam yang kuat bisa selalu lestari di dalam dirinya. 

Dan pada keputusan final, adik kelas saya tersebut menolak untuk melanjutkan pendidikannya di Jakarta, padahal dia sudah lolos tahap final beasiswa. Alasannya bukan karena biaya hidup mahal atau yang lain, tapi karena "takut pergaulannya".

Dari situ, jiwa sok pede saya sebagai manusia biasa yang nyinyirnya luar baisa berkomentar,"yaelah, itumah tergantung pendirian orangnya! pergaulan Jakarta mah nggak ngaruh". Lagi dan lagi.

Lingkaran Pertemanan

Tiga setengah tahun saya sudah menginjakkan kaki di Jakarta, suka tidak suka, di sinilah saya sekarang. Kepedean saya bahwa saya akan tetap jadi 'Anang yang dulu' masih ada. Apalagi saya dikelilingi oleh orang-orang yang jauh dari hal-hal yang bisa membuat ibu saya bilang "Nakal banget kamu sekarang".

Mau apa? Teman-teman saya sebagian besar adalah ukhti-ukhti baik hati yang akhlak terpujinya saja bisa nampak dari jarak ratusan meter. Saya juga tidak pernah ikut mabu-mabu –boro-boro mabuk, minum Marimas dua gelas aja radang tenggorokan, tidak pernah icip-icip rokok. Intinya tidak pernah melakukan hal-hal yang menjadi simbol anak nakal secara eksplisit. 

Jadi intinya, saya masih baik-baik aja dong ya? Pergaulan Jakarta tidak ada pengaruhnya dong kalau gitu.

Ternyata enggak...

Saya sekarang sadar, perubahan nilai-nilai yang ada dalam diri saya ini bukan hanya sebatas hal-hal simbolik anak nakal seperti, tidak merokok, tidak mabu-mabu, atau tidak dugem-dugem. Namun lebih kepada bagaimana sekarang saya memandang dunia dan cara saya berperilaku.

Apabila dihitung sejak saya lahir hingga lulus Sekolah Menengah Kejuruan –18 tahun saya hidup, selama periode itu, tidak lebih dari 10 kali saya berkata kasar. Suer deh! Bahkan untuk sekedar ngomong "Cuk!" yang biasanya menjadi kata pengganti panggilan akrab ke teman.

Selama periode waktu tersebut, saya berpikir "Emang apa untungnya sih ngomong kasar".

Hingga akhirnya saya menginjakkan kaki di Jakarta, telinga saya yang masih bersih ini terkejut akan kata imbuhan anak-anak Jekardah saat mereka berbicara. Bikin sakit telinga.

Setiap kalimat seringkali diimbuhi "Njing! Tot! Bege! Jir!" dan imbuhan-imbuhan lain yang dulunya bikin saya sakit telinga.

Eh tapi sekarang, saya jadi bagian dari budaya tersebut.

Pada awalnya, saya menggunakan bahasa-bahasa tersebut hanya sebagai bahan candaan dengan beberapa teman dan lama kelamaan malah menjadi sebuah kebiasaan. Duh, miris!

Tidak berhenti sampai situ, dulu saya adalah orang yang anti akan hal-hal yang identik dengan simbol nakal. Pokoknya persepsi saya "duh, ngapain sih ngerokok, minum-minum, dugem, kek ada manfaatnya, cuma ngabisin duit doang ". Untuk dicatat, hal tersebut berlaku untuk diri saya sendiri, bukan untuk menghakimi orang lain.

Eh tapi eh tapi, makin ke sini, saya malah punya pemikiran lain. Dari yang dulunya anti, sekarang jadi "yah, sekali-kali nyoba boleh kali ya suatu saat nanti".

Mulai dari hal tersebut saya merasa ada sesuatu yang bergeser dari diri saya. Nilai-nilai yang dulu saya punya lama kelamaan menjadi pudar, lama-lama menjadi hal yang gampang untuk dikesampingkan.

Namun saya tahu ini bukan salah Jakarta, ini jelas salah saya sendiri. Apabila saya dulu bisa yakin akan proteksi diri, dan saat ini proteksi diri saya itu mulai lemah, bukan salah dari Jakarta, tapi salah dari faktor internal di mana intinya saya terlalu pede akan proteksi diri.

Jujur, saya tidak tahu bagaimana untuk kembali, karena saya juga tidak tahu bagaimana ini dimulai. Namun sekarang saya tahu, mengapa dulu adik kelas saya kekeh banget bertanya akan hal-hal yang dulu saya anggap tidak penting. Dan saya juga tahu, mengapa Ibu saya selalu menyelipkan kalimat "hati-hati yo le" di setiap akhir pembicaraan telepon.




No comments:

Post a Comment

Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.