This Is A Reality #Portfolio 1.5

Saturday, February 2, 2019

This Is A Reality #Portfolio 1.5


Kira-kira 9 bulan yang lalu, saya mendapat sebuah pesan whatsApp dari senior copywriter di kantor saya magang dulu, 

Nang, buru bikin porto buat besok dikirim ke bos, mau jadi junior copy ga lo?”.

Saya bingung,
Saya panik,
Lha mau gimana?

Saya nggak punya banyak kerjaan yang membanggakan untuk dipajang sebagai ‘portfolio’. Hasil kerja saya kebanyakan juga berasal dari kantor magang tersebut. Itu pun nggak seberapa.

Akhirnya dengan sangat terburu-buru, saya bisa menyusun #Portfolio 1.0 : Every Little Thing That Precious. Dan gara-gara portfolio yang agak ngasal dan bantuan senior saya tersebut, alhamdulillah sekarang saya sudah bekerja sebagai copywriter selama tujuh bulan.

Tujuh bulan bukan waktu yang lama bagi sebuah pengalaman kerja, namun juga bukan waktu yang sedikit untuk saya bisa belajar banyak hal.

Dan di portofolio 1.5 ini, saya bakal kembali melakukan satu hal yang sejujurnya paling malas untuk saya lakukan; membangga-banggakan diri sendiri aku takut dosya.

Eh.. Nang, tapi kok judulnya portfolio 1.5? Bukan portfolio 2.0?

Suka-suka saya lah… Saya yang bikin...

Ehehe… nggak deng….

Kenapa 1.5, karena portfolio ini istilahnya adalah minor update dari portfolio tahun lalu. 
Portfolio 1.5 ini adalah rangkuman dari banyaknya hal penting saya pelajari saat masuk ke dunia nyata creative agency sebagai copywriter. Semoga saja tidak membosankan, jadi yuk kita mulai aja ceritanya…

First Pitching

Baru masuk sebagai karyawan kantoran selama 5 hari, tiba-tiba creative group head memberikan perintah untuk saya menjadi bagian dari tim yang mengikuti pitching brand gypsum yang katanya nomor satu di Indonesia, Jayaboard.

Creative Group Head:Nang… bantuin pitching Jayaboard yah, bikin yah kira-kira 3 alternatif cerita minimal, oh ya… buat Senin besok yah, jadi weekend dipikirin

Mantulll…

Seorang copywritercimi-cimi’ langsung disuruh bikin 3 ide storyline. 

Brief-nya jelas, Jayaboard ini sudah menjadi pemimpin pasar gypsum dan plafon selama 25 tahun di Indonesia. Nah, kali ini mereka pengin bikin TVC dan video digital macem iklan Thailand yang objektifnya memberi tahu masyarakat Indonesia dari yang jelata kayak saya– sampai kaya raya yang nggak kayak saya  bahwa Jayaboard ini ada di antara kita selama 25 tahun; menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat Indonesia. Begityu~

Akhirnya, saya merelakan Sabtu dan Minggu untuk berpikir. Tapi cara berpikir saya nggak serius-serius amat kok, karena saya mikir sambil nonton kartun favorit, Spongebob Squarepants. Dan ternyata, dari Spongebob saya bisa dapet ide!

Masih ingat episode Mr. Krab diinterogasi oleh Spongebob dan Squidward karena disangka sebagai robot? 

Di episode tersebut, benda-benda mati seperti blender, radio dan pemanggang roti dijadikan sandera oleh Spongebob agar Mr. Krab mau ngaku kalau dia adalah robot. Spongebob mikir kalau Mr. Krab adalah robot, berarti dia temenannya sama blender dan pemanggang roti.

Nah, dari episode tersebut, saya dapet kata kunci “benda mati jadi sandera”, akhirnya otak saya yang imut ini mencocokologikan dengan Jayaboard, di mana  Jayaboard adalah gypsum dan plafon yang menjadi saksi bisu kehidupan manusia.

Tuh, sama-sama benda mati yang dijadiin saksi. Nah, akhirnya saya mulai menulis storyline yang idenya adalah tentang Jayaboard yang mampu merekam kenangan, di mana kemampuan tersebut menjadikan Jayaboard saksi dalam sebuah kasus kehilangan seorang Nenek. Begini bentuk storyline + moodboard-nya…




Alhamdulillah-nya dengan cerita tersebut, tim kami menang pitching dan project Jayaboard ini telah selesai digarap, dan juga sudah diunggah di saluran YouTube Jayaboard itu sendiri. Monggo di cek.





ASIAN GAMES YAHUD

Asian Games 2018 membawa buanyak sekali kejutan bagi masyarakat Indonesia; termasuk saya. Dan sebagai copywriter yang bekerja di agensi iklan dengan dua client official prestige partner Asian Games 2018, jelas bikin kerjaan semakin yahud dan nampol.



Masih dalam ingatan, saat 17 Agustus seharusnya saya sebagai anak muda yang cinta Indonesia ikut upacara pengibaran bendera di SD-SD terdekat, eh malah berangkat ke kantor untuk menyelesaikan materi-materi promosi BANK BRI di Asian Games 2018. Mulai dari print ad, sticker gedung, sampai poster-poster dan flyer promosi.



Yah, hitung-hitung saya jadi unofficial crew of Asian Games 2018.


Aku Cinta Ibu Part #1

Sudah 3 tahun Lotte Choco Pie bekerja sama dengan kantor saya sekarang untuk menggalakkan campaign hari ibu. Intinya, Lotte Choco Pie pengin bikin brand-nya sebagai ikon hari ibu. Ingat Lotte Choco Pie, ingat hari ibu. Mirip-mirip kalo ingat bulan Ramadan, ingat Marjan.

Maka dari itu, setiap tahun saat mendekati hari ibu, tim kreatif kantor saya selalu sibuk untuk menyiapkan konsep video digital tahunan Lotte Choco Pie.

Dan untuk video digital tersebut, saya ikut jadi bagian sejak tahun 2017 saat saya magang dulu.

Tahap pertama dari pembuatan video ini adalah mendengarkan insight-insight dari para manusia-manusia pintar bertitel strategic planner.

Mereka dapat insight kalau Ibu-ibu zaman sekarang itu seringkali insecure, merasa khawatir nggak jadi ibu yang sempurna buat anaknya karena sibuk lah, karena merasa kurang ilmu lah, pokoknya macem-macem. Hal tersebut bisa jadi terjadi karena paparan ibu-ibu gaul sosmed macem Nia Ramadhani yang nampaknya hidupnya sangat sempurna sebagai ibu gaul yang syibuq tapi tetap sayang anak.

Nah, tahun ini planner mengusulkan ke client untuk mengangkat ke-insecure-an Ibu tersebut di video digital yang syarat ceritanya harus touchy tapi tetap happy dan terasa premiumnya.

Duh, mana saya susah banget relate sama yang premium-premium lagi.

Akhirnya, berangkat dari insight tadi, otak saya kembali bekerja keras. Berpikir tentang bagaimana kebiasaan ibu-ibu kaya dan premium kalau merasa insecure. 

Selama seminggu full, sehabis jam kantor, saya bersama kedua teman art director duduk di ruangan meeting untuk menajamkan 3 ide cerita dari saya. Biasanya kami selesai jam 1 malam.  Eh tapi alhamdulillah, satu cerita diterima tanpa revisi. Mantul~

Cerita yang dipilih adalah tentang seorang ibu yang merasa dirinya sangat kurang ilmu untuk mendidik anak, makanya dia selalu bawa dan baca buku yang judulnya “How to be a perfect mom” yang isinya tentang beragam tutorial untuk jadi ibu yang sempurna untuk anak, mulai dari cara bikin susu yang sempurna, cara pakein baju anak yang sempurna, cara main perosotan yang sempurna, pokoknya semua hal remeh temeh yang harus sempurna. Pokoknya cerita ini menggunakan sentuhan exaggeration atau dilebay-lebayin gitude, biar lebih menarik katanya~

Semua prosesnya asyik dan menyenangkan, walaupun output yang saya harapkan agak berbeda dengan eksekusi director. Tapi saya tetap senang bisa menjadi bagian dari project ini. Berikut saya berikan moodboard bikinan saya plus hasil jadi videonya yang sudah digarap oleh director sebagai perbandingan.


Moodboard




Lotte Choco Pie - Mother's Day Special Video



Aku Cinta Ibu Part #2

Bagian aku cinta ibu berlanjut dengan project dadakan Lotte Choco Pie yang kepengin bikin brand page untuk menjelaskan value-value mereka. 

Berawal dari satu pagi yang sangat indah, tiba-tiba seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai account executive mendatangi meja kerja saya.

AE: "Eh, Nang... bantuin bikin copy buat brand page Lotte Choco Pie dong, buat besok."

Untungnya, pada pekerjaan ini saya hanya me-retouch dari apa yang sudah dikerjakan oleh agensi digital sebelumnya. Dan tanpa sepengetahuan saya, ternyata brand page Lotte Choco Pie sudah mejeng di https://lottechocopieindonesia.com/brand-page sejak pertengahan november tahun lalu.



Ikutan Award Tapi Nggak Menang

Sebagai anak muda, jiwa-jiwa imut untuk jadi pemenang jelas berkobar membara dan untungnya kantor mau memfasilitasi saya dan satu rekan saya untuk mengikuti ajang Daun Muda Citra Pariwara 2018.

Hasilnya?

Gagal dong... 

Tapi, saya dan rekan saya nggak menyerah sampai situ. Saat mengikuti seminar Kompas Briefing Day di rangkaian Citra Pariwara 2018, mereka memberikan informasi tentang adanya kompetisi untuk membuat ide campaign bagi Kompas agar lebih relevan terhadap kalangan muda.

Dengan niatan agar melatih otak berpikir kreatif, saya dan teman saya mendaftar secara mandiri kompetisi Kompas Briefing Day. Alhamdulillah kami masuk sebagai finalist walaupun tetap nggak jadi pemenangnya. Berikut adalah file presentasi yang kami buat.



Hmmm...

Penutup Portfolio 1.5 ini nggak bakal beda jauh dari portfolio tahun kemarin. Hidup ini adalah proses dan akan selalu begitu. Saya bersyukur bisa masuk ke dalam realita dunia kreatif yang amat sangat menyenangkan dan menegangkan.

Semoga saja, Tuhan yang maha baik masih akan memberikan saya keberuntungan untuk bisa terus belajar di tempat baru dan memberikan saya semangat lebih untuk terus bisa berkarya dan lebih-lebih bisa berguna untuk orang lain. Dan semoga juga, apa yang saya tulis nggak lantas bikin saya jadi keliatan sombong, soalnya saya takut jadi orang sombong. Kan katanya kesombongan sebesar biji sawi aja bisa bikin kita nggak masuk surga. Padahal, saya aja nggak tahu bentuknya itu biji sawi kayak gimana.


No comments:

Post a Comment

< > Home
Anang Filya © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.